Mahasiswa
3 tahun lalu · 514 view · 3 menit baca · Budaya images-8_1.jpg
[foto: presentasipendidikan.co.id]

Mau Ganti Pancasila? Langkahi Dulu Kopiku!

Kita patut bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa karena telah dikarunia sosok-sosok anak bangsa yang memiliki karakter berani, cerdas dan bijaksana. Andai saja karakteristik tersebut tidak dimiliki oleh para founding fathers, maka sudah dapat dipastikan, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat tidak akan pernah ada.

Sifat beranilah yang menghasilkan sosok anak bangsa yang berjiwa patriotis sehingga segala bentuk penjajahan dan penindasan dapat dilawan, dan kemerdekaan pun dapat direbut. Kemudian, buah dari kecerdasan dan kebijaksanaan para pendahulu itu, terwujudlah Pancasila sebagai dasar dan perekat keberagaman yang ada, sehingga kemerdekaan itu dapat dipertahankan sampai saat ini. Sekali lagi, kita patut bersyukur atas karunia tersebut.

Pancasila sebagai dasar negara tak bisa ditawar lagi, ia adalah harga mati. Pandangan seperti itu bukan berarti bahwa Pancasila adalah muara dari kebenaran terakhir suatu ideologi, melainkan suatu kontrak sosial yang disepakati selama Negara Kesatuan Republik Indonesia masih kita kehendaki keberadaannya. Sekali lagi, harga matinya Pancasila hanya berlaku bagi eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Adalah Ir. Soekarno yang pertama mencetuskan gagasan Pancasila sebagai Dasar Negara. Gagasan tersebut ia presentasikan di depan Dokuritu Zyunbi Tyoosakai pada tanggal 1 Juni 1945 untuk menjawab pertanyaan mendasar tentang dasar Indonesia Merdeka.

Bagi Soekarno, Pancasila merupakan "Philosofische Grondslag" dari pada Indonesia merdeka. Philosofische Grondslag sendiri bermakna sesuatu hal yang fundamental, filosofis; pikiran yang sedalam-dalamnya; jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi.

Di dalam pidatonya itu, terlebih dahulu Soekarno menyampaikan alasan tentang keharusan Indonesia Merdeka. Tidak perlu menunggu semua elemen bangsa cerdas, sehat, kaya dan lain sebagainya untuk mendeklarasikan Indonesia Merdeka. Baginya, kemerdekaan adalah political independence. Ia mengibaratkanya sebagai ‘satu jembatan emas’ yang di sebrang jembatan tersebut berdiri negara yang berkewajiban memerdekakan masyarakat secara utuh dan menyeluruh.

Soekarno menyatakan: “Di seberang jembatan, jembatan emas inilah baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal dan abadi.”

Setelah peserta sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai yakin bahwa kemerdekaan Indonesia adalah suatu keharusan yang mesti disegerakan, Soekarno memaparkan lima dasar nilai yang kemudian ia namakan dengan istilah Pancasila. Kelima dasar tersebut adalah [1] Kebangsaan Indonesia; [2] Internasionalisme atau peri-kemanusiaan; [3] Mufakat atau demokrasi; [4] Kesejahteraan sosial; dan [5] Ketuhanan.

Soekarno menyatakan:

Saudara-saudara! Dasar-dasar Negara telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Pancadharma? Bukan! Nama Pancadharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Namanya bukan Pancadharma. Tetapi, saya namakan –ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa— namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.”

Jadi, secara hisoris, tanggal 1 Juni 1945 merupakan hari kelahiran Pancasila sebagai dasar negara yang pemaparannya telah disampaikan oleh Soekarno di hadapan sidang BPUPKI. Namun, untuk diterima sebagai dasar negara yang sah secara konstitusional, Pancasila mendapatkan persetujuan kolektif melalui rumusan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945, yang kemudian mengalami perumusan final lewat pengesahan konstitusional pada 18 Agustus 1945.

Pancasila adalah sekumpulan nilai yang menjadi titik temu (common denominator) yang menyatukan berbagai macam keragaman yang ada di bumi Indonesia, baik itu keragaman suku-bangsa maupun agama. Karena pada prinsipnya Pancasila merupakan suatu produk pemikiran yang dihasilkan melalui konsensus bersama, maka ia harus dijunjung tinggi, dihormati, dan dipertahankan keberadaannya selama Negara Kesatuan Republik Indonesia ini ada.

Sudah tidak relevan lagi jika ada pihak yang ingin menggantikan Pancasila dengan dasar yang lain. Terlebih bahwa dasar negara yang hendak menggantikan Pancasila itu hanya berpihak pada satu pemikiran, satu golongan, satu agama, dan/atau satu ideologi tertutup lainnya.

Perlu digarisbawahi bahwa kemajemukan dan keragaman adalah suatu keniscayaan bagi eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari itu, Indonesia Merdeka bukanlah negara untuk satu golongan, tetapi negara untuk semua. Soekarno menyatakan: “Kita hendak mendirikan suatu negara semua buat semua,” dan Pancasila adalah ‘tali penghubung’ yang merekatkan keragaman itu.

Alhasil, jika ada di antara Anda ingin menggantikan Pancasila dengan Weltanschauung lainnya, maka langkahi dulu kopiku!

Selamat Hari Lahir Pancasila!!!

Artikel Terkait