Aku berusaha keliling dunia hanya untuk keluar dari diriku sendiri, tapi tak bisa. Memaksa kehendak untuk menerima semua kenyataan tentang hidup yang penuh kebangsatan juga hanya membuatku berakhir tragis.

Andai perempuan tak pernah dilahirkan atau lelaki sepertiku tak harus menjadi sepasang, mungkin kehilangan dan kegalauan serta hal-hal memilukan lainnya tak pernah mendera hati lelaki sepertiku.

Berusaha menerima semua sebagai kewajaran adalah kepura-puraan. Sebab tak ada lelaki yang benar-benar tulus kehilangan, juga tak ada perempuan yang benar-benar lapang dan mampu menerima disakiti berkali-kali.

Tiba pada perjalanan panjang seorang penyamun yang bingung memikirkan sendiri nasibnya. Hingga suatu ketika aku ketemu dengan sosok perempuan yang menaklukkan siapapun yang menyaksikannya, aku pikirnya demikian.

Sebut saja Yuu. Nama tersebut merupakan hasil dari terjemahan perasaanku menyederhanakan semua jadi bagian dari cinta.

Jujur, aku telah lama mengenal perempuan ini. Perempuan yang aku saksikan setiap pagi berangkat sekolah, dan aku rela tak melakukan apa-apa hingga siang, hanya duduk di teras rumah untuk menantinya pulang sekolah dan menatapnya tanpa ketahuan.

Itu berlangsung setiap hari, kecuali hari ahad sebab ia libur, selama dua bulan aku melakukannya, tanpa ia sadari.

Belakangan aku menemukan kontak dan akses untuk komunikasi dengannya, di mana saat itu aku tak lagi menetap di tempat itu, melainkan aku kembali ke kampung untuk berkumpul dengan keluarga.

Walau ingatan menetap dan menjadi legenda dengan kenangannya sendiri di sana.

Selama beberapa waktu aku dengan dia begitu jauh secara fisik bahkan dalam sebuah kenyataan, seperti benua Eropa dengan Afrika yang dipisahkan oleh laut Mediternia.

Menjadi kesedihan dibalut penasaran akibat khawatirnya seorang lelaki yang bernasib payah, mencintai sendirian, dalam diamnya yang lebam.

Bayangkan saja, bagaimana bahagianya hati ini akibat menemukan kontak perempuan yang diidamkan. Tetapi sayang sejuta sayang, hal itu tidak menjawab harapan yang kian mendendam.

Nyaris setiap saat aku menghubungi tetapi tidak mendapatkan jawaban, setiap sapaanku terbalas pengabaian.

Namun, bukan lelaki bila cepat puas, apalagi putus asa. Dan itu salah satu wasiat orang tuaku, baginya lelaki harus tangguh dan optimis terhadap apa yang diimpikannya.

Aku terus memulai, tanpa kenal lelah apalagi berhenti. Hingga waktu membawaku pada situasi yang perlahan membuatku mulai lupa. Ternyata waktu bukan hanya merenggut ketampanan dan kecantikan manusia, tetapi juga merenggut ingatan.

Hinga terus berjalan, hidup semakin menantang, mendewasakan dan menyenangkan, sesekali mengerikan. Lalu aku kembali dengan aktivitas rutin, bertualang dan liburan, serta diskusi bersama teman-teman mahasiswa.

Memulai pagi dengan semangat ala anak muda pada umumnya, aku menuju tempat di mana teman-teman mahasiswa selalu berkumpul minum kopi dan berdiskusi.

Tanpa sengaja, aku singgah beli paket data internet. Aku bertemu dengan perempuan yang begitu akrab di ingatanku, ia duduk santai di depan toko penjual paket data internet, aku bungkam sembari menundukkan pandangan.

Ia tersenyum lugas, tetapi aku tak berani menyapanya, sebab lelaki gagah dengan postur tubuh lebih tinggi dariku tegak di sampingnya. Dan aku pastikan lelaki tersebut adalah pacarnya.

Sehingga aku melakukan transaksi dengan kasir dengan tetap berusaha tampil santai, walau hati ini berkecamuk ingin segera kabur, mengingat perempuan yang didambakan telah dimiliki lelaki lain.

Aku haru kuat, aku harus melupakan semuanya dan kembali seperti biasa. Sesampai di kedai kopi aku ketemu dengan teman-teman, berbicara seperti biasanya hingga kembali melupakan semua yang menyesakkan di hati.

Mengisi hari-hari biasa dengan santai, seolah tidak ada beban. Demikianlah aku mencoba mengelabui ekspresi lingkungan yang kejam. Namun, sekitar 2 tahun berlalu setelah pertemuanku dengan perempuan itu. Aku kembali membuka laptop, seperti biasa mengotak-atik sosial media, mengamati beragam informasi yang tersaji.

Tanpa sengaja aku menemukan foto yang tiba-tiba mengingatkanku pada kejadian 2 tahun silam, iya benar, Yuu. Aku menemukan akun media sosialnya lagi, entah kebetulan atau memang ini sudah menjadi rencana Tuhan, yang pasti aku kembali memberanikan diri menyapanya.

Tanpa aku sadari, betapa terkejutnya diri ini melihat sapaanku terbalas begitu cepat. Aku langsung meminta nomor telepon, ia pun langsung mengirimkan. Aku berpikir dalam hati, “Mimpi apa aku ini”.

Hingga kami langsung komunikasi secara intens. Bahkan aku tak segan-segan mengingatkannya pada masa lalu, dan gembiranya diri ini sebab ia masih ingat. Bahkan ia begitu antusias memintaku menceritakan bagaimana giatnya aku berusaha menemukannya di masa lalu.

Berangkat dari komunikasi yang terus berlanjut, hingga membuat kami tanpa sadar sudah saling akrab. “Aku menyayangimu, maukah engkau jadi kekasihku Yuu?” tanyaku seraya deg-degan berharap dibalas cepat.

“Ketika kau betul menyayangiku, iya aku menerima tawaranmu” jawabnya membuatku seolah terbang walau tanpa sayap.

Kami semakin akrab dan merasa benar-benar saling cinta. Hingga aku mengajaknya minum kopi, ia pun datang menemuiku. Kami bercerita banyak hal sembari menikmati kopi.

Kedekatan kami mengisahkan banyak cerita, aku menampungnya untuk sebuah naskah yang kelak bisa tetap utuh dalam sebuah hikayat yang penuh cinta.