Pesona Ayunda Faza Maudya alias Maudy Ayunda memang sungguh berat untuk disangkal. Pertama-tama, dari segi fisik, lihatlah parasnya itu. Presisi betul. 

Gadis yang akhirnya memilih kuliah S2 di Stanford University ketimbang Harvard University itu memiliki mahkota berupa dua gigi kelinci yang indah, mata yang cerlang, hidung yang mancungnya pas, dagu yang lancip, serta rambut yang tampak subur dan sehat. Betul-betul bikin mata tak ingin berkedip memandangnya. 

Belum lagi kalau doi senyum dan ngomong, hmm, suara dan mimiknya bikin termehek-mehek.

Itu baru bagian kepala. Dipandang secara wide-angle, keindahan Maudy tampak lebih komplet. Tinggi dan ukuran badannya ideal untuk ukuran model perempuan; leher yang tak terlalu jenjang, lengan yang kurus dan tidak bergelambir (ingat, banyak perempuan kurus, tetapi lengannya bergoyang-goyang kayak lengan lembu saking besarnya).

Pinggang yang ramping, bokong dan paha yang cukup berisi, plus perut yang datar dan tak berlemak. Yang terakhir ini sering dipamerkannya di Instagram selepas berolahraga.

Itu baru fisik. Secara intelektual, pesona Maudy juga bikin kita klepek-klepek—sekaligus bikin banyak orang Indonesia ciut. 

Setelah lulus sarjana PPE (Politics, Philosophy, and Economics) dari Oxford University tahun 2016, doi kemudian keterima di dua kampus mentereng, Stanford dan Harvard. 

Doi yang sempat galau saat harus memilih satu di antara dua kampus Ivy League tersebut, membuat netizen ikut-ikutan galau memikirkan mutu dan level diri dalam kehidupan mereka. Netizen merasa gurem saat membandingkan diri dengan Maudy. 

Tak cuma itu, belakangan Maudy disebut-sebut dianggap biang kemunculan spanduk “Mohon Senang Ada Ujian” di sebuah sekolah yang viral di media sosial lantaran saat wawancara bersama Najwa Shihab doi mengaku demikian.

So, dengan bobot Maudy yang demikian, saya kira hanya orang-orang syirik yang tak mau mengakui pesonanya. Contohnya mantan saya. Ya, ini kisah nyata. 

Mantan saya, dulu, tak pernah cemburu kalau saya memuji-muji cewek lain yang jelas-jelas nyata dan dia kenal orangnya. Tetapi, begitu saya membahas Maudy, bukan hanya merajuk, dia akan mengamuk. 

Bahkan jujur, salah satu faktor kami putus waktu itu, ya, bisa dibilang gara-gara kegandrungan saya kepada Maudy Ayunda. Semoga saja pacar saya sekarang tidak demikian.

Kalau dihitung-hitung, sejak muncul di film Sang Pemimpi tahun 2009, berarti sudah 10 tahun saya menjadi pengagum doi. Ya, mirip-mirip falling in love with people we can’t have.

Pendeknya, seandainya ada mazhab pemuja Raisa atau mazhab pecinta Dian Sastro, maka mazhab penyembah Maudy Ayunda juga harus ada. Saya sendiri yakin, jumlah penganut mazhab ini terus bertambah seiring jumlah umat dua mazhab yang disebutkan di awal stagnan atau terus berkurang. 

Kenapa? Karena jelas, Maudy Ayunda masih muda (masih 24 tahun) dan diyakini akan terus meroket dengan citranya sebagai perempuan well-educated dan cerdas. Dan yang paling penting, belum ada janur kuning melengkung di depan rumah doi--yang kalau sampai itu terjadi, dipercaya bakal menerbitkan Indonesia Patah Hati jilid II.

Tetapi...

Ya, seperti kata pepatah: tak ada gading yang tak retak. Tak ada yang sempurna dalam hidup ini. Demikian juga sang Maudy Ayunda. 

Selain kentutnya yang pasti bau, terutama kalau belum boker, doi juga punya sisi yang menyebalkan, yakni caranya berbahasa. Ini setidaknya bagi saya sebagai penggemar beratnya. Bukan saya sendiri, ding, Uda Ivan Lanin dan polisi-polisi bahasa di luar sana saya kira juga pasti akan sebal melihat bahasa Maudy.

Maudy punya kebiasaan mengoplos bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, kebiasaan yang mungkin terbentuk dari lingkungan sekolah dan tempat tinggalnya. Ia tak jauh beda dengan artis kebanyakan, yang kerap menggunakan bahasa gado-gado. Ia persis Cinta Laura, hanya saja dengan aksen yang berbeda.

Sayangnya, kebiasaan buruk itu bukan cuma saat doi bicara, tapi juga ketika menulis. Tengok saja beberapa caption di postingan Instagram-nya. Benar-benar menyebalkan. Gara-gara itu, iman saya sebagai pemujanya jadi goyah. 

