Suatu siang saya bertemu seorang teman lama yang berasal dari etnis Tionghoa, untuk sekedar makan, setelah lama tidak bertemu . Seperti biasa pertanyaan pertama adalah, kerja di mana sekarang? Jawabannya, “Yah, masih ikut oranglah Yud” Obrolan selanjutnya, ternyata dia sudah menduduki posisi sales director di sebuah perusahaan nasional ternama.

Pada kesempatan yang lain, saya juga bertemu dengan teman lama seorang pribumi. Untuk pertanyaan yang sama, dia menyebut nama sebuah perusahaan yang ternama juga sambil memberikan sebuah kartu nama, lengkap dengan posisi sekarang. 

Di sela-sela pembicaraan dia dengan bangganya berusaha menceritakan berbagai kehebatan aktivitasnya seperti business trip ke mancanegara (yang notabene tidak membayar sendiri), golf, dsb.

Dari dua orang di atas, nampak sekali perbedaan cara memandang suatu profesi. Bagi teman yang pertama, dia melihat posisinya adalah “masih ikut orang” walaupun sudah menduduki posisi direktur. Sedangkan yang kedua, begitu bangga dan berapi-api dengan posisinya sebagai eksekutif. Mengapa ada perbedaan ini?

Pernah saya mengobrol dengan orang tua seorang teman yang juga keturunan Tionghoa Bapak ini adalah pemilik penjahit jas yang sangat terkenal di Surabaya. Menurut dia bagi orang keturunan Tionghoa, menjadi pemilik bisnis sendiri walaupun itu hanya berjualan gorengan, lebih tinggi tingkatnya dibanding seorang eksekutif perusahaan besar.

Belum lama saya juga sempat mengobrol dengan seorang pemilik bengkel AC mobil yang sangat besar di sekitar jalan Fatmawati Jakarta. Dia dulunya berasal dari keluarga miskin. Akhirnya dia bisa bekerja di sebuah perusahaan dan mencapai kehidupan yang mapan.

Sampai suatu ketika ia berpikir utk memulai sebuah usaha. Namun ada keraguan karena dia yang dulunya terbilang hidup susah dan sekarang sudah mencapai kemapanan, apakah harus kembali susah. 

Namun apa kata ibunya, “Kalau kamu ngga berani mendaki gunung, kamu ya akan tetap di bawah terus, namun kalau engkau mendaki gunung, kamu akan mencapai ketinggian. Mungkin kamu bisa terpleset jatuh, namun kamu tetap bisa berpegang pada apapun, apakah akar atau batu”

Nah lihat bagaimana lingkungan atau budaya di keluarga Tionghoa sangat mendorong orang untuk mempunyai usaha sendiri. Bahkan katanya, seorang yang mangkal dengan gerobak rokok itu lebih terhormat dibanding seorang eksekutif yang ada di ruang AC.

Budaya untuk hidup berwirausaha juga kita temui di beberapa suku Indonesia lainnya. Seperti suku Minang, atau penduduk di kota Gresik Jawa Timur. Di Gresik, kita sulit menemukan keluarga yang tidak mempunyai bisnis sendiri. Sekecil apapun bisnisnya

Waktu saya memulai usaha, justru tantangan adalah dari keluarga, dari orang tua. Setelah selama belasan tahu bekerja di perusahaan multinasional dan ijazah S2 di tangan, mereka menganggap memulai bisnis sendiri adalah langkah yang layak disayangkan. Begitupun di saat kita masih dilingkupi dengan teman-teman yang membanggakan posisi sebagai eksekutif. Itu membuat kita akan semakin tertekan.

Di saat awal bisnis, sudah tentu tidak ada fasilitas seperti di sebuah perusahaan yang mapan. Bahkan untuk menggaji karyawan pun harus ekstra hati-hati saat pemasukan masih sangat kecil atau bahkan belum ada. 

Anda mungkin harus merangkap fungsi dari seorang direktur utama, sopir hingga office boy. Saat perjalanan dinas keluar kota pun, Anda harus mencari losmen termurah atau kalau. perlu numpang menginap di rumah saudara berbekal oleh-oleh seadanya.

Bayangkan kalau di saat itu Anda mendengarkan cerita seorang kawan yang menduduki posisi tinggi di sebuah perusahaan mapan. Dia punya fasilitas sekretaris hingga mobil plus sopir. Saat perjalanan dinas dia pasti menginap di hotel bintang lima. Sudah tentu mental Anda akan jatuh, dan mempertanyakan atau bahkan bisa menyesali langkah yang Anda ambil untuk menjadi seorang pengusaha.

Hal sama yang pernah saya alami saat harus menginap di sebuah kota. Saya menginap di sebuah losmen murah yang biasanya dipakai menginap sopir truk atau travel. 

Saat berbaring, pikiran melayang, “Sepuluh tahun yang lalu aku seorang engineer  sebuah perusahaan multinasional, menginap di kota ini di sebuah hotel bintang lima termahal. Kini aku seorang direktur, menginap di losmen yang mungkin termurah di kota yang sama”

Namun bagaimanapun, kebanggaan adalah salah satu faktor pemompa semangat kita. Di saat kita bangga dengan yang kita kerjakan, maka kita akan semakin semangat dan berusaha mengalahkan semua halangan. 

Sebaliknya di saat kita tidak bangga dengan yang kita lakukan, maka itu akan menciutkan semua nyali kita. Dan kebanggaan di setiap lingkungan tidaklah sama. Karena itu kalau ingin mencari sesuatu sebagai pemompa semangat, beradalah di lingkungan yang memang bangga dengan yang kita lakukan.

Karena itu saya bersyukur kalau akhir-akhir ini saya banyak bertemu teman-teman semasa SMA yang sebagian keturunan Tionghoa. Hampir semuanya sekarang mempunyai usaha sendiri, ada yang sudah besar ada juga yang masih kecil. 

Memang tidak perlu takut utk menjalani sebuah usaha sendiri. Di saat mendaki gunung, memang ada kemungkinan terpeleset atau jatuh, tapi Allah tebarkan akar-akar pohon, rumput atau batu untuk kita berpegangan dan terus mendaki.

Berada di lingkungan yang tepat seperti saya sebutkan di atas, kita akan merasa bahwa kebanggaan tidak hanya saat kita menjadi seorang pengusaha hebat dan sukses. Namun menjadi pengusaha itu sudah merupakan sukses. 

Kita tidak hanya mencintai tujuan akhir. Kita juga mencintai prosesnya. Sebuah proses yang pasti tidak lepas dari jatuh bangun. Dan kita akan terhindar dari penghakiman yang menyalahkan mengapa kita memilih jalan menjadi seorang pengusaha