Batara Kala membawa gelap yang menyusup dari balik jendela, menelan larik cahaya terakhir ke dalam selimut hitam. Pulau Jawa dan jantung negara kesatuan Republik Indonesia, Jakarta, terkurung dalam selubung kedap cahaya.

Pemadaman listrik massal (Blackout) yang dilakukan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) tanpa permisi dan basa-basi membuat kediaman warga dan pujasera hanya diterangi oleh lilin pucat yang dipasang satu dua. Ketika sumbu dinyalakan, cahaya redup bergoyang menyambut. Menciptakan sebuah keremangan ganjil.

Selepas swastamita, malam pun kini sepi dari ingar bingar penuh godaan akibat terkaman kegelapan. Begitu pula Jagat Mayantara yang selama ini menjadi etalase semu yang sarat dengan narsisisme dan pergunjingan, mendadak mati suri.

Rupanya, impuls-impuls listrik telah menjadi manifestasi Tuhan bagi umat di Pulau Jawa, khususnya ibu kota, yang teralu lama berkelindan dalam manisnya modernitas. Inilah ironi sekaligus paradoks yang membuat miris. Sontak, kita sadar bahwa kemajuan teknologi yang kerap membuat kita jumawa, sesungguhnya justru membuat kita terkutuk menjadi impoten, tak berdaya.

Sebut saja internet, sistem administrasi, sistem kelola lalu lintas, transportasi massa, komputer, gawai cerdas, alat penunjang sistem kesehatan di rumah sakit, dan masih banyak lagi. Ketika energi listrik tercerabut, maka peralatan yang sofistikatif itu menjadi cangkang kosong tak berjiwa.

Implikasinya, bukan hanya emosi yang membuncah akibat terganggunya rutinitas keseharian kita, namun juga profit yang seharusnya mengisi pundi-pundi kas para saudagar dan wirausahawan, menjadi tereduksi secara signifikan seiring melemahnya kapabilitas kerja akibat vakumnya daya listrik. Alhasil, efek domino pun bergulir dan turut melabrak perkenonomian nasional.

Salah satunya, Andrean Sugiarto, pemilik restoran hidangan laut terkenal bernama Kepiting Keki di bilangan Sumur Batu, bersungut-sungut atas kerugian yang dia alami selama peristiwa Blackout tempo hari: 

"Blackout itu bukan perkara sepele ya, Saya jadi hilang pendapatan sekitaran 6 juta rupiah hari minggu kemarin, gara gara pemadaman listrik, padahal kami sedang launching menu spesial baru."

Sedu sedan Koh Andre tersebut turut melengkapi senarai elegi mereka yang menjadi merasakan pahit getir, ketika listrik tak menyertai mereka lagi, seperti orang yang terjebak di lift yang padat berisi 15 orang, penulis yang naskahnya belum di-save, dan supir ojek daring yang gawai cerdasnya mendadak kehabisan daya.

Karenanya, wajar jika Pemimpin Soviet Rusia, Vladimir Ulianov Lenin, menganggap listrik sebagai komponen ultra-esensial. Ia sendiri mendefinisikan Soviet Rusia sebagai Birokrasi + Elektrifikasi. 

Ketika Soviet Rusia baru berdiri seumur jagung, pria blasteran Turki-Mongol-Yahudi ini segera menginisasi berdirinya Dnepprprostoff, sebuah kawasan industri dengan bendungan raksasa dan pembangkit listrik di sungai Dnepr, yang merupakan tulang punggung perindustrian Soviet Rusia.

Namun, di tengah kekisruhan tersebut, ada saja individu yang turut menabur garam di atas luka, dengan memberikan komentar bernada sinis nir-empati. Narasi yang amat tendensius tersebut datang dari penduduk luar Jawa yang mendaku menjadi korban kesenjangan pembangunan yang sudah berlangsung berdekade-dekade. 

Berikut caci maki yang mereka lontarkan:

Orang orang di pulau Jawa kok lebay amat sih? Baru padam listrik beberapa hari doang udah pada ribut. Hal seperti ini sudah sangat sering terjadi di Sulawesi. Bahkan beberapa kali terjadi listrik padam sekaligus di dua provinsi, Sulsel dan Sulbar.

