Filsuf
2 tahun lalu · 7759 view · 5 menit baca · Agama dawkins.jpg
Foto: pbs.twimg.com

Mau Menjadi Orang Baik? Jangan Terlalu Serius dalam Beragama!

“Yes, yes, there are indeed good Chatolics—and good Muslims—all over the world,” kata tokoh Ateisme Baru, Richard Dawkins. Mereka adalah, kata Dawkins, “ones who don’t take their religion seriously.” Orang-orang beragama yang baik, menurut Dawkins, adalah orang-orang Katolik dan Muslim—dan saya kira pemeluk agama pada umumnya— yang tidak serius dalam beragama.

Pernyataan Dawkins tersebut mungkin menjengkelkan bagi kebanyakan umat beragama. Secara tidak langsung, Dawkins ingin mengatakan bahwa agama adalah sesuatu yang jahat, sehingga umat beragama yang serius dalam beragama akan menjadi orang yang jahat. Saya, dan saya kira semua ateis, setuju dengan pernyataan Dawkins tentang agama.

Kenapa begitu? Pertanyaan ini akan terjawab dengan menengok sejenak kritik dari tradisi Nietzschean terhadap “pemikiran yang serius” dan bagaimana kekerasan adalah konsekuensi yang tak terhindarkan dari sebuah “pemikiran yang serius”. Sebuah kritik, dalam wawasan tradisi Nietzschean, bertugas “mempermainkan” keseriusan tersebut.

Kehendak untuk Benar

Dalam wawasan tradisi Nietzschean, khususnya yang dikembangkan oleh Martin Hedegger dan Jacques Derrida, kita harus selalu curiga terhadap segala rupa pemikiran yang "serius". Pemikiran "serius" adalah pemikiran yang terobsesi dengan "kebenaran" dengan mengasumsikan adanya suatu fondasi yang kokoh bagi pengetahuan (knowledge), sehingga kebenaran dan kesalahan seolah-olah bisa kita bedakan secara—dalam istilah Descartes—"clear and distinct".

Kehendak untuk benar (will to truth) membentuk watak pengetahuan yang bercorak metafisik. Suatu pengetahuan bisa menjelaskan kenyataan secara benar jika ia bertolak dari sebuah sumber kebenaran yang kokoh pada dirinya-sendiri. “Tuhan”, “kesadaran”, “rasio”, dan “fakta”, misalnya, adalah contoh konsep-konsep fondasional yang, dalam pengamatan Nietzsche, memberikan watak metafisik dalam sejarah pemikiran Barat. 

Kehendak untuk benar adalah hal yang manusiawi. Menurut Nietzsche, kehendak untuk benar adalah manifestasi dari kehendak untuk kuasa (will to power), sebuah naluri yang mendorong manusia, dan bahkan organisme sederhana seperti amuba, untuk bertahan dan mengembangkan diri. Dengan mengklaimkan suatu kebenaran, manusia sebetulnya tengah membangun supremasi bagi eksistensinya atas dunia di mana dia tinggal.

Hanya saja, orang lupa bahwa kebenaran yang ia klaim itu adalah manifestasi dari kehendak untuk kuasa. Kepercayaan pada adanya fondasi yang kokoh bagi pengetahuan membuat manusia menganggap kenyataan dapat dijelaskan sebagaimana adanya. Padahal, Nietzsche menegaskan, seluruh fondasi pengetahuan adalah antropomorfisme, hasil rekaan manusia sendiri, citra yang terbentuk dari kerja nalar yang bersifat retorikal.

Nietzsche menolak logika sebagai aparatus nalar dalam mengenal kenyataan. Bagi Nietzsche, logika—yang dieksplisitkan oleh Aristoteles dalam tiga hukum identitas—adalah sejenis retorika, yang bekerja dengan mekanisme “penyamaan atas hal-hal yang berbeda”. Dengan logika, orang mengklasifikasi entitas-entitas dan memberinya identitas, “nama panggil” (nick-name).

Proses identifikasi tak lain dari kerja retorikal yang mana sebuah entitas diberikan sebuah nama panggil yang bukanlah nama diri dari entitas tersebut (proper name). Karena logika itu sendiri adalah sebuah retorika, setiap konsep yang lahir dari penalaran logis sejak awal adalah sebuah metafor. Argumentasi ini menjadi titik tolak Nietzsche untuk memberikan status metaforis bagi konsep-konsep tentang kebenaran yang lahir dari proses penalaran.

Kebenaran Agama dan Hierarki Kekerasan

Untuk mendukung suatu klaim kebenaran, manusia, menurut Nietzsche, menyusun hierarki atas hal-hal yang pada mulanya setara. Fondasionalisme dalam pengetahuan adalah pengingkaran atas sifat metaforis kebenaran. Para kreator pengetahuan melegitimasi klaim kebenaran dengan menciptakan suatu metafor induk, metafor yang diingkari sifatnya sebagai metafor, yang diasumsikan menjadi sumber bagi metafor-metafor lain.

