Tepat pada tahun 570 M, dan umat Islam menyebutnya bulan Rabiul Awal, Nabi Muhammad SAW. dilahirkan di kota Mekah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia. Umat Islam menyambutnya dengan penuh bahagia dan suka cita. Karena beliau merupakan anugerah dan nikmat yang paling agung yang dianugerahkan oleh Allah SWT. kepada umat manusia. Beliau tidak hanya menjadi rahmat dan keberkahan bagi suatu kaum dan suatu zaman, melainkan untuk seluruh kaum dan semua zaman.

Maka tidak berlebihan, ketika umat Islam menyambut bulan kelahiran beliau dengan beragam perayaan yang sangat mewah dan spektakuler. Di setiap masjid, mushalla, dan bahkan di rumah-rumah masyarakat diselenggarakan perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. Umat Islam berkumpul dalam satu majelis sebagai ekspresi kebahagiaan atas kelahiran beliau.

Sebagaimana kita mafhum, bahwa momen kelahiran Nabi Muhammad SAW. ini masyhur dengan “amul fil” (tahun gajah). Dimana, di saat momen kelahiran beliau, tentara bergajah, pimpinan Raja Habsyah datang mengepung kota Mekah. Mereka hendak menghancurkan Ka’bah dan menaklukkan kota Mekkah.

Namun, niat jahat mereka gagal total, karena tiba-tiba datang pasukan burung (Ababil) yang entah dari mana datangnya, tak seorang pun mengetahuinya. Umat Islam meyakinanya, bahwa ia merupakan tentara yang dikirim oleh yang Maha Kuasa untuk melindungi Kota Mekah dari kedzaliman dan penindasan Raja Habsyah yang tiran itu.

Menurut riwayat yang shahih dan sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surat al-fiil, bahwa burung-burung Ababil tersebut melempari mereka batu-batu yang diambil dari neraka (Sijjil), sehingga mereka hancur lebur, sebagaimana dedaunan yang dimakan ulat, bahkan lebih parah dari itu.

Peristiwa tersebut bukanlah peristiwa biasa sebagaimana lazim terjadi dalam sebuah peperangan dan pertempuran, melainkan peristiwa luar biasa dan di luar nalar manusia. Saya memahaminya, bahwa lahirnya Nabi Muhammad SAW. yang berbarengan dengan peristiwa tersebut, merupakan simbol dan pertanda akan lahirnya perlawanan atas segala bentuk kedzaliman dan kediktatoran di muka bumi ini.

Kelahiran beliau merupakan “pembebasan” umat manusia dari tuhan-tuhan yang membelenggu (Nur Khalish Madjid: 1995). tuhan-tuhan yang membelenggu itu bisa berupa apapun, bisa kekuasaan, manusia dan benda-benda yang dianggap keramat dan sakral. Agar umat manusia menjadi manusia seutuhnya, yang bebas dan merdeka dari segala bentuk penindasan dan kediktatoran.

Sebagaimana lazim diketahui, bahwa masyarakat Mekah kala itu benar-benar berada dalam masa kegelapan. Masa, dimana segala bentuk kejahatan dan kebiadaban merajalela. Dehumanisasi marak terjadi yang berupa pengeksploitasian manusia atas manusia lainnya. Orang-orang miskin nan fakir ditindas. Para perempuannya tak ubahnya komoditas yang bisa dengan gampangnya diperdagangkan. Anak-anak perempuan lumrah dibunuh hidup-hidup karena diyakininya sebagai pembawa aib bagi keluarganya. Perang antar suku dan kabilah acap kali terjadi dan tak terhindarkan (.

Maka kelahiran Nabi Muhammad SAW. ini, sebagaimana saya katakan di atas, tiada lain, kecuali merupakan tauladan bagi kaum papa, hamba sahaya dan komunitas tertindas berhadapan dengan para konglomerat, elit Quraisy dan gembong-gembongnya dalam perjuangan menegakkan masyarakat yang bebas, penuh kasih, persaudaraan dan egaliter (Hassan Hanafi, Islam kiri: Antara Modernisme dan Posmodernisme, Yogyakarta: LKiS, 2011).

Nabi Muhammad SAW. telah mampu mengupayakan dan meraih kebebasan untuk umatnya itu, dalam jangka waktu yang sesingkat-singkatnya. Maka tidak heran, ketika Michael H. Hart memilih beliau dalam urutan pertama dari seratus tokoh paling berpengaruh di dunia dalam sejarah umat manusia, dalam bukunya “100 Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah”.

Menurut dia, keputusannya memilih beliau dalam urutan pertama dari seratus tokoh paling berpengaruh, karena keyakinannya, bahwa Nabi Muhammad SAW. merupakan satu-satunya manusia yang berhasil meraih sukses-sukses yang luar biasa, baik ditilik dari ruang lingkup agama maupun duniawi.

Yang harus kita tangkap dari sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW. oleh masyarkat milenial ini adalah semangat pembebasan yang diperjuangkannya. Semangat pembebasan yang mencita-citakan keadilan, baik sosial maupun ekonomi, kesejahteraan dan egalitarianisme diantara sesama umat manusia. Karena, disadari ataupun tidak, masyarakat kita dewasa ini jauh panggang dari kata adil, sejahtera, juga egaliter.

Maka momen perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. tahun ini, seyogyanya tidak hanya menjadi ajang memamirkan kemewahan yang bersifat eksoterik itu, tetapi harus mampu mengejawantahkan semangat pembesan yang kita tangkap dari sirah nabawiyah ke dalam kehidupan nyata masyarkat kita.

Dimana, masyarakat kita masih acap kali bergelanyut dengan ketidak adilan dan kediktatoran para penguasa dan pengusaha yang cenderung suka mengeksploitasi dan mendzalimi masyarakatnya dengan tak berprikemanusiaan. Bukan hanya itu, kejahiliahan dan penindasan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain, masih menjadi potret buram negeri ini.

Merupakan tugas kita bersama, baik pemerintah maupun masyarakat secara sinergitas mewujudkan kebebasan itu. Yaitu kebebasan yang dicita-citakan oleh Nabi Muhammad SAW. Tiada lain jalan yang harus ditempuh, kecuali perlawanan secara terus menerus atas sistem yang membelenggu dan menindas. Juga melawan kejahiliahan itu dengan meyebarkan ilmu pengetahuan melalui pendidikan yang merata dan tidak diskriminatif.

Jika hal itu mampu kita lakukan bersama, maka perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. ini tidak hanya menjadi perayaan yang bersifat legal-formal dan sia-sia. Tetapi menjadi perayan maulid  yang benar-benar membebaskan.