Sumber: Blog Pribadi Alobatnic

MPTs NU TBS memberikan tugas pada saya untuk menjadi pengajar Matematika sejak musim 2017/8. Menjadi pemain debutan dalam squad team teaching, saya gunakan untuk berinteraksi dengan guru lain yang lebih dulu bergabung serta alumni dan beberapa orang yang terkait dengan perjalanan MPTs NU TBS maupun menyiapkan kegiatan pembelajaran selama satu musim.

MPTs adalah kependekan dari Madrasah Persiapan Tsanawiyah, lembaga keenam yang didirikan oleh Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS). Kata NU sebagai kependekan dari Nahdlatul Ulama ditambah di depan nama madrasah sejak 1992 ketika lembaga ini bernaung di bawah Yayasan Arwaniyah, salah satu Badan Pelaksana NU (BAPENU). Menurut Pak Musthafa ‘Imron, sekretaris Madrasah TBS sejak 1982 sampai sekarang, lembaga yang didirikan pada tahun 1991 ini memilih lebih nama “Persiapan” ketimbang “I’dadiyyah” (Arab: الإعدادية, artinya “tahap persiapan”) agar mudah dipahami oleh masyarakat.

Tujuan MPTs didirikan ialah untuk menyediakan kelas khusus di Madrasah TBS yang menampung murid lulusan SD/MI tetapi belum memenuhi syarat masuk MTs NU TBS. Sebelum MPTs didirikan, murid tersebut ditampung di kelas 5 atau 6 MI NU TBS, guna diberi pelajaran agar dapat memenuhi syarat. Syarat tersebut ialah baca-tulis letter Arab serta pengetahuan dasar agama (seperti: Tauḥīd, Fiqh, dan Akhlaq) dan ilmu alat Bahasa Arab (misalnya: Naḥwū, Shorof, dan Insyā’). Sehingga kurikulum MPTs dirancang berdasarkan pemenuhan kebutuhan syarat tersebut.

Dalam peta tingkatan lembaga pendidikan formal, baik di Kementerian Pendidikan dan Budaya maupun Kementerian Agama, posisi MPTs boleh dibilang tidak di-reken secara resmi oleh keduanya. Istilahnya al-manzil baina al-manzilataini (Arab: المنزل بين المنزلتين, tempat yang terletak di antara dua tempat), ialah antara MI dan MTs. Walau begitu, ketika mulai berdiri, MPTs menyediakan 2 jenjang kelas. Pak Khoirul Umam, salah satu pengajar di MPTs, termasuk alumni ketika lembaga ini masih menyediakan 2 jenjang kelas. Belakangan jenjang kelas berubah menjadi hanya 1 saja sejak musim 2004/5.

Matematika di Madrasah TBS sendiri termasuk pelajaran non-agama yang diajarkan sejak masa awal berdiri dengan nama Ḥisāb (Arab: الحساب). Pelajaran non-agama lainnya antara lain ialah Bahasa Belanda. Pelajaran non-agama tersebut dimasukkan ke dalam kurikulum Madrasah TBS oleh Mbah Abdul Jalil bersamaan dengan perubahan nama madrasah dari “Tasywiquth Thullab” menjadi “Tasywiquth Thullab School” yang juga diusulkan olehnya pada tahun 1934.

Berkas Soeara T.B.S, majalah yang terbit setiap empat bulan dari Madrasah TBS, edisi Agustus 1938 (bertepatan dengan Jumadil Akhir 1357) menyebutkan bahwa Ḥisāb termasuk bagian dari kursus pengajaran yang diampu oleh Mbah Abdul Jalil selama 1 bulan dengan menggunakan bahasa pengantar Arab, Belanda, dan Indonesia. Jadi dapat diperkirakan pelajaran Matematika, dengan nama Ḥisāb, masuk ke dalam kurikulum Madrasah TBS pada kisaran tahun 1934-8.

Untuk tingkat MPTs, Matematika sengaja dimasukkan ke dalam kurikulum dengan tujuan utama supaya murid tidak lupa dengan pelajaran yang sudah diterima di SD/MI. Wajar, mengingat dulunya terdapat 2 jenjang kelas MPTs. Dengan demikian, muatan isi pelajaran Matematika di MPTs sama sebangun dengan kelas 6 SD/MI. Pada awal pendirian MPTs, pelajaran ini dimasukkan dengan nama Matematika (Inggris: Mathematics, Arab: الرياضيات).