Agama, misalnya, sebagai pengetahuan paling purba, mengidap “keseriusan” yang kronis dalam memburu kebenaran. Saking terobsesi dengan kebenaran, agama mempostulatkan begitu saja adanya suatu entitas yang eksis sebagai sumber bagi kebenaran. Entitas itu bisa memiliki beragam nama panggil sebanyak bahasa manusia, tapi secara umum ia disebut "Tuhan".

Demikian dalam imajinasi kaum agamawan, “Tuhan” adalah proper name yang merepresentasikan suatu entitas sumber. Agamawan mengingkari sifat metaforis dari konsep “Tuhan”, yaitu bahwa kata ini, “Tuhan”, adalah nama bagi sebuah citra yang terbentuk dari kerja retorikal nalar atas hal-hal yang dipersepsi secara inderawi, dan bahwa citra tersebut tidak pernah membuktikan apapun tentang eksistensi dari suatu entitas sumber.

Berangkat dari asumsi yang keliru tentang Tuhan sebagai entitas sumber, agama menarik garis demarkasi yang tegas bukan hanya antara apa yang Ada dan Tiada, tetapi juga antara benar dan salah dalam epistemologi, dan antara baik dan jahat dalam moralitas. Tuhan adalah sumber kenyataan, kebenaran, dan kebaikan.

Menurut saya, klaim agama seperti ini bukan saja menggelikan, tetapi juga mengerikan. Menggelikan, karena orang (agamawan) bisa merumuskan benar/salah dengan berpijak pada suatu sumber yang eksistensinya diandaikan begitu saja.

Siapa pun dapat mengklaim "inilah kebenaran menurut sumber kebenaran" tanpa dituntut membuktikan apakah entitas sumber kebenaran itu sungguh ada dan apakah yang dikehendaki sumber kebenaran—jika sumber kebenaran itu sungguh ada.

Juga mengerikan karena agama, sebagai pengetahuan dengan pendasaran spekulatif, memicu kekerasan praktis yang merupakan konsekuensi langsung dari kekerasan teoretis dalam fondasionalisme-nya yang mengorganisasi kenyataan dalam susunan hierarki entitas-entitas.

Dalam moralitas agama, misalnya, adalah sah menolak kepemimpinan orang kafir, karena secara hierarki orang kafir lebih rendah derajatnya dibandingkan orang beriman menurut “pengetahuan ketuhanan”.

Yang paling mengerikan, karena mengklaim pengetahuannya bersumber dari suatu entitas absolut, agama menjadi ideologi paling totaliter, dalam pengertian merengkuh dimensi apapun dalam kehidupan manusia untuk disesuaikan dengan sistem berpikirnya. Absolutisme ini juga sekaligus menjadikan agama sebagai ideologi yang kebal kritik atas dukungan orang-orang bebal yang “membelanya” secara membabi buta.

Sedikit Catatan

Sampai di sini, kita dapat memahami kenapa Dawkins mengatakan bahwa pemeluk agama yang baik adalah para pemeluk agama yang tidak serius dalam beragama. Agama, seperti ditunjukkan dalam kritik Nietzschean, mengandung kekerasan yang tidak bersifat kebetulan, tetapi secara esensial melekat pada bangunan teoretisnya yang mengorganisasikan realitas dalam susunan hierarki.

Meski demikian, saya merasa perlu memberikan sedikit catatan bahwa sistem pemikiran apapun berpotensi menjadi sumber kejahatan manakala memiliki watak yang sama dengan agama. Artinya, pernyataan Dawkins berlaku juga bagi kalangan ateis.

Ateis juga perlu “mempermainkan” keseriusan dalam berateisme sehingga dapat menjadi ateis yang baik. Caranya ialah dengan memperlakukan Tuhan sebagai hipotesis, sehingga terbuka kemungkinan bahwa Tuhan sebagai pencipta sebagaimana diyakini kalangan agamawan sungguh-sungguh ada sebagai sebuah entitas faktual.

Barang kali Tuhan adalah entitas alien purba yang bersinggasana di galaksi lain, atau di semesta lain yang tidak terjangkau oleh teknologi observasi antariksa sekarang. Atau mungkin juga, seperti dikisahkan film Jupiter Ascending, Tuhan alien itu menciptakan bumi sebagai tempat bermain dan kawasan peternakan, di mana manusia dikembangbiakkan untuk dimainkan demi kesenangan atau sebagai binatang ternak yang dikonsumsi untuk keabadian-Nya.

OMG! Sepertinya saya terlalu serius “mempermainkan” keseriusan ini. Agar tidak semakin serius, saya tutup tulisan ini sehingga saya bisa menjadi ateis yang baik. Semoga.