mahasiswa
1 bulan lalu · 54 view · 7 min baca menit baca · Cerpen 15763_87806.jpg
pexels.com

Mati Ngepet

Ipul atau yang akrab dipanggil Klewer tiba-tiba jatuh di lantai ruang tamu, jatuh dari atas namun entah bagaimana caranya. Sang istri yaitu Karsinah disertai beberapa sanak keluarga gopoh-gopoh dari ruang keluarga lekas mendekati asal suara berdebum itu dengan curiga—barangkali kesunyian di jam sebelas malam menambah peka rasa curiga mereka.

            “Astaghfirullah!” pekik Leman sang Kakak Iparnya Klewer yang berada di depan, langkahnya seakan terpaku oleh lantai sedangkan matanya terpaku pada pemandangan yang berjarak lima langkah darinya.

            Mendengar pekikan Leman, sanak keluarga yang lain yaitu Karsinah, Kalam yaitu adik laki-lakinya Klewer dan bapak mertuanya Klewer merapatkan diri ke Leman yang ada di ambang pintu ruang keluarga dan seketika kaki dan mata mereka pun terpaku oleh pemandangan di depannya: Klewer kembali ke rumah setelah sesiang tadi diantarkan ke pemakaman, masih memakai kain kafan hanya saja telah lusuh kotor terkena tanah  makam, dan tetap mati.

            Melihat suaminya terbujur kaku dalam belitan kain kafan sepagi tadi membuat Karsinah terkejut dan sedih, lantaran sudah dua minggu Klewer tak mengabari dan mengirim uang ke rumah dari tempat kerjanya di luar pulau namun ketika kabar datang malah berupa kabar kematian lengkap dengan tubuh Klewer yang beku. Dan melihat suaminya untuk kedua kali dengan cara seperti ini membuatnya lemas, kepalanya macam dihantam godam besar, pingsan. Sementara bapaknya Karsinah membawa anaknya ke kamar, Leman dan Kalam memberanikan diri perlahan mendekati pocongan berwajah Klewer itu dengan tubuh yang gemetaran.

            “ini. . . Ini Ipul, Mas!?” Kata Kalam dengan nafas tertahan.

            Leman mengangguk, “Tapi bagaimana bisa di sini?” sembari menengadahkan kepala melihat atap rumah yang menurut penglihatannya tak ada yang berlubang cukup untuk dimasuki tubuh beku Klewer.

            Mata Kalam masih terpaku pada kakaknya yang sudah jadi bangkai dengan wajahnya yang hitam dan tak simetris sebagai ciri khasnya itu. Kepalanya belum mampu memikirkan harus apa selanjutnya, begitupun Leman yang sedari tadi berjongkok mengamati namun tak berani untuk menyentuh pocongan di depannya yaitu adik iparnya yang dari dulu dikenal sebagai manusia mursal malas yang pandai bermain lidah, dia memandang dengan jijik dan hati yang berprasangka, “Ini pasti akibat ulahnya sendiri selama hidup!” ditambah fakta bahwa Klewer mati setelah sebelumnya menenggak minuman keras dicampur dengan obat nyamuk oles bersama teman satu proyeknya di luar pulau tiga hari yang lalu.

            “Bagaimana, Mas? Kita bawa dia ke makam lagi sekarang?” Tanya Kalam yang merasa takut dan tak mau melihat pocongan itu lagi alih-alih kasihan pada bangkai kakaknya itu.

            “Kita kuburkan sekarang juga tapi tidak di pemakaman, Lam.”

            “Lho terus di mana, Mas?”

            “Belakang rumah saja.”

            “Di belakang rumah, Mas!?” Kalam belum terlalu yakin dengan jawaban Leman.

            “Pemakaman jauh dari sini, harus lewati jalan dan banyak rumah, kita tak punya mobil buat bawa ini Klewer.”

“Kan Pak Tugiyo punya?”

