Hari Jumat, tanggal 20 November 2020 yang lalu, Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI mengeluarkan kebijakan tentang pembelajaran di sekolah. Melalui kanal YouTube Kemendikbud RI, Nadiem Makarim mengatakan bahwa pemerintah melakukan penyesuaian kebijakan untuk memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah, kanwil atau kantor Kemenag untuk menentukan pemberian izin pembelajaran tatap muka di sekolah-sekolah di bawah kewenangannya.

Untuk melaksanakan tatap muka tersebut, protokol kesehatan yang ketat tetap harus diperhatikan. Salah satu di antaranya adalah melakukan rotasi. Kapasitas maksimal yang berhadir di sekolah adalah 50% dari jumlah keseluruhan warga sekolah.

Dari penjelasan Mas Menteri selama hampir dua jam itu, salah satu kalimat kunci dari kebijakan ini adalah bahwa pembelajaran tatap muka yang akan dimulai pada semester genap Januari 2021 itu sifatnya dibolehkan atau tidak diwajibkan. Artinya sekolah atau pemerintah daerah, kanwil atau kemenag boleh memilih untuk melaksanakannya atau tidak.

Oleh karena itu, pilihan ada di tangan pemerintah daerah dan sekolah yang bersangkutan. Namun demikian, ini tidak hanya sekedar pilihan. Kebijakan ini tetap menjadi PR semua pihak. Apapun pilihannya, tetap daring atau luring, kualitas pelaksanaan pembelajaran di sekolah tetap harus menjadi fokus perhatian bersama.

***

Mempersoalkan model pembelajaran mana yang lebih bagus, apakah daring atau luring di masa pandemi ini, sepertinya kurang tepat. Karena pandemi covid-19 yang ada sekarang adalah bukan atas kemauan bangsa Indonesia. Atau dengan kata lain pandemi ini adalah takdir untuk bangsa ini.

Karena takdir itulah, pilihan pembelajaran daring menjadi satu-satu pilihan yang mau tidak mau harus diterima semua kalangan. Pembelajaran daring pada hakikatnya adalah sama saja dengan pembelajaran tatap muka biasa. Hanya saja dilakukan secara daring.

Daring atau dalam jaringan, dapat dilakukan dengan menggunakan aplikasi tertentu. Banyak pilihan aplikasi untuk pembelajaran seperti zoom atau google meeting atau aplikasi lain yang tidak perlu disebutnya satu per satu di sini. Tentunya semua orang sudah tahu akan hal itu.

Reaksi masyarakat sangat beragam terhadap pembelajaran daring. Mulai dari bosan, susah paham, tidak bisa akses jaringan, gaptek, sampai menyusahkan orang tua dalam mendampingi anaknya belajar.

Melihat kenyataan yang terjadi selama pandemi ini, pembelajaran daring juga dirasakan menguntungkan. Bagi siswa, pembelajaran daring menyenangkan karena tidak harus segera pergi ke sekolah, tidak harus panas-panasan ke sekolah, waktu belajar pun terasa lebih singkat dibanding pembelajaran tatap muka.

Persoalannya bukan masalah mana yang lebih menguntungkan atau mana yang lebih baik. Namun seberapa berkualitas pembelajaran yang selama  ini dilalui. Jangan sampai pembelajaran hanya dilakukan sebagai rutinitas belaka.

Pembelajaran di sekolah memang kegiatan rutin. Namun, Jika pembelajaran dianggap sebagai rutinitas belaka, akan terkesan hanya melakukan hal yang sama setiap saat. Dan ketika rutinitas itu harus diubah, maka akan muncul keluhan-keluhan yang sebenarnya tidak perlu.

Oleh karena itu, kebijakan pemerintah di atas, bahwa bulan Januari 2021, pemerintah daerah, kanwil atau kantor kemenag diberi kewenangan untuk melakukan pembelajaran tatap muka, membuka harapan bagi orang-orang yang tidak merasa puas dengan pembelajaran daring selama ini.

***

Bagi masyarakat pada umumnya, terutama bagi orang tua siswa, apapun modelnya, yang penting anak mereka terlibat aktif dalam belajar. Mereka ingin anak-anak mereka mendapatkan ilmu yang seluas-luasnya dari sekolah tempat mereka menimba ilmu.

Apa dan bagaimana pun proses pembelajaran ke depan, yang terpenting dari semua itu adalah bagaimana mereka mendapati anak-anak mereka mengalami perubahan yang berarti. 

Proses pembelajaran yang dilalui memang menjadi penentu dari sebuah hasil yang akan didapatkan. Oleh karena itu proses pembelajaran tentunya menjadi perhatian serius bagi yang menjalankan proses itu.

Guru atau pengajar atau apapun sebutannya sesuai dengan lembaga masing-masing, memiliki peran sentral dalam proses pembelajaran dimaksud. Baik daring maupun luring.

Ibarat sebuah bahtera, pengajar adalah orang yang menakhodai bahtera itu. Bahtera itu membawa sekelompok siswa di dalamnya. Baik tidaknya bahtera yang dijalankan tergantung nakhodanya. Bahtera itu hanyalah alat, sama seperti aplikasi daring saat pembelajaran daring atau sama seperti ruang kelas saat pembelajaran luring.

Oleh karena itu, kreatifitas pengajar menjadi solusi utama dalam setiap model pembelajaran. Pengajar yang kreatif menjadi salah satu upaya untuk memaksimalkan proses yang dilakukan.

Ada banyak upaya yang dapat dilakukan agar pengajar lebih kreatif. Selalu terbuka dengan pengetahuan baru, terbuka dengan kebiasaan baru, lalu berusaha menemukan sisi positif dari itu semua. Dan yang terpenting adalah tindakan nyata untuk terus komitmen dalam mencerdaskan anak bangsa.

Pengajar memang dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengajar. terlepas pembelajaran yang dilakukan itu luring ataupun daring. 

Sama seperti pembelajaran luring, yang menuntut kreatifitas dan variasi dalam metode dan media, pembelajaran daring pun menghendaki demikian. Pengajar tentu saja tidak semestinya terpaku pada satu aplikasi dan media tertentu saja. kemampuan beradaptasi dengan kondisi yang dihadapi sekarang menjadi salah satu kunci keberhasilan pembelajaran yang dilakukan.