Pada suatu kesempatan dalam kegiatan Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) tingkat pelajar, Kepala Sekolah SMAS Katolik Regina Pacis Bajawa-NTT, Hendrianto E. Ndiwa menjelaskan tentang tiga tipe pemimpin.

Menurut Herdin begitu sapaan manisnya, tipe pemimpin bisa dinilai menggunakan perspektif telur, wortel dan kopi. Dan saya mencoba merangkumnya lebih panjang. Juga menganalisis secara lebih dalam dan luas.

Pertama, telur. Telur mudah pecah. Diketuk sedikit saja, pasti pecah. Ini adalah fakta tak terbantahkan. Pemimpin yang seperti ini akan mudah baper, cepat tersinggung, cepat putus asa, dan bahkan miliki potensi besar untuk bunuh diri jika tantangan mulai menggerogoti hidupnya.

Di pihak lain, ketika telur sudah direbus dalam air panas, sekejab akan berubah jadi keras. Setelah itu telur berubah menjadi keras, dan butuh waktu untuk mengupas kulitnya. Pemimpin seperti ini sangat berbahaya, sebab susah untuk di atur, keras kepala, suka berkelik, tidak jujur dan merasa diri paling hebat.

Kedua, wortel. Wortel itu keras. Apalagi sehabis panen, tampangnya cerah. Mampu menggoda banyak mata yang coba-coba memandangnya. Namun, ketika wortel direbus dalam air panas, semuanya berubah jadi lembek. Gampang remuk dan menjadi bubur wortel.

Pemimpin yang tipe seperti ini, menjadi hebat hanya pada saat dirinya berada pada zona nyaman. Hanya ingin dilayani, pandai memanipulasi, licik dan tak mau melayani. Kalaupun ada keinginan untuk menghadapinya, tak lama berselang pasti mundur, menghindar dan lari tantangan itu sendiri.

Akhirnya terjadilah yang namanya pemimpin yang tak konsisten. Hanya manis di awal, ketika berhadapan dengan hal instan dan menarik, namun akan berlari terbirit-birit jika mulai berhadapan dengan tantangan atau hal-hal pahit lainya.

Ketiga, kopi. Hitam adalah warna yang sudah identik dengan kopi. Entah dicampur dengan air dan gula atau tidak, kopi tetaplah hitam. Pemimpin yang seperti warna kopi adalah pemimpin yang memiliki keaslian identitas.

Dari keaslian identitas, munculah penegasan bahwa pemimpin harus dan selalu menempatkan dirinya di atas dasar kejujuran dan ketidakpalsuan. Seperti kopi. Sekali hitam, tetaplah hitam.

Kopi selain memiliki keaslian, tapi lebih daripada itu, kopi juga memiliki keunggulan tersendiri. Di antaranya, mampu memberi rasa nikmat pada lidah, rasa nyaman saat menulis, berdiskusi atau acara apa pun itu, dan mampu mengharumi ruang apa saja. Terlebih ruang hati bagi para penikmat kopi.

Namun perlu disadari bahwa berbagai kelebihan positif yang ada pada kopi bukan karena kehebatan identitasnya yang hitam pekat itu. Tapi lebih kepada kerelaan untuk membiarkan hitamnya itu untuk diolah dan mau bekerja sama dengan air dan gula. Hasilnya pun akan memberi kenikmatan yang tiada taranya bagi para penikmat minuman kopi.

Oleh karena itu, pemimpin yang diharapkan adalah harus seperti kopi. Mampu memberi keharuman di tengah kehidupan masyarakat. Mampu memberi keteladanan, baik dalam tutur maupun laku.

Dan yang paling penting, seorang pemimpin harus mampu memakai baju kejujuran sebagaimana kopi yang selalu mengedepankan keaslian identitasnya. Sehingga, harapan besar masyarakat agar pemimpin tidak selalu terjerumus dalam perilaku korup yang akut pun dapat tercapai.

Mumpung kopi arabika Bajawa-Flores-NTT yang sudah mendunia itu, sudah aku putarin, maka sangatlah layak jika saya mengundang beberapa pejabat tinggi negara. Sebab saya amat yakin mereka sangatlah layak untuk ngopi bareng.

Mereka-mereka itu adalah yang terhormat, Staf Khusus Presiden Andi Taufan Garuda Putra, Edhy Prabowo beserta istri dan kru-krunya, dan yang paling terhormat, Juliari Batubara beserta kru-krunya.

Semoga setelah ngopi bareng, bapak-bapak yang terhormat ini bisa sadar dan kembali ke jalan yang benar. Publik juga berharap agar kenikmatan kopi mampu mencuci otak abang Andi Taufan Garuda Putra untuk tidak ngawur lagi menerbitkan surat berlambang Garuda.

Semoga juga 3,4 miliar yang sudah masuk perut bapak Edhy dan juga 17 miliar yang juga sudah masuk perut bapak Juliari, masih ada sisanya untuk membeli kopi arabika Bajawa yang aduhai itu.

Tak lupa pula saya mengundang para pejabat negara kini yang mungkin memiliki niat untuk ngopi bareng. Dan bisanya jika kita membaca atau menonton pada berbagi media cetak maupun elektronik, di sana kita banyak menjumpai pemberitaan-pemberitaan seputar perilaku miris yang disutradarai oleh para pejabat negara kita.

Mulai dari sikap saling mengkritik, saling melempar kesalahan, cepat baper, cepat tersinggung, membagikan kursi kekuasaan, membagikan uang hasil korup hingga pada sikap yang anti kritik.

Dan jika para pejabat mulai mengedapankan sikap-sikap yang buruk itu, masyarakat kecil tak perlu kaget. Apalagi menjadi masyarakat yang gampang percaya dan gampang dipengaruhi, itu tak boleh. Sebab, dibalik perilaku dan sikap itu, para pejabat sedang bermain sandiwara topeng.

Selanjutnya, dengan memakai topeng, para pejabat semakin leluasa untuk bersandiwara menyembunyikan sikap-sikap buruk. Sebab yang selalu tampak diluar topeng adalah keindahan palsu yang dapat memikat banyak mata dan hati.

Akhirnya berbagai sikap dan kebijakan destruktif yang sering kali dipertontonkan oleh beberapa pejabat negara sebagaimana ditunjukan oleh bapak-bapak yang sudah disebutkan di atas, sebenarnya sedang melegitemasi bahwa mereka layak mendapat label sebagai pemimpin ala telur dan wortel.

Namun sebagai masyarakat yang peka dan mencintai pemimpin, saya dan bahkan publik selalu barharap agar para pemimping jangan lagi menghidupi tipe pemimpin seperti wortel dan telur. Sebaliknya, jadilah tipe pemimpin seperti kopi.

Saya menutup tulisan yang sederhana ini dengan satu pertanyaan gugatan sekaligus reflektif. Mau jadi pemimpin seperti telur, wortel, atau kopi? Silakan memilih. Semuanya tergantung dari kalian yang saat ini sedang menjadi pejabat-pejabat tinggi negara.