Di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, udah biasa mati listrik. Gak ada yang lebay kek Jakarta, baru mati dikit dah lebay kek kena serangan sihir gelap gulita aja. Bayangin tuh saudara sebangsamu yang hidup di pedalaman yg ga pernah merasakan mewahnya listrik dan susana perkotaan gimana rasanya? Nah, sekali² kalian juga harus mencoba untuk merasakan gimana rasanya kek mereka. Bak kata pepatah berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Baru 8 jam aja udah kalang kabut pake bilang sejarah paling lama.Kami di Riau listrik mati 24 jam aja kami santai aja!

Kalimat-kalimat bernada masokis tersebut seolah ingin mengibarkan panji-panji derita, ingin suara mereka didengar dan diakui bahwa mereka adalah produk kesengsaraan absolut yang tak terperi. Jika ada perhelatan Painolimpics, boleh jadi mereka akan mengantongi medali emas.

Ekspresi emosional ini juga menyiratkan terdapat konflik latensi yang bersifat dingin. Bisa disebut pula sebagai sejenis kontravensi yang didorong oleh kecemburuan sosial, komunikasi yang tak sempurna, dan pemahaman-pemahaman sempit.

Kegelapan yang melingkupi rumah-rumah kita tempo hari ternyata menyingkap tabir yang lebih kelam akan ancaman kohesivitas kebangsaan. Kristalisasi kegeraman yang diidap warga luar Jawa itu kini kian mengangga ketika menemukan momentum di mana posisi mereka mendadak lebih superior.

Penulis rasa, argumen menyoal posisi dan lanskap ekonomi pulau Jawa dan ibu kota di mana teknologi menjadi elan vital telah banyak dieksplanasikan oleh warganet dan para pengamat yang cakap di bidangnya. Maka, ada baiknya kita menilik dari perspektif yang berbeda.

Yang patut diingat, katastropsi yang dialami masyarakat modern di mana mereka terdegradasi secara sistematis menjadi seonggok otomaton yang diperbudak oleh perangkat lunak dan sistem siber merupakan keniscayaan yang tak dapat ditawar-tawar.

Apalagi Presiden Jokowi sudah sesumbar dengan pelbagai visi serta jargon berorientasi futuristik "Panggil Programmer, seminggu kelar, "Revolusi Industri 4.0", "Dukung E-Sport", "Kita permudah dengan kartu ini-itu", dan lain sebagainya.

Mungkin kini segala gagasan beliau tersebut terkesan prematur dengan kejadian blackout yang terjadi belum lama ini. Ya tentu saja, apa gunanya teknologi yang andal tanpa modal fundamental, yaitu arus listrik?

Walau demikian, jika bukan sekarang, suatu saat nanti itu akan terjadi. Teknologi dan kemajuan yang selama ini hanya eksklusif dinikmati penduduk pulau Jawa, kelak akan menerpa sudut-sudut terpencil di Indonesia pula.

Kenyataan tak terelekkan itu, jika tiba harinya, akan mengikis daya tahan dan daya lenting warga luar Jawa. Sebagaimana yang kini diidap oleh mereka yang tinggal di wilayah sentral NKRI, dekat dengan ibu kota.

Jika sekarang ada yang mencibir dengan memakai amunisi derita korban ketimpangan pembangunan, justru membuktikan mereka itu tak ingin dan tak pantas untuk memperoleh semua privilege itu. Mereka tak ingin dibantu dan dipermudah. Mereka ingin terus hidup seperti kaum plebeian agar bisa tetap memelihara inferiority complex dan berlagak seperti 'Ratu Julid Maha Suci'.

Hemat penulis, daripada kita menginjeksikan toksik pada hati dengan prasangka negatif kepada korban blackout, lebih baik kita bersama coba ikut nasihat Friedrich Wilhelm Nietzsche yang mengajak kita untuk mencintai nasib kita—amor fati!

Imbauan Nietzsche mengharuskan penerimaan apa adanya tanpa bersikap fatalistik, melainkan berani mencipta dan mentransfigurasi pelbagai hal di dalam realitas, untuk menari di tepi jurang tak berdasar.

Kelihatannya, itu jelas lebih baik ketimbang pamer derita tak berkesudahan.