Sherkan melompat ringan melintasi kerikil dan menyelinap ke serumpun semak- semak kismis merah. Seekor kucing hidup penuh energi dari kumis putihnya hingga ekornya yang bergerak-gerak di ujung badannya yang licin. Ia juga berada di sini di taman ini, namun hampir tidak menyadarinya dengan cara seperti Sophie memikirkannya.

Ketika Sophie mulai memikirkan tentang hidup, ia mulai menyadari bahwa ia tidak akan hidup selamanya.

Hari ini, di planet bumi, banyak yang menggerutu seperti Sophie: “Aku berada di dunia sekarang, tapi suatu hari aku akan pergi.. tidak adil bahwa kehidupan harus berakhir!” Betul, memang tidak adil. Jikalau hidup adalah hak yang paling asasi, maka kematian seharusnya adalah musuhnya yang paling utama. 

Sayangnya memang kematian tidak bisa didudukkan di kursi pengadilan Den Haag. Kematian begitu senyap. Banyak yang tidak kesampaian berpikir bahwa kematian adalah penjahat yang paling jahat.

Bagaimana tidak jahat? Gara-gara kematian, Karl Marx dan Friedrich Engels dibuat tak kuasa mengecap manisnya nuansa berkehidupan yang komunal. Hitler pun sama, Pan-Jermanisme dibuat tutup umur setelah ia terkubur. 

Taqiyuddīn an-Nabhānī juga tidak bisa lepas dari peluru tajam kematian. Sbelum bisa melihat khilafah kembali terbit, ajal sudah keburu menjemputnya. Pun begitu dengan Trump. Sebelum Amerika great again, siapa yang bisa jamin kelak ia masih bernafas?

Semua cita-cita manusia terhenti karena kematian. Kematian adalah otak kenelangsaan; karenanya, kematian sudah saatnya diperangi. Kalau para hakim tidak sanggup mengadilinya, para ilmuwanlah yang mesti. 

Kira-kira jalan berpikir seperti itulah yang dijajaki oleh mereka yang sekarang berjuang memerangi kematian. Sebutlah salah satu katalisnya adalah Innokenty Osadachy, seorang investor bangkir berusia 35 tahun. “Kenapa saya harus mati untuk beberapa dekade? Ini tidak logis,” ungkapnya.

Baca Juga: Misteri Kematian

Osadachy tidak mau mati. Tidak dalam setahun, atau bahkan jutaan tahun. Mati tidak cocok dengannya yang bisa meng-kun fayakun-kan segalanya dengan uangnya; karenanya, ia siap membayar berapa pun untuk membekukan otaknya hingga teknologi membuatnya dapat terus melangsungkan hidup, kelak di masa depan dengan tubuh yang terbarukan.

Berperang dengan kematian memang seakan menjadi tren belakangan ini. Sebuah perusahaan kryonik Rusia, KrioRus, meyakini otak berfungsi seperti perangkat keras komputer. Isinya dapat dibekukan dan kembali dibuka di masa depan. 

Sejak 2005, KrioRus tercatat sudah merekrut 30 klien seperti Osadachy. Harga yang dipatoknya sekitar 10 ribu dolar Amerika atau setara Rp94 juta untuk pembekuan otak, dan 30 ribu dolar atau Rp282 juta untuk pembekuan seluruh tubuh.

Tak mau kalah, di tahun 2012, para gerontolog—ahli ilmu tentang proses & gejala penuaan—ditunjuk untuk membidani proyek rekayasa di Google; tujuannya sama: membunuh kematian. 

Bill Maris, pemimpin perusahaan pengelola investasi Google Venture mengatakan, “Jika Anda tanya saya hari ini apakah mungkin hidup sampai 500 tahun, jawabannya adalah ya.”

Immortalitas sudah jadi tren. Proyek besar manusia (sekular) adalah peralihan dari homo sapiens menjadi homo deus (menyerupai Tuhan).