Tugas mengajar Matematika di MPTs sebelum saya diberikan pada Pak Ahmad Farroch. Pak Farroch mengatakan pengajar sebelumnya ialah Pak Subchan dan Pak Ahmad Yunus. Jadi kalau dirunut, saya menjadi orang keempat yang mendapat tugas ini.

Dari Pak Farroch saya tahu kalau muatan isi pelajaran Matematika di MPTs sepenuhnya sama sebangun dengan kelas 6 SD/MI. Lebih lanjut Pak Farroch menyebut kalau belum ada buku acuan khusus kelas MPTs, sehingga buku Matematika kelas 6 SD/MI dipakai sebagai acuan pelajaran. Pak Farroch kemudian menyarankan pada saya agar turut memasukkan atau mengisi sepenuhnya dengan pelajaran kelas 7 SMP/MTs.

Berdasarkan beberapa tuturan yang diterima, dapat disimpulkan bahwa kurikulum Matematika di MPTs bersifat luwes, artinya rincian ditentukan sendiri oleh pengajarnya. Ketentuan dari madrasah sendiri ialah agar pelajaran yang diberikan dapat menjadi sarana supaya murid tidak melupakan pelajaran yang sudah diterima di SD/MI.

Tentu sebagai sebagai pengajar Matematika, saya kudu tahu tentang pelajaran ini. Itz common sense. For your information, pada dasarnya saya tidak suka Matematika, bahkan ketika belajar di Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Walakin karena keadaan yang tak bisa ditolak, seperti dalam pembahasan Fisika, Matematika terpaksa dipelajari untuk digunakan sebagai pembantu. Karena hanya sekadar menggunakan untuk keperluan tersebut, saya tidak pernah serius belajar Matematika.

Sayang, setelah mulai serius belajar Matematika, dari beberapa kali usaha mencari tahu melalui bacaan maupun obrolan, saya kesulitan mendefinisikan Matematika, termasuk juga memetakan cabang-cabangnya. Dengan cara ini dulu saya mulai mempelajari Fisika, hingga berdampak pada tahap tertentu mata kuliah yang diambil tidak sama dengan rekan satu angkatan. Dalam usaha mendefinisikan Matematika sekaligus memetakan cabang-cabangnya, memang belum ada bacaan yang memuaskan, pula obrolan. Karena itu saya kemudian mencari jalan memutar, dengan merunut kata Matematika, syukur dapat menelisik perkembangannya.

Baru saya sadari kalau istilah Matematika berasal dari Yunani Kuno, máthēma (Yunani: μάθημα) yang berarti: pelajaran, pengetahuan, kajian, dan ilmu. Kata máthēma kemudian memberanakkan kata lain, diantaranya ialah Mathēmatikē (Yunani: μαθηματικμ), yang  artinya belajar. Ketika dipakai di Yunani Kuno pada masa itu, kata Mathēmatikē satu tingkat lebih rendah di bawah kata Physikḗ (Yunani: φυσική), artinya pengetahuan tentang alam raya, yang kelak menjadi nama Fisika.

Kata Mathēmatikē diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Matematika yang dimaknai dengan ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah bilangan. Selain dapat ditemukan dalam kamus, makna Matematika juga dituturkan oleh beberapa orang. Abū Ḥāmid Muḥammad al-Ghozālī (Arab: أبو حامد محمد الغزالي), sufi asal Persia, menyebut Matematika sebagai ilmu yang berkaitan dengan perhitungan, perancangan, dan perilaku alam. Tan Malaka, filsuf asal Indonesia, menuturkan kalau Matematika ialah ilmu tentang bidang dan bilangan serta aljabar. Sementara Richard Phillips Feynman, fisikawan asal Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa Matematika adalah pencarian pola.

Dengan demikian, dapat dimaknai kalau Matematika adalah ilmu yang membahas tentang jumlahan, bangunan, hubungan, dan ketidakpastian dengan tujuan untuk mendapatkan pola dari sesuatu yang tampak berantakan.

