Dalam cerpennya yang berjudul Sepotong Senja untuk Pacarku, Seno Gumira Ajidarma melalui tokoh Sukab menuliskan, “Sudah terlalu banyak kata di dunia ini, Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa.” Sepertinya, jika direnungkan di hati yang terdalam, meski tidak harus melepas semua yang kita inginkan, hal ini benar adanya.

Kita hidup dalam masa yang penuh dengan kata-kata. Orang lebih suka berkata-kata ketimbang mendengar kata-kata orang lain. Tidak hanya sekadar itu, sayangnya, banyak sekali kata-kata tersebut sangat jauh dari kebenaran.

Setiap ada fenomena yang terjadi, hampir sangat mudah untuk menemukan orang-orang yang berkomentar, meskipun sesungguhnya bukan keahlian mereka. Ketika isu teroris sedang terjadi, sebagian orang merasa bahwa mereka adalah ahli dalam kajian teroris. Hal yang serupa juga terjadi pada isu-isu yang lain.

Ambil contoh di tahun 2019, ketika isu tentang kiamat sedang mencuat, sontak beberapa orang tiba-tiba menjadi teolog, memberikan pandangan mereka, seolah-olah mereka merasa apa yang mereka katakan paling sahih. Hal ini tentu sah-sah saja, toh juga kan Indonesia dikenal sebagai bangsa yang relijiyes. Namun, jangan lupa, bahkan seorang scholar yang mendalami ilmu agama menahan diri untuk tidak sembarang berkomentar.

Dunia sedang diperhadapkan dengan sebuah masalah besar sekarang. Corona Virus Diseases 19 (COVID-19) sedang melanda hampir seluruh negara. Tak terhitung lagi jumlah para ahli dan ahli dadakan yang membahas virus ini. Juga, tak terhitung pula teori ini dan itu tentang asal, penyebaran, dan penanganan orang terpapar virus tersebut.

Beberapa waktu lalu, saya mendengar seorang mengatakan, “Israel tak ada kasus. Mereka diberkati. Wilayah yang terpapar virus dikarenakan orang-orangnya tidak takut Tuhan.” Saya tidak tahu, orang tersebut, memperoleh data dari mana. WHO, dalam laporan resminya, padahal jelas-jelas melaporkan jumlah kasus di Israel.

Saya curiga, orang tersebut, mata dan pikirannya telah dipenuhi oleh fanatisme agama. Sehingga, hal tersebut sudah cukup untuk menjadikannya lupa dan mungkin mengabaikan fakta bahwa virus ini tidak memandang apa kepercayaan seseorang.

Yang juga tak kalah heboh adalah klaim penemuan vaksin oleh orang yang merasa ahli dan mengaku sebagai seorang dokter. Saya tak perlu menyebut nama. Tapi, kasus tersebut makin memperjelas bahwa kepakaran sudah mati, kebodohan yang kini bangkit kembali. 

Bagaimana mungkin, ketika para ahli di belahan dunia lain sedang giat-giatnya melakukan riset dan pengembangan vaksin, lalu, muncul seseorang mengklaim bahwa ia telah menemukan vaksin? Kapan pengujiannya, berapa sampel yang telah diujikan, kita bahkan tak memperoleh bukti yang bertanggung jawab dari hal tersebut.

Saya tidak tahu seberapa banyak orang yang percaya dengan vaksin tersebut. Dalam situasi sulit, terkadang otak manusia begitu mudah menempuh jalan pintas. Bahkan, cenderung percaya pada hal-hal yang tak masuk akal.

Keadaan ini diperparah dengan kehadiran internet. Internet memang patut disyukuri kemunculannya. Banyak keuntungan yang dapat diperoleh melalui internet, salah satunya adalah dengan hadirnya internet, Qureta dapat dengan leluasa menyebarluaskan ide-idenya.

Namun, di sisi yang lain, berita dan “analisis” para ahli dadakan cukup banyak ditemukan di internet. Dengan bermodalkan mantra “apa yang saya baca di internet” dan mengaku “membaca banyak buku”, orang-orang dengan penuh percaya diri memberikan pandangannya.

Jika harus mengakui, kita memang bukan ahli dalam banyak hal. Bahkan, dalam hal-hal yang kita anggap sepele seperti berbenah dan merapikan rumah, kita tidak lebih ahli dari Marie Kondo, yang memang mendapat pengakuan luas sebagai ahli berbenah. Namun, mungkin, sebagian orang akan tetap mendaku bahwa mereka adalah ahli berbenah, tentu dengan menambahkan “kiat-kiat” tertentu dalam berbenah.

Alhasil, kehidupan pada akhirnya dipenuhi dengan analisis kosong dan gersang. Para ahli yang seharusnya berbicara tidak mendapat panggung untuk berbicara. Justru, sebaliknya muncul para badut yang lucu bukan karena memang harus melucu, tetapi lucu karena tidak tahu apa yang sedang ia buat. Lebih lucu yang membuat kelucuan tak pernah merasa bahwa apa yang mereka buat adalah sesuatu yang lucu.

Parahnya, banyak pembaca yang terbuai dengan ulasan para “ahli” tersebut. Mungkin ini sudah saatnya kita mengembalikan para ahli di tempat yang sesungguhnya. Meskipun, sebelum melakukan itu, kita, yang bukan ahli dalam banyak hal, harus segera sadar diri dan mengakui dengan rendah hati bahwa kita bukanlah ahl, sehingga menahan diri untuk berkomentar. Menahan jari kita untuk tidak segera menyentuh gawai dan membuat analisis-analisis di media sosial.

Atau, jika memang hal ini sudah tak tertahankan lagi, mungkin, salah satu kalimat dari The Big Lebwoski, yang juga dikutip oleh Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise, bisa langsung dialamatkan kepada para ahli dadakan: “Ya, tahu kan, itu cuma, yah, pendapat kamu, Bung!”