Melahap daftar panjang proyek terbarukan manusia membunuh kematian memang menarik. Ada semacam kemewahan. Kebanggaan terlahir sebagai makhluk berpikir. Optimisme, menyongsong masa depan. 

Namun, tak bisa dimungkiri memang, itu semua seakan menyisakan sebuah pertanyaan. Mendasar sekali. Pertanyaan itu wajib kita tanyakan pada diri kita, teman kita, keluarga, orang tua, nenek-kakek kita, semuanya. Tanya saja: sebegitu menakutkankah kematian?

Dari neneknya, Sophie mengerti, mati sama sekali tidaklah menakutkan. Sophie ingat sekali neneknya pernah mengatakan sesuatu semacam itu pada hari ketika dokter menyatakan dirinya sakit. “Baru kali inilah aku menyadari betapa kayanya kehidupan ini.”

Mati adalah motivasi. Mati adalah anjing komplek yang melatihnya jadi pelari. Hanya dengan membangkitkan perasaan mendalam bahwa suatu hari kita pasti mati, maka kita akan menghargai betapa beruntungnya kita bisa hidup. 

Stephen Hawking pun berpendapat demikian, hidup dengan diagnosis kematian dini telah banyak memberikan pendekatan filosofis untuk kematiannya. Seperti komputer yang akan berhenti bekerja jika komponennya rusak, begitulah kematian bagi sang kosmolog atheis itu. Hanya masalah teknis saja.

Tahun 2011, kepada The Guardian, makanya Hawking percaya diri bilang: “Saya tidak takut pada kematian, namun saya juga tidak terburu-buru untuk mati. Banyak hal yang ingin saya lakukan terlebih dahulu.”

Lagi pula memang benar sih. Apa sih yang perlu ditakutkan dari kematian? Ketakutan untuk dilupakan? Selama kita beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, kenangan hanyalah masalah waktu. Masalah Aṣr. 

Paling tidak Mālik bin Nabī telah membuktikan itu. Baginya, peradaban adalah hasil penjumlahan dari manusia + tanah + waktu. Ketika jasad seorang manusia yang asing telah bertemu dengan tanah, maka hanyalah masalah waktu sampai ia datang kembali dari keterasingan.

Dan terbukti sudah. Setelah Binabī bilang: “Saya akan kembali setelah 30 tahun” di penggal napas-napas terakhirnya, hari ini ramalannya ternyatakan sesuai hitung- hitungan teori peradabannya.

Bukunya yang diterjemahkan ke berbagai bahasa. Teori-teorinya yang banyak termaktub di diktat-diktat perkuliahan. Ide-ide kebangkitannya yang brilian, dipakai oleh Turki, Malaysia, sampai Israel ikut serta mendaras pandangan-pandangannya yang realistik tentang peradaban.

Di zaman di mana semua hal menjadi mekanis, serba terukur, logis adalah suatu hal yang tepat memang mendengarkan apa yang dikatakan Epicerus: “Kematian tidaklah menakutkan bagi kita; sebab selama kita ada, kematian tidak bersama kita. dan ketika ia datang, kita sudah tidak ada lagi.”

Kematian memang tidak pernah menjalin hubungan dengan kita orang yang hidup, tidak juga dengan kita yang mati. Seperti diam dan gerak, kematian tidak akan bertemu di waktu yang sama dengan kehidupan.

Karena kematian tidak pernah menjalin hubungan dengan orang hidup, adalah suatu aproria (keganjilan) memang mendengar keluh-kesah tentang kematian dari mereka yang (masih) hidup. Karena yang paling benderang adalah fakta bahwa sefasih apa pun perkataan mereka tentang kematian, mereka bukanlah pelaku kematian. 

Adalah sesuatu yang rumit memang. Namun, begitulah: bagaimana bisa kita berbicara tentang ketiadaan dalam kemengadaan kita?

Logisnya, kematian memang jadi menakutkan bagi mereka yang begitu mencintai hidup. Entah bagi mereka yang yang percaya kehidupan setelah kematian, ataupun tidak. Tidak akan takut kehilangan, kecuali memang yang cinta kelewatan. 

