"Jika kita menghamba kepada ketakutan, kita memperpanjang, barisan perbudakan." -- Wiji Tukul

Saya heran bercampur kaget melihat pergerakan mahasiswa Provinsi Jambi yang jalan di tempat, habis di meja kuliah dan forum diskusi. Padahal, mengkaji dan diskusi tanpa aplikasi bak bercinta tapi tak orgasme. Saya yakin ada ribuan mahasiswa di Jambi, tapi tak ada yang memberikan waktunya untuk mengawal pemerintah. Mungkinkah pergerakan mahasiswa di negeri sepucuk jambi sembilan lurah ini mati suri?

Apa lagi yang tidak membuat gerakan mahasiswa jambi untuk bangkit? Lihat ke bawah, tanyakan pada mereka petani karet dan sawit bagaimana susahnya hidup jika setiap Ramadan harga karet harus turun. Kejadian yang terulang setiap tahun dan selalu berahir tanpa solusi. Atau tanyakan kepada pemerintah mengapa ini terjadi berkali-kali layaknya acara tahunan.

Saksikan, apa ada kesejahteraan di mana batu bara dan minyak bumi digali? Sebutkan dengan lantang apakah ada kemakmuran di mana hutan digunduli. Tolong kabarkan apakah ada bedanya setiap pergantian pucuk pemerintah bagi petani karet dan sawit. Bukankah mayoritas masyarakat Jambi menggantungkan nasib pada karet dan sawit?

Mahasiswa Jambi semua, mengapa tak terdengar lagi suara lantang membela rakyat kecil di Jambi? Kenapa kalian mulai gentar melakukan advokasi dan demonstrasi? Apa yang kalian takuti? Apa yang kalian banggakan dari pejabat kita? Akankah kalian bangga dengan janji, slogan, rupa dan jabatan? Mereka yang duduk di kursi empuk dalam gedung sana tidak pernah merasakan susahnya memanen sawit dan memikul getah karet.

Bercermin dari pertanyaan bodoh di atas, saya hanya bisa mengatakan ada kezaliman dan kesenjangaan di negeri kita. Ini yang harus mahasiswa kaji. Buat apa kuliah bila hanya menjadi sapi perah, manut patuh pada pemerasan?

Bukanlah teori, tapi perbuatan yang mengubah dunia pekik Muso lantang. Perlawanan ini bukan atas dasar benci melainkan sebuah sikap tunduk patuh pada keesaan Tuhan, tak ada yang wajib ditaati kecuali Dia. Sumber kebenaran mutlak. Pemilik segala sesuatu di langit maupun di bumi.

Sebagai khalifah, semua manusia sama di sisi-Nya. Hanya tingkatan ketakwaan yang membedakan. Sama juga dalam hal keadilan dan kesejahteraan. Setiap insan punya hak untuk hidup sentosa dan bahagia bersama keluarga tercinta. Dengan demikian, setiap individu dan rezim yang menghilangkan hak manusia lain atau menindas individu lain harus dilawan.

Kini semua telah jelas, ke mana seharusnya gerakan mahasiswa ini dibawa. Sudahi semua ketakutan, cukup tuhan seru semesta alam dihati dan pikiran. Jangan kau tambah tuhan-tuhan baru. Sejarah telah membuktikan, banyak penguasa jatuh bermula dari gerakan mahasiswa.

Kini saat nya mahasiswa mengawal kembali proses pemerintahan, orang berdasi yang kita gaji untuk kepentingan bersama. Suarakan apa yang selama ini hanya jadi keresahan hati. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi. Sekali lagi, ayo mengawal!