“Ngawur kamu! Kalau ada orang lain tahu pasti kabar ini bakal tersebar, Lam! Mau ditaruh di mana muka keluarga kita!”

Kalam terdiam, merasakan adanya kebenaran di dalam jawabannya Leman sementara malam macam diam dipasung kegelapannya sendiri.

“Ayo kita ke belakang, tapi tutupi dulu jenazah Klewer dengan kain.” Ajak Leman sembari berjalan ke arah belakang rumah dan diikuti Kalam dengan tergesa sementara mayat Klewer dibiarkan terbaring kaku di lantai rumah, yang bagi mereka sudah tanpa arti.

*

Lihat, Riki atau biasa dipanggil Rikisu memakai peci di atas rambut panjang merah menyalanya, dengan kaos biru bertuliskan ‘Kumpulan Bocah Minus’ disertai gambar kepala anjing bulldog yang besar, bawahannya memakai sarung yang biasa digunakannya untuk tidur.

Wono teman satu proyeknya tak henti-hentinya bingung untuk memilih bersikap senang atau geli lantaran teman-teman satu proyeknya macam Gasir, Teguh dan Terong tengah memakai peci—sesuatu yang tak pernah mereka pakai mungkin dalam beberapa tahun kebelakang, ditambah dengan mereka kini tengah mengikuti acara tahlilan di kontrakan tempat mereka tinggal juga Klewer sampai dia mati sesiang tadi, mereka tengah melantunkan  ayat-ayat suci—deret kalimat yang tak pernah mereka ucapkan sejak lama.

Sembari membaca ayat-ayat dari kitab suci, Wono tak tahan untuk  membayang kembali laku teman-temannya yang berpeci itu empat hari lalu yang tengah duduk berputar mengelilingi lima botol minuman keras lengkap dengan minuman suplemen makanan sebagai campuran. Terong yang berambut panjang dan kurus itu dengan cermat mencampur minuman keras dengan minuman suplemen makanan kemasan gelas ke dalam botol air mineral ukuran dua liter sementara mereka yang lain asyik membanting-banting kepala di udara mengikuti irama musik diskotik dari ponsel  milik Teguh yang biasa dipanggil Tepo.

Kala itu adalah malam minggu—malam di mana gaji para pekerja selama seminggu ke belakang dibayarkan, maka kontrakan sepi dari sekitar dua puluh lima orang hanya tersisa enam saja, yang lain ada yang ke warung mencari makan, ada yang ke pusat perbelanjaan untuk membeli sandangan—maklum kebanyakan dari orang proyek adalah mereka yang sangat memperhatikan penampilan luar, dan ada juga dari mereka yang menjumpai kekasih sementaranya di lokalisasi.  Juga terbayang kala Klewer dengan mengejutkan mengeluarkan satu sachet obat nyamuk oles dari kantung celana jeansnya, lekas menyobek ujungnya dan menuangkannya ke dalam gelas kecil.

“Kang!? Yang bener aja, Kang!” tukas Rikisu melihat bungkus obat nyamuk yang  sudah kempes itu

“Biar makin mantap! Biar makin ngefle (mungkin maksudnya adalah nge-fly).” Tanggap Klewer.

“Hahaha josss, Kang!” tanggap Terong yang sudah hampir tak sadar diri sembari mengacungkan jempol untuk Klewer yang mulai menuangkan minuman keras ke dalam gelas kecil plastik yang terisi obat nyamuk oles tadi.

Wono yang sedari tadi acuh dengan mereka karena mendengarkan musik via headset dari ponsel pintarnya menjadi heran karena ada bungkus bekas obat nyamuk oles di tempat mereka berkumpul. Khawatir dengan apa yang ada dalam pikirannya sendiri akhirnya dia bangkit dari tempatnya duduk dan mendekati mereka untuk memastikan dugaannya.