Alberto Knox mengumpamakannya kepada Sophie seperti serangga yang lahir di pucuk bulu kelinci yang dikeluarkan dalam topi. Mereka yang terbuai akhirnya menyelusup ke dasar bulu, enggan bertahan di pucuk untuk membongkar trik si tukang sulap (Tuhan).

Sebagian di antara mereka jatuh bertumbangan, setelah sekian lama hidup bertengger di pucuknya sejak terlahirnya. Namun yang lain tetap bertahan mati-matian dan meneriaki mereka—orang-orang yang terbuai di tengah kelembutan bulu (kehidupan) yang nyaman.

“Ibu- ibu.. bapak- bapak,” mereka yang bertengger di pucuk berteriak, “kami melayang-layang di angkasa!” namun tak ada seorang pun di antara mereka yang peduli.

“Huh, gerombolan pembuat onar!” kata mereka yang berada di dasar bulu. Dan mereka terus berceloteh: “Tolong ambilkan menteganya, ya? Seberapa banyak saham kita naik hari ini? Berapa harga tomat?

Begitulah mereka yang sudah dikabutkan oleh cinta buta terhadap dunia. Segala intrik kehidupan yang melenakan di dasar bulu kelinci telah membuat mereka berontak saat dijemput oleh kematian untuk beranjak pergi dari sana. 

Jadi, persoalannya bukan percaya atau tidak percaya dengan kehidupan di luar bulu (setelah kematian), semuanya pasti sepakat keluar dari seluk-beluknya (kematian) itu perlu. Di dalam topi segalanya sesak. Kesehariannya mudah ditebak. Keluar darinya adalah niscaya.

Hatta sepertinya bagi mereka yang punya prinsip berjuang, kehidupan memang membosankan, melelahkan, penuh tipuan. Tepat seperti yang Alqurān darasakan pada kita: “Lai’bun wa lahwun wa zīnah.”

Iya, apalagi belakangan hari ini: saat kekacauan iklim merebak, perang yang meluluhlantakan, kemiskinan, kelaparan bergentayang, tidakkah itu semua cukup untuk membuat kita mengangguk iya mendengar keluh filsuf yang sering Soe Hok Gie ulang-ulang:

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua.”

Kelahiran dan kematian hanyalah sebilah peristiwa kecil, yang punya dampak besar. Apa sih yang dicari dari keabadian kalau segalanya pada akhirnya berakhir pada titik nadir kejenuhan?

Akhirnya akhir memang sebuah kebutuhan, entah cerita hidup kita ada di alur komedi ataupun tragedi, kita butuh ending sebagai sentuhan akhir. Bagi kita yang hidup dalam tragedi, mati adalah sebuah pemutus kesengsaraan. Bagi kita yang di komedi, mati ada pelipur kebosanan.

Makanya, daripada sibuk berperang dengan kematian, adalah lebih baik apabila kita memikirkan kehidupan kita untuk hari ini (live for today). Mencari tujuan, meraihnya dengan tekad, menafikan segala yang merintanginya.

“Aku harus meraih hidupku. Pekerjaanku delapan jam yang harus kubuang dalam sehari, menghalangiku untuk meraih hidupku,” kata Marseult di novel Albert Camus: La Mort Heureuse. Karena Marseult tahu, “Satu-satunya tugasmu dalam hidup adalah berbahagia, seperti kata Zagreus.

“Aksirū dzikra hāzim al- lazzāt,” sabda Rasūlullah ﷺ. Kematian memang harus diingat-ingat; karena benar, kematian adalah penghancur segala kelezatan. 

Namun, dengan dalih itu, tidak pula kita mesti mati-matian terus memikirkan kematian, sampai lupa bagaimana mesti memperlakukan hidup, padahal jelas- jelas Allāh ﷻ berfirman: “wa lā tansā nasībaka min ad- dunyā.”

Sayang memang, hari ini yang terjadi sepertimana kata Syaikh Qadhāwī: banyak yang ingin mati syahīd, sedikit yang ingin hidup mulia.