Contohnya pada postingan-nya untuk iklan sebuah produk sampo hari Minggu (24/3/2019) kemarin. Di situ doi menulis: “Pernah ngga ngerasa your hair looks perfect just after a shower, tapi pas keluar rumah malah awut-awutan?...”

Semula, lantaran saya kagum padanya, saya ingin berbaik sangka dengan menganggap bahwa caption itu mungkin sudah disediakan oleh si produsen sampo yang bersangkutan, dan doi tinggal mem-post saja. 

Tapi, karena saya tahu betul bagaimana doi saat bicara, saya tak bisa menampik bahwa itu benar-benar tulisannya. Persis seperti gayanya bicara. Apalagi, bukan sekali itu saja doi menulis dengan mencampuradukkan bahasa seperti demikian.

Saudara seiman penyembah Maudy yang membaca tulisan ini mungkin akan marah dan bilang, “Halah, gitu doank nggak usah diributin!” atau, “Artis mah emang gitu bahasanya, nggak usah kaku banget jadi orang!”

Atau, seorang penggemar konservatif Maudy mungkin akan bilang, “Situ murtad saja sana, nggak usah memuja-muja Maudy Ayunda lagi kalau nggak suka dengan bahasanya!”

Sabar, sabar dulu, Bro dan Sis sekalian. Dalam beriman, eh dalam memuja seorang idola maksud saya, kita tidak boleh mengagumi mentah-mentah sosoknya. Kita juga perlu bersikap kritis. 

Kita perlu pakai akal sehat, seperti kata Bung Rocky Gerung. Apalagi ini kan termasuk kritik yang membangun. Bapak Presiden Jokowi saja sangat berharap bisa mendapat kritik yang membangun, masa kalian tidak mau pujaan kalian diberi kritik yang membangun?

Lagi pula, justru karena pelecehan bahasa ini menyangkut Maudy Ayunda-lah saya jadi sewot. Kalau artis-artis lain mah, selama ini saya cuek-cuek saja.

Sebab, yang jadi persoalan, Maudy Ayunda bukanlah artis kaleng-kaleng. Doi begitu dikagumi jutaan orang. Apalagi doi sekarang sedang gencar mencitrakan diri sebagai sosok intelektual nan cerdas. Tentunya, kritik semacam ini saya pikir tidak berlebihan bila dialamatkan kepada doi.

Orang-orang mungkin akan bisa maklum jika pengoplosan bahasa yang gemar doi lakukan itu sebatas saat bicara, tapi tidak demikian dengan saat menulis. Di dalam menulis, ada jeda waktu untuk berpikir yang bisa doi manfaatkan untuk tertib dalam berbahasa.

Saya paham, saya sendiri menuliskan artikel ini juga banyak mencampuradukkan bahasa. Tapi, perlu Anda tahu, ini sengaja saya lakukan sebagai bentuk sindiran. Siapa tahu entar dibaca sama Dik Maudy, lalu doi insaf, lalu doi akan menggunakan bahasa dengan baik, dan kemudian dicontoh oleh para penggemarnya. Kan, lumayan? 

Setidaknya saya sudah memberikan masukan yang baik buat doi sebagai figur publik. Saya sudah membukakan jalan bagi doi untuk “hijrah”.

Saya juga paham, mungkin doi menulis dengan bahasa campur aduk demikian karena sadar bahwa medium tempat doi menulis tidak menuntutnya untuk menulis dengan baik dan benar. Apalagi cuma sekadar medsos, yang hampir semua penghuninya adalah orang-orang yang tak melek (baca: peduli) bahasa, dan karenanya untuk apa repot-repot nulis dengan baik.

Tapi, sekali lagi, ini adalah perkara citra doi yang senantiasa tampak sering membanggakan diri sebagai perempuan berpendidikan tinggi dan lulusan kampus bergengsi pula, alih-alih sebagai artis ataupun penyanyi. Ya, poinnya di situ.

Paling tidak, dengan menerima kritik saya ini, Maudy bisa menepis anggapan orang-orang yang bilang kalau lulusan Oxford sebenarnya tidak ada bedanya dengan lulusan kampus lain di dunia; yang membedakan adalah individunya, bukan kampusnya. Sebab sejatinya, lulus dari kampus ternama kelas dunia itu berat risikonya, terutama bila tak pernah sekalipun menerbitkan artikel di media-media massa terkenal.

Maudy boleh saja berdalih, “Saya tidak tertarik menulis di media massa, saya biasanya menulis di jurnal ilmiah”, seperti kebanyakan akademisi pada umumnya jika disinggung soal itu.

Tapi, ingat, orang sinis akan menggumam, “Tidak tertarik atau tidak mampu nulis nih?”

Jadi, Dik Maudy, jangan tambahi bebanmu dengan membangkitkan kecurigaan kaum sinis karena melihatmu menulis dengan bahasa campur aduk begitu. Oke?