Benar, Klewer mencampur minuman keras dengan obat nyamuk oles itu, dan seketika itu pula Wono tahu bahwa dia terlambat untuk mencegah karena gelas kecil itu telah kosong, dan para peminumnya termasuk Klewer hampir tak sadarkan diri, lalu beberapa waktu kemudian dugaan Wono selanjutnya dibenarkan oleh kenyataan—klewer mulai memegangi perutnya, meringis kesakitan, mengaduh dan makin menghebat.

Kini Klewer mati dan menurut kabar dari sang mandor yang ikut ke kediaman keluarga Klewer kala hendak ditanam ke dalam bumi, ternyata lubang di mana Klewer hendak ditanam mengeluarkan dengan deras air kental berwarna merah padam kental macam bubur kacang merah, maka lantaran peristiwa itu teman-teman Wono makin khawatir dengan apa jadinya mereka sendiri karena mereka menganggap diri mereka sama dengan yang mati hari ini. Lantun ayat suci terus mengalir dari mulut teman-teman Wono—mulut yang untuk beberapa waktu ke belakang lebih akrab dengan minuman keras, tubuh wanita dan umpatan.

Hingga jama’ah tahlil sampai pada ayat yasin ke empat puluh lima mereka merasakan bumi di bawahnya bergeletar, bacaan berhenti. Geletaran makin menggila, orang-orang dalam kontrakan itu terhuyung-huyung menggapai pintu keluar, namun Wono, Rikisu, Gasir, Tepo dan Terong seakan dipatrikan di dalam rumah itu sementara bibir mereka seakan dipatrikan satu sama lain, membisu. Mata mereka melihat satu sama lain, bersamaan dengan itu tembok bata rumah tempat mereka bersandar tadi merobohi mereka seakan ingin menyelimutinya dengan damai. Rumah ambruk.  Wono, Rikisu, Gasir, Tepo dan Terong mati.

*

Klewer tengah duduk bersila menunggu di depan pintu berukir bagus itu dengan bosan namun senang karena disediakan untuknya rokok dan kopi kegemarannya oleh penjaga pintu yang menurutnya berwajah santai dan cukup menyenangkan untuk diajak berbicara tentang berbagai hal macam proyek tempat dia bekerja yang belum juga rampung hingga tentang perempuan-perempuan bertarif sekitar delapan puluh sampai seratus limapuluh ribu di lokalisasi yang tak jauh dari proyek dia bekerja. Tengah asyik bercerita Klewer terkejut oleh suara yang tak asing dari arah belakang.

“Wer!”

Klewer memutar badan, dari jarak yang tak begitu jauh dia tahu, “Rik?” Lekas rombongan kecil itu bergegas mendekat ke arah Klewer berdiri. Dengan santai dia meneruskan, “Kalian ikut-ikutan mati juga?”

Lelaki penjaga pintu berukir bagus itu menyela, “Sudah, sudah, tak perlu kalian ribut, masuk saja sekarang. Wer, kamu pimpin mereka nanti, karena perantara kamu yang membuat mereka mau membaca ayat-ayat suci itu.”

“Gampang.” Sembari mengisap rokok lalu mengepulkan asapnya.

*

Kalam menyeka peluh dengan kesal karena harus mencangkuli tanah di tengah malam begini sekalipun tanahnya cukup gembur lantaran dekat dengan parit kecil untuk mengalirkan segala air bekas kegiatan rumah tangga dari rumahnya.

“Sudah cukup, ayo kita ke rumah.” Ajak Leman.

Sembari berjalan ke arah ruang tamu melewati dapur dan ruang keluarga Kalam mengatakan, “Bumi saja tak sudi buat jadi rumah terakhirnya ya, Mas.”

“Iya, bahkan bumi mual dan muntah melihat tubuhnya tadi siang kan? Sialan Klewer itu, sudah mati masih buat susah saja.

Leman dan Kalam sampai di ruang tamu dan mendapati mayat Klewer masih di sana tertutup kain batik coklat. Ketika Leman menyingkap kain penutup seketika mereka melompat ketakutan lantaran mereka melihat wajah mereka sendiri pada pocongan itu. []

Artikel Terkait