Al-Ghozālī menyebut bahwa Matematika sama sekali tidak terkait dengan pembuktian maupun penyangkalan kebenaran agama. Namun, dirinya menjelaskan bahwa Matematika termasuk ilmu yang memiliki kaitan terhadap kebaikan pelaksanaan ajaran agama. Sehingga al-Ghozālī menyimpulkan bahwa hukum belajar Matematika dirinci menjadi dua: fardhu kifāyat (Arab: فرض كفاية, keharusan yang bersifat kolektif) dan fadhīlat (Arab: فضيلة, keutamaan untuk dilakukan). Hukum fardhu kifāyat diberikan untuk belajar Matematika yang diperlukan dalam masalah hubungan transaksi serta pembagian wasiat dan warisan. Sementara fadhīlat ditujukan buat belajar rincian Matematika secara lebih mendalam.

Kesimpulan dari al-Ghozālī dikuatkan oleh Abū Zakariyyā Yahyā an-Nawawī (Arab: أبو زكريا يحيى النووى), faqih asal Syiria, dan Muḥammad ibn Mūsā al-Khowārizmī (Arab: محمد بن موسى الخوارزمي), astronom asal Persia. An-Nawawī juga menyebut bahwa Matematika termasuk ilmu yang mendukung pelaksanaan ajaran agama, sehingga hukum belajar Matematika ialah fardhu kifāyah. Sementara al-Khowārizmī turut menguatkan bahwa Matematika diperlukan dalam urusan pembagian warisan dan wasiat, perdagangan, pengukuran tanah dan sungai, serta merancang bangunan.

Berdasarkan uraian dari al-Ghozālī yang dikuatkan oleh an-Nawawī dan al-Khowārizmī, dapat dikatakan kalau Matematika terkait dengan Fiqh. Fiqh adalah penafsiran keadaan terhadap sumber syarī’at (Arab: شريعة) yang dikembangkan oleh ‘ulamā’ (Arab: العلماء) sejak abad kedua hijriah (sekitar abad kedelapan masehi) untuk diterapkan sebagai aturan perilaku keseharian manusia. Sebagai sebuah disiplin keilmuan, fokus tilikan Fiqh dapat dilihat dengan indikator terukur dan teramati yang terkait langsung dengan keseharian manusia, baik dalam konteks personal, lokal, nasional, dan global.

Posisi Matematika terhadap Fiqh ialah sebagai pendukung dalam pelaksanaan. Misalnya dalam menentukan status kesucian air. Fiqh memiliki aturan yang menjelaskan bahwa isi air pada ukuran tertentu tetap suci walau bercampur dengan najis. Aturan tersebut diuraikan lengkap dengan indikator terukur dan teramati berupa batas minimal isi air tetap suci, tetapi tidak membahas cara mengukurnya dalam penampung yang beraneka ragam, seperti berbentuk kubus, balok, tabung, dsb. dst. Pada cara mengukur inilah Matematika memberikan dukungan.

Dukungan Matematika juga diberikan pada Fisika. Fisika adalah ilmu yang mempelajari cara alam raya berperilaku untuk ditiru dalam menghasilkan produk yang memudahkan keseharian manusia. Galileo Galilei, fisikawan asal Italia, menyebut bahwa Matematika merupakan bahasa alam raya. Bahasa alam raya ini kemudian ditulis dalam bentuk lambang dan bangun tertentu untuk memudahkan manusia dalam mengerti alam raya yang menjadi tujuan Fisika.

Posisi Matematika terhadap Fisika ialah sebagai pembantu dalam mencapai tujuan. Contohnya dalam meramalkan keadaan benda yang dicemplungkan ke dalam air. Fisika memiliki penjelasan bahwa benda dapat tenggelam, melayang, atau mengapung ketika tercemplung ke dalam air dengan indikator berupa perbedaan kerapatan muatan isi benda dan air yang menyebabkan tiga hal itu terjadi sekaligus cara menentukan nilai kerapatan. Namun, Fisika tidak menjelaskan aturan perhitungan, seperti perbandingan bilangan tertentu yang menunjukkan bahwa nilai kerapatan benda sama dengan, lebih kecil, atau lebih besar daripada air. Pada aturan perhitungan inilah Matematika muncul sebagai pembantu.

Matematika memang tidak dapat dilibatkan oleh Fiqh dalam penyusunan aturan perilaku keseharian manusia, masing-masing mempunyai sumber bahan kajian yang berbeda. Matematika juga tidak identik dengan Fisika, keduanya memiliki perbedaan kentara seperti pada masalah pengujian keabsahaan teori yang dihasilkan. Walau begitu, secara mandiri Matematika berguna dalam melatih kebiasaan berpikir teratur.

Berpikir teratur membuat hasilnya dapat diuji oleh setiap manusia. Selain itu juga bisa mengembangkan kecerdasan, yang dampaknya antara lain memudahkan manusia dalam menyelesaikan persoalan. Di sinilah letak kegunaan belajar Matematika tanpa dikaitkan dengan ilmu lain.

Karena itu kadang perkembangan Matematika terasa sekadar khayalan (imaginary) jauh dari kenyataan (reality). Misalnya ketika perkembangan Matematika sampai pada tahap mempertimbangkan bilangan yang mengandung nilai √(-1). Angka √(-1) tentu tidak dapat ditemukan ketika kita menghitung maupun mengukur secara langsung kenyataan yang sedang dihadapi. Namun, kemunculan angka yang disebut Bilangan Khayal ini kemudian dapat membiasakan manusia menyelesaikan persoalan yang rumit (complex) sehingga ketika kembali dialami terasa sederhana (simple).

Wajar kalau kemudian Matematika termasuk pelajaran yang diberikan di semua tingkatan sekolah dan setiap jurusan dengan pembahasan yang beragam. Di tingkat dasar, pembahasan Matematika ditujukan pada objek konkret (dapat diindra). Di tingkat menengah, pembahasan Matematika memadukan objek konkret dan abstrak (tidak dapat diindra), sehingga cabang Aljabar dan Analisis turut dilibatkan. Di tingkat tinggi, pembahasan Matematika dilakukan secara lebih rinci, baik pada seluruh cabang atau diambil cabang tertentu seperti Statistika, berupa pendalaman terhadap cabang tertentu atau diambil penerapan pada ilmu tertentu seperti pada Akuntansi.

Berdasarkan paparan tersebut serta pembelajaran yang berlangsung selama satu musim, rasanya perlu disusun “Ikhtisar Rencana Pembelajaran Matematika di MPTs” sebagai panduan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Dalam ikhtisar tersebut, Matematika dimaknai dengan ilmu yang membahas tentang jumlahan, bangunan, hubungan, dan ketidakpastian sebagai usaha mendapatkan pola dari sesuatu yang tampak berantakan.

Tujuan pembelajaran Matematika di sini ialah membekali murid agar dapat menerapkan penguasaan terhadap gagasan Matematika dalam menentukan pilihan. Dari tujuan tersebut, kemampuan yang dikembangkan ialah:

  • Merumuskan keadaan secara matematis;
  • Menggunakan Matematika untuk menyimpulkan rumusan;
  • Menafsirkan kesimpulan yang didapatkan; serta
  • Mengevaluasi tafsiran untuk mengerti keterbatasan Matematika.

Kemampuan tersebut dikembangkan melalui pembelajaran yang memuat cabang Matematika berupa Aritmetika serta diperkaya dengan Aljabar, Geometri, dan Statistika. Rincian muatan isi secara keseluruhan sebagai berikut:

  • Aritmetika
    • Pengenalan bilangan, angka, dan nomor;
    • Perbandingan bilangan real;
    • Pengurutan bilangan real;
    • Operasi bilangan real; dan
    • Pola bilangan real.
  • Aljabar
    • Kaitan antara pola bilangan real dengan bentuk aljabar;
    • Susunan bentuk aljabar;
    • Operasi bentuk aljabar;
    • Hubungan antar peubah;
    • Persamaan; dan
    • Grafik persamaan.
  • Geometri
    • Penyederhanaan bentuk nyata ke dalam bangun sederhana;
    • Titik, garis, dan sudut;
    • Keliling dan luas bidang;
    • Luas permukaan dan isi ruang.
  • Statistika
    • Datum, data, sampel, dan populasi;
    • Pengumpulan data: pengamatan, peramalan, wawancara, dan angket;
    • Pengolahan data: mean, median, dan modus.
    • Penyajian data: tabel dan grafik.

Setiap cabang yang diajarkan disertai penerapan yang disesuaikan dengan keterlaksanaan pembelajaran. Pembelajaran dilaksanakan dalam 2 pertemuan/pekan, dengan rincian 1 pertemuan = 40 menit dan waktu efektif 25 menit/pertemuan.

Dengan mempertimbangkan cakupan dan batasan materi yang diajarkan serta ketersediaan waktu pembelajaran, berikut ini ialah acuan dalam pembelajaran:

  • Sebelum seluruh proses pembelajaran dimulai, murid diharuskan sudah menghafal:
    • Hitungan 1-100
    • Penjumlanan 1-10
    • Perkalian 1-10
      • Kalau murid belum hafal, pembelajaran dimulai dari sini;
  • Semua perhitungan dasar yang menjadi contoh, latihan, tugas, dan tes tidak boleh melebihi ketentuan pada nomor 1;
  • Pembelajaran dimaksudkan murid menguasai Matematika, bukan dapat menghitung (perhitungan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan kalkulator);
  • Tidak ada metode/strategi/pendekatan pembelajaran yang ditentukan (menyesuaikan keadaan murid), tetapi sebagai rencana dipakai tahapan dalam pendekatan ilmiah;
  • Urutan materi yang diajarkan boleh diubah (menyesuaikan keadaan murid) dengan ketentuan cabang Aritmetika harus diselesaian;
  • Cabang Aljabar diutamakan pada materi bentuk dan operasi Aljabar;
  • Kalau murid tidak merasa eneg, disarankan membahas bagian persamaan;
  • Kalau murid merasa eneg dengan persamaan, pembelajaran meloncat ke cabang Geometri atau Statistika (menyesuaikan permintaan murid);
  • Cabang Geometri dan Statistika dapat dimasukkan dalam latihan dan tugas Aritmetika dan Aljabar;
  • Semua tugas boleh diselesaikan berkelompok dengan syarat setiap murid harus menulis jawaban secara individual dan siap ketika diminta menjelaskan dengan lisan;
  • Murid diminta untuk menyusun rangkuman isi pelajaran dan menulis kesulitan yang dihadapi dalam pembelajaran sebagai syarat mengikuti tes;
  • Murid bebas menggunakan bermacam cara yang dianggap lebih mudah dalam menjawab soal, dengan syarat menunjukkan caranya (tidak hanya hasilnya saja);
  • Tidak ada tes susulan dan remedial;
  • Pembelajaran remidial diberikan kalau nilai 50%+1 di bawah nilai minimal;
  • Nilai minimal yang ditentukan ialah 70;
  • Murid yang tidak mencapai nilai minimal harus mengikuti tes lisan berupa menjelaskan bagian tertentu yang disepakati di depan kelas.

Tentu banyak hal perlu diperbaiki, mulai dari rincian, urutan, bahkan tuturan yang disampaikan dalam catatan ini. Supaya tidak terasa abstrak, ikhtisar tersebut perlu dilengkapi dengan textbook dan workbook yang menjadi acuan secara konkret. Keperluan textbook disusun ialah untuk membantu pelajaran dalam memahami Matematika, mulai dari gagasan, sejarah perkembangan, sampai penerapan dalam keseharian. Workbook sendiri disusun untuk mendukung textbook sebagai sarana menguji pemahaman dan memandu latihan.

K.Sb.Wg.030939.180518.21:21

 

Tambahan

  • Kata “guru” yang dipakai di sini diambil dari Kirotoboso Jawa (singkatan bahasa yang bermakna) “di-gugu” dan di-tiru”, dengan harapan agar pengajar bisa berperilaku pantas sehingga layak di-gugu (memotivasi) dan di-tiru (menginspirasi).
  • Kata “murid” yang dipakai di sini diambil dari Bahasa Arab murīdun (Arab: مريد) yang artinya “sosok yang berkehendak”, dengan harapan agar pelajar bisa aktif terlibat dalam proses pembelajaran.

References

 

— Bibliography

Abdul Jalil. (1938). Cursus goeroe nahdlatoel ‘oelama’. Dalam Soara T.B.S., 2(1), hlm. 16.

Abū Ḥāmid Muḥammad al-Ghozālī. (2005). Iḥya` ‘ulūmu ad-dīni—volume 1, hlm. 24. Beirut: Dār ibn Ḥazm.

Abū Ḥāmid Muḥammad al-Ghozālī. (2010). Al-munqidh min al-dholāl wa al-maushul ilā dzi al-‘izzati wa al-jalāl, hlm. 6. Riyadh: Islamicbook.

Abū Zakariyyā an-