Lelaki itu berjalan menyusuri rumah tinggalnya. Rumah tua yang ditempatinya temurun dari moyangnya. Dia berdiri di halaman rumahnya. Menghadap jalan besar yang biasa dilewati para pebisnis di Laguboti itu. Sibuk orang lalu-lalang. Dia menikmati kesendiriannya dalam ramai. Beberapa orang menyapanya.

Horas amang”, “Horas Lae” juga “Horas Tulang”. Semua jenis sapaan khas tanah lahirnya.

Dia menatap barisan rumah sanak saudaranya di samping kiri–kanannya. Dia ada menyebut nama Marini, istrinya, tetapi tidak terlihat. Istri keduanya, kekasih pertamanya, kekasih hati utamanya sudah lama berpulang. Dia kemudian menikah kedua kalinya, dengan Marini, anak kepala kampung dari Desa Tambun.

Hari itu, hari terakhir pergantian tahun. Istri kedua dan anak-anaknya tidak bersamanya hari itu. Anak dari kekasihnya yang pertama, memilih menjadi berandal. Si Lomo. Dia di usia belia, ditinggal mati ibu kandungnya, dan menjadi berandal karena kuran gkasih sayang. Lari dari keluarga barunya yang tidak mengasihi dan dikenalnya. Dia asing dengan adik-adiknya walaupun satu bapak. Bapak yang dikenalnya mungkin sudah lama tidak sungguh mengisi hatinya.

Lelaki itu, Bapak Si Lomo, berwajah klimis. Wajahnya sungguh tenang dengan tatapan penuh ide. Dia memakai baju kemeja putih polos lengan panjang hari itu. Celana hitam dengan sepatu kulit hitam yang dibelinya dari pasar rakyat di Tarutung. Sepatu pemberian kekasih pertamanya. Meninggal begitu saja ceritanya kepada Si Lomo. Lelaki ini tidak pernah bercerita pada Lomo. Lomo pun saat itu masih kecil ketika ditinggalkan Ibunya. Ditinggal mati. Hingga waktu berjalan, Lomo tidak mau tahu lagi kenapa ibunya mati.

Lelaki itu, bernama Coktoga. Pagi itu, dia mulai langkahkan kaki, berjalan menuju arah keramaian di desa kecil yang bernama Laguboti. Ada persimpangan jalan yang menjadi tempat berkumpulnya kesibukan masyarakat. Pusat keramaian untuk berdagang. Dagang sayuran, makanan dan barang sehari-hari. Coktoga sangat menikmati setiap ayunan langkah yang diarahkannya dan bunyi tapak sepatunya ke jalan tanah. 

Matanya merekam semua aktifitas termasuk jejak tapaknya di tanah berdebu. Semua senyum, semua kecut, semua mimik yang selama ini luput dari penglihatannya betul diperhatikan saksama. Selesai dari sana, Coktoga berjalan kembali, dari rumah ke rumah, setiap orang-orang yang dikenalnya. 

Tiap rumah diketuknya, jika tidak ditemuinya orang-orang yang tinggal di halaman rumahnya. Senda-gurau yang mengundang gelak tawa dan senyum sekedar. Dia seperti mencoba menerima semua pesan, semua keluh setiap orang yang ditemaninya bicara. 

Dia seperti akan menyampaikan keluh-kesah itu kepada orang yang bisa menyelesaikannya. Orang-orang yang dijumpainya pun menceritakan dengan lekas dan lepas. Seolah dia bisa memberikan solusi.

Tidak terasa, hari sudah siang. Perut sudah kerongkongan meminta asupan gizi. Dia berjalan menuju Lapo Pamornas, rumah makan khas Batak di dekat rumah tinggalnya itu. Lapo yang jaya seantoro wilayah dan bagi setiap pendatang yang tidak mengharamkan babi dan lainnya yang berkuku belah.

Horas tu amang i” sambut yang punya lapo dengan salam khasnya.

Coktoga tersenyum dan membalas sambutan horas-nya.

Coktoga mengambil tempat duduk, di meja paling pojok sisi kanan lapo. Di posisi dia bisa melihat semua aktifitas di dalam lapo. Aktifitas di sepanjang jalan besar di Laguboti, karena laponya terbuka lapang tanpa sekat penghalang pandangan .

Saksang, sang daging cincang, panggang, napinadar, sang daging dengan bumbu khas terbaik, sop babi, sayur singkong yang  diulek. Surga kuliner terbaik bagi mereka setiap Batak yang masih hidup. Sajian ini yang diminta disajikan oleh setiap perantau dari bangsa Batak yang akan eksodus ke Jawa dan pulau lainnya. 

Setelah disajikan, Coktoga berdoa. Dia mulai makan, tiap gigitan makanan yang disajikan, dinikmati dengan sangat terlihat dari kunyahan makanannya yang sedikit lama. Ada rasa syukur dari sumringah senyumnya dan decapan mulutnya tiap mengunyah, seperti gempita tepuk tangan.

Selesai makan, Dia meletakkan sejumlah uang di meja tempat dia makan, sebagai bayarannya. Karena Coktoga tahu kalau menyerahkan langsung, pemilik lapo tidak akan mau menerimanya. Karena dahulu pemilik lapo ini adalah turun-temurun pembantu atau kaki tangan moyang Coktoga yang menemaninya bertugas sebagai ahli kesehatan penugasan Belanda di Tarutung sekitarnya.

Coktoga kemudian kembali ke rumah. Tidak ada ditemuinya seorangpun di rumah itu. Istri kedua dan anak-anaknya tidak ada seorangpun di rumah.

Coktoga,  kemudian berjalan mengikuti jalan rumah yang ditempatinya selama ini. Dia duduk sebentar di ruang depan. Masuk ke kamar yang dipisahkan sekat kelambu tipis. Dia lihat foto kekasih pertamanya. Foto anak-anaknya dari istri pertamanya. Si Lomo dan Tiamin. Dia lengkungkan bibirnya, teringat indahnya masa dia bersama kekasih pertamanya.

“Maaf” bisiknya lirih kepada dua anaknya itu. Entah kapan terakhir kali Coktoga bertemu dengan Lomo. Lomo lebih memilih tidak mau tinggal dengan Bapaknya sejak menikah kedua kalinya. Lomo lebih banyak menghabiskan waktu di desa Tambun. Satu–dua jam perjalanan kaki dari Laguboti. Di rumah neneknya. Ibu dari ibunya kandung. 

Coktoga kemudian berjalan menyusuri gang rumahnya dengan rumah utama milik moyangnya pertama sekali, menuju kebun di belakang rumah. Rindang sekali di belakang sana. Banyak pohon besar di sana. Ragam pohon, mulai dari durian, kemiri, beringin dan pohon besar lainnya. Coktoga menghirup nafas dalam-dalam menikmati segarnya udara.

Waktu itu jam tiga sore.

Coktoga sendirian di sana. Ditemani dan disaksikan nisan makam ayah kandungnya dan kakeknya.

Dia tidak melewati malam pergantian tahun baru itu dengan seorangpun keluarganya di saat itu, di tahun 1966. Tahun semaraknya pembantaian tertuduh komunis dan simpatisannya di situ.

Lomo pulang malam itu. Dia tidak menemukan sesiapapun di rumah.

Among… Among…” Lomo memanggil Bapaknya dan tiada jawaban.

Lomo tertidur di ranjang milik Bapaknya. Lelah dia berjalan dari desa Tambun menuju Laguboti berjam-jam.

Besok paginya, Laguboti mencekam. Riuh dan ribut memaksa Lomo terbangun, Dia mengikuti orang-orang yang berjalan menuju belakang rumah. Pagi itu sangat cerah hari itu. 

Coktoga tergantung dengan leher terikat di pohon beringin belakang rumahnya. Lomo yang kecil melihat Bapaknya mati tergantung di pohon. Riuh bisikan orang-orang yang menonton, Lomo melihat ada Ibu tirinya turut menonton. Berkali-kali dia mengucek matanya.

Si Ibu tiri mendekati Lomo dan berbisik ke telinga kecil Lomo.

"Bapakmu bunuh diri." 

Lomo berlari, tidak menatap ke belakang. Entah kemana kakinya membawanya.