“Wah! Enak ya punya anak yang sekolah di perguruan tinggi, bisa jadi orang kaya nantinya.” 

Begitulah komentar orang-orang di kampung saya tentang mereka yang menuntut ilmu, lebih-lebih jika menuntut ilmu sampai di jenjang kuliah. Saya rasa, mungkin hal serupa tak hanya terjadi di kampung saya saja. Barangkali, di belahan tempat lain ada yang sepemahaman dengan mereka soal orang-orang yang menuntut ilmu.

Tentu saja saya sangat risih ketika mereka memahami kalau mencari ilmu dianggap sebagai alat yang bakal membukakan pintu perekonomian yang lancar dan maju baginya. 

Yang disayangkan, secara tidak langsung, masyarakat sekitar saya hanya memahami bahwa tujuan menuntut ilmu agar menjadikan kantong perekonomian makin tebal, bukan untuk menjadikan otak makin berisi dengan pengetahuan, dan tentu makin dewasa dalam bertindak. 

Anekdot-anekdot yang menggambarkan tentang orang sekolah agar menjadi orang pintar tampaknya tak lagi berlaku di kampung saya. Yang berlaku ialah sebaliknya, orang sekolah agar mereka kaya. Bisa jadi, pemahaman mereka yang keliru soal penuntut ilmu disebabkan oleh mereka yang dulunya menghabiskan masa mudanya untuk mencari ilmu, lalu di saat dewasa ia bisa hidup mapan dan bergelimang harta. 

Namun, di sisi lain, kita tak bisa menutup mata bahwa tak sedikit pula orang-orang yang menahun bercumbu dengan buku-buku sekolah, namun hidupnya biasa-biasa saja, tak menjadi kaya, sebagaimana yang digambarkan orang-orang tadi. 

Dari sini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa mencari ilmu bukan barometer seseorang menjadi kaya. Dan ini masuk akal, sebab tujuan mencari ilmu adalah untuk menghapus kebodohan. Kalau mau kaya, maka cukup dengan bekerja, tak perlu belajar. 

Tak sampai di situ, ketika seorang mahasiswa selesai kuliah lalu pulang kampung, dan menjadi pengangguran, maka akan menjadi ‘sasaran empuk’ buat para tentangga dalam aksi gosipnya. Pastinya, akan ada salah seorang yang nyeletuk begini, “Sekolah tinggi-tinggi, sampai ngehabisin harta orang tua, eh ujung-ujungnya jadi pengangguran.” 

Dasar materialis, hanya harta yang dipikirkan! Otak yang bodong justru dibiarkan. 

Maka, saya sarankan, buat kamu yang mengalami hal serupa, tak perlu malu. Kamu tak perlu ngumpet di rumah sampai berbulan-bulan hanya karena malu menjadi pengangguran setelah sarjana. Kamu hanya perlu tabah dan sabar menghadapi manusia-manusia materialis itu, yang hanya memikirkan harta semata. 

Sejatinya mencari ilmu tak ada habisnya. Bahkan Rasulullah pernah bersabda dalam salah satu hadisnya, “Carilah ilmu sejak dari buaian sampai ke liang lahat.” Artinya, selama masih ditakdirkan menjadi manusia, selama itu pula mencari ilmu adalah kegiatan positif yang tak boleh kita tinggalkan. 

Sebenarnya keberadaan orang berilmu di sebuah masyarakat sangatlah menguntungkan. Dengan adanya orang berilmu, seperti berilmu dalam bidang agama, misalnya, maka ia bisa menjadi petunjuk buat mereka yang buta terhadap agama, minimal bisa menjadi guru ngaji buat mereka yang tak bisa mengaji dan seterusnya. Bermanfaat sekali, bukan?

Dari contoh lain, anggap saja Si A adalah satu-satunya sarjana kedokteran di kampungnya, lalu tiba-tiba ada orang sakit di kampungnya. Kebetulan orang sakit itu adalah orang yang kurang mampu; keluarganya tak mampu membawanya ke rumah sakit. 

Lalu datanglah Si A itu ke rumahnya dengan memberi obat dan anjuran-anjurannya. Di keesokan harinya, orang yang sakit itu sembuh berkat si A itu. 

Nah, dari contoh sederhana di atas, kita bisa memahami betapa kebermanfaatan orang berilmu itu sangat dirasakan buat orang sekitar. Artinya, dari ilmu yang ia pelajari, orang lain mendapatkan manfaatnya. Mungkin inilah alasan kenapa Nabi Muhammad mewajibkan umat muslim mencari ilmu, tentu agar mereka menjadi orang pintar, juga menjadi manusia yang bermanfaat buat orang lain.

Sebagai catatan, orang berilmu yang akhirnya menjadi kaya itu bukan kebetulan belaka. Kekayaan yang diraih oleh orang berilmu itu sebagai 'bonus' dari apa yang selama ini diperjuangkan dalam mencari ilmu. Sebab, orang berilmu itu pasti akan dilirik dan dimanfaatkan oleh orang lain. 

Oleh karenanya, tak heran bila kebanyakan orang berilmu itu kaya. Namun, sekali lagi, saya perlu tegaskan, tujuan mencari ilmu adalah untuk mendongkrak kepintaran. Kalaupun nantinya ia kaya, maka kekayaan itu sebagai bonus saja.

Akhir kata, sekadar saran buat para guru, alangkah baiknya jika membuat banner yang besar dengan tulisan yang besar pula lalu dipampang di depan sekolah, agar orang tak salah paham tentang tujuan mencari ilmu, yang bunyinya begini, “Maaf, mencari ilmu bukan untuk kaya; kalau mau kaya, silakan bekerja.”