Setiap jendela adalah bandara dan imajinasi adalah pesawat terbang. Kira-kira begitu kata Riri Riza menjawab pertanyaan saya tentang kenapa gambar-gambar jendela selalu muncul mencolok di film-filmnya.

Riri Riza bercerita bahwa sejak kecil ia senang duduk di dekat jendela. Ia membiarkan imajinasi dan pikirannya terbang ke tempat-tempat yang belum ia kunjungi. Hingga sekarang, ketika bepergian, ia selalu memilih duduk di dekat jendela mobil atau jendela pesawat udara.

Ia senang melihat pohon dan bangunan di sisi jalan seolah berlari ke arah berlawanan. Ia senang menyaksikan awan dan langit juga bumi dari sudut pandang berbeda.

Jendela dalam kehidupan Riri Riza bukan sekadar satu elemen arsitektur yang berfungsi sebagai tempat masuk cahaya dan udara sebagaimana yang umum kita pahami. Jendela juga bukan semata bingkai untuk memperindah tampilan eksterior dan interior bangunan.

Konon, pada abad pertengahan, orang-orang Kristen membangun katedral-katedral yang tinggi, seolah hendak mencapai langit, dan penuh jendela raksasa yang tampaknya mampu menampung keluasan langit. Jendela, bagi mereka, adalah media untuk melihat ke surga — dan atau dilihat dari surga.

Mereka percaya jendela adalah sarana sederhana dan tepat untuk tetap memijakkan kaki surga di bumi. Dengan jendela yang lebar dan tinggi, surga yang mulia dan jauh menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Pada titik tersebut, jendela membuktikan sekaligus melengkapi satu kelemahan manusia. Jendela adalah mata yang bisa melihat ke luar dan ke dalam sekaligus. Pada saat bersamaan, ketika melihat jauh ke luar jendela, kita melihat jauh ke dalam diri kita.

*** 

Bicara perihal jendela, barangkali tidak banyak orang yang terobsesi dengan jendela melebihi Matteo Pericoli. Ia seorang arsitek, seniman, penulis, dan dosen yang lahir di Milan. Sejak 1995, ia berkeliling dunia menulis dan menggambar jendela.

Ia mulai terkenal pada 2001 ketika menerbitkan Manhattan Unfurledbuku sepanjang kira-kira 67 meter yang dilipat seperti akordeon berisi gambar gedung-gedung pencakar langit Manhattan. Bagi Pericoli, perkembangan kota adalah gambaran nyata perkembangan pikiran dan hati manusia. Buku tersebut diikuti sejumlah karya serupa perihal kota besar lain di dunia, seperti London dan Milan.

Pada 2009, Pericoli menerbitkan The City Out My Window. Buku itu berisi gambar-gambar New York dari sudut pandang warganya. Ia masuk ke ruang-ruang pribadi puluhan seniman, pemikir, pejabat, dan orang terkenal di New York.

Ia mewawancarai dan menggambar apa yang mereka lihat dan pikirkan melalui jendela. Di antara mereka ada Tom Wolfe, Tony Kusher, Nora Ephron, Stephen Colbert, Oliver Sacks, David Byrne, hingga Philip Glass dan Peter Carey.

Pericoli juga mengerjakan proyek berjudul Windows on the World. Ia masuk ke kamar Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Nadine Gordimer, Ryu Murakami, dan penulis-penulis terkenal lainnya di berbagai belahan dunia serta mengajak mereka berbincang perihal jendela. Pericoli amat percaya bahwa para penulis itu menganggap jendela sebagai satu bagian amat penting dalam kehidupan mereka.

Gambar dan tulisan Pericoli mengenai jendela para penulis tersebut bisa dinikmati di The New York Times dan The Paris Review.

***

Jendela adalah salah satu bagian dari rumah yang memiliki fungsi penting, kata Matteo Pericol, namun paling jarang digunakan dengan benar.

Ada banyak orang, di sekitar kita, menjadikan jendela sebagai hiasan rumah belaka. Mereka sering kali menganggap jendela sebagai semata etalase untuk memamerkan kemewahan yang mereka miliki. Sebagian yang lain memilih menutup rapat jendela mereka, bukan sekadar dengan gorden tebal dan terali besi, tapi juga dengan daun jendela dari bahan terkuat.

Kadang kala mereka merasa itu belum cukup sehingga menambahkannya dengan pagar yang kokoh dan tinggi. Banyak orang mengidap defenestraphobia, penyakit kejiwaan yang aneh, takut terhadap jendela.

Beberapa orang bahkan rela hidup di rumah yang memiliki cuma satu atau dua jendela sempit. Kita menyebutnya televisi. Mereka seolah tidak peduli akan bahaya yang mengancam dari layar kaca yang kian hari kian tipis itu. Mereka senang duduk berjam-jam didikte furnitur bernama televisi — dan menjadi ketagihan.

Sebagian kita yang mengidap defenestraphobia tidak sadar telah menjadi kian mudah meniru dan mengidentifikasi diri dengan sosok tertentu di televisi. Kita lupa siapa yang disebut diri sendiri. Kita lupa bahwa televisi membuat kebutuhan kita membengkak karena kampanye komoditas. Anak-anak kita tumbuh menjadi pelahap-apa-saja yang hebat.

Kita tengah menciptakan generasi yang mudah salah dalam mengambil keputusan untuk berpikir, bicara, atau bertindak karena disinformasi yang dihidangkan televisi cenderung seragam dan penuh melodrama. Kita abai pada efek buruk tontonan kriminal.

Kian hari dada dan kepala kita kian tumpul. Logika kita pelan-pelan rusak dan kehilangan kemampuan mengecek ulang informasi karena terlalu banyak mengkonsumsi sinetron dan infotainment.

Kita terbiasa melihat anak muda tumbuh tidak percaya diri jika tidak bicara dengan dialek elu­-gue dan wabah penyakit kau-bukan-siapa-siapa-sebelum-masuk-televisi. Televisi bahkan sering membuat anak dan orang tua tidak saling tegur karena sibuk menonton. Atau, barangkali, berkelahi karena ingin menonton acara berbeda.

Kita mengutuk berita di televisi tentang mahasiswa yang saling melempar batu, misalnya, tetapi lupa bahwa sejak kecil mereka tak mengenal anak-anak tetangga mereka karena kita menutup jendela dan membiarkan mereka menonton televisi.

Kita lupa—atau barangkali pura-pura lupa—semua hal tersebut. Kita lupa bahwa jendela adalah televisi yang lebih ramah dan baik hati. Sementara itu, televisi tidak lebih dari furnitur yang berbahaya.

Orang yang memahami dan menggunakan jendela dengan baik, seperti ditunjukkan karya-karya Pericoli, telah menyumbangkan pikiran dan karya mereka untuk mempertahankan bumi sebagai tempat yang indah.

Melalui jendela, mereka berusaha mempertahankan bumi sebagai kepingan surga, bukan planet lain yang terbuat dari neraka seperti kata Aldous Huxley, sastrawan dan filsuf yang juga senang duduk di depan jendela.

Barangkali sudah saatnya kita harus lebih sering mematikan televisi dan menyalakan jendela. Setidaknya, hal tersebut barangkali bisa membuat kita mulai mengenal siapa nama tetangga kita.