Banyak peristiwa yang telah dialami selama kita lahir sampai kita berada di tempat kita sekarang ini. Dinamika hidup itu naik turun, kadang di atas, kadang di bawah, kadang datang, dan kadang pergi. Tanpa kita sadari, kita telah melalui semua peristiwa tersebut. Pelajari banyak hal, dari hal yang kecil hingga besar. 

Banyak rasa yang dilalui, cemas, marah, sedih, senang, susah, lelah, bahagia, semua perasaan ini dirasakan. Kita dulu tidak terima, kita yang awalnya kecewa dan marah dengan apa yang terjadi pada kita, entah itu kehilangan, kerusakan, atau harus merelakan. 

Sebagai contoh, ketika kita masih kecil kita menangis karena mainan diambil oleh teman atau saudara, kita menangis karena tidak menerimanya dan disitulah terletak kekecewaan kemarahan, itu terjadi ketika kita tidak mengerti bagaimana situasi dan cara menyikapinya. 

Seorang anak kecil belum bisa mengerti apa yang diinginkannya dan masih tidak mau menerima hal buruk terjadi padanya, padahal dunia tidak selalu baik-baik saja. Masih wajar karena anak kecil pada dasarnya masih belajar dan belum tahu apa yang diinginkannya dan apa maunya. Jadi, jika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginannya, dia akan kecewa, marah, dan menangis. 

Perbedaannya saat kita mulai beranjak dewasa kita telah mengalami banyak peristiwa, kita belajar dari yang terkecil hingga yang terbesar. Sedikit demi sedikit kita mulai bisa memahami perasaan kita, memahami situasi yang sedang terjadi dan bagaimana kita harus bersikap. 

Contoh kecilnya adalah ketika kita terpeleset dan jatuh dari sepeda motor, gelas atau piring pecah, jika kita tidak bisa menerima keadaan buruk yang menimpa kita, pasti kita akan kecewa dan marah berlebihan, padahal itu memang sudah garisnya hal itu terjadi dan mungkin bisa lebih berhati-hati di kemudian hari.

Dari pengalaman pribadi, aku setuju sih sama kata-kata yang bunyinya begini “setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya” dan satu lagi begini " ada ngga ada, datang pergi, datang hilang, itu adalah hal biasa jadi biasakan diri saja ". 

Aku rasa itulah kata-kata yang sangat membekas di kepalaku dan membuatku belajar banyak hal. Mulai bisa menerima apa-apa yang terjadi pada hidupku yang awalnya marah, sedih, kecewa berlebihan, aku bisa lebih menerima. 

Pada dasarnya tidak ada yang abadi semua itu datang dan pergi silih berganti. Apabila kita punya barang atau ada orang baru datang, kita harus siap untuk kehilangan dan jangan menggenggam terlalu erat supaya ketika sewaktu-waktu lepas tidak terlalu sakit.

Setiap proses pendewasaan sebenarnya memiliki serangkaian tantangannya masing-masing. Setiap orang memiliki persoalan dan problem-nya sendiri, tetapi tentu saja berbeda cara menyikapinya. 

Mulai sekarang belajar dari peristiwa yang lalu agar kita bisa semakin mengenali diri kita dan mampu bersikap sebagaimana mestinya kemudian bisa menerima apapun yang terjadi pada diri kita. 

Sebelumnya, sulit untuk menghadapi situasi berat, tetapi seiring bertambahnya usia dan banyak belajar, sekarang bisa lebih mengerti bahwa memang situasinya berat, namun kita pasti bisa mengatasi dan melaluinya.

Menurut teori Stoic, kita tidak dapat memilih kapan dan masalah apa yang muncul, tetapi kita dapat memilih reaksi kita terhadap masalah tersebut. 

Mulai sekarang harus jujur pada diri sendiri atas perasaan sedih, marah, kecewa. Kita sadari penuh dan kemudian kita mampu harus bersikap seperti apa, mampu mengontrol diri kita supaya tidak berlebihan, menguasai diri agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan. 

Mau menerima apa-apa yang terjadi pada diri adalah privilege supaya hidup diliputi penerimaan dan keikhlasan untuk tidak terpuruk terlalu lama dan jatuh terlalu dalam.

Jika terjadi sesuatu dan kita bisa menerimanya, tentu kita tidak akan mengatakan " seandainya begini begini begini pasti tidak begini begini begini ". Sebuah pengandaian yang tidak akan mengubah apa-apa. 

Menerima apa yang terjadi pada kita, baik atau buruk, dengan penuh penerimaan menjadikannya pembelajaran dan tidak menyalahkan keadaan karena kita percaya bahwa itu sudah takdir Tuhan. Jika kita mampu bersikap ikhlas terhadap apa-apa yang terjadi pada diri kita, pasti perasaan sedih itu tidak terlalu dalam seperti sebelum-sebelumnya.

Tidak dilarang untuk marah, kecewa, atau sedih di sini. Marah, kecewa, dan sedih adalah hal yang wajar. Menangislah apabila tangismu bisa meredakanmu, tetapi tulisan ini dibuat supaya kalian bisa mengontrol diri dan tidak berlarut-larut dalam kekecewaan atau kesedihan. 

Mau menerima atas apa-apa yang terjadi pada diri kita dan bisa bersikap legowo adalah privilege. Kontrol emosi, ubah persepsi, yang awalnya kita sangat kecewa perlahan bisa menerimanya bahwa situasi atau kondisi tersebut merupakan garis Tuhan untuk kita supaya belajar.

Selalu melakukan yang terbaik dan bersiap untuk yang terburuk. Sambut yang datang dan relakan yang hilang. Genggam apabila mampu, tapi jangan paksa bila merasa berat semua akan membebani diri dan pikiran kita sendiri. 

Hidup tidak hanya tentang apa mau kita, memahami situasi, mengekspresikan emosi secukupnya, lebih tenang dari sebelumnya, dan menerima semuanya.

Situasi memang tidak bisa dalam kendali tapi kita bisa melakukan kontrol diri. Terimakasih sudah membaca tulisan ini semoga hari-hari kalian diliputi rasa bahagia dan penuh penerimaan atas apa-apa yang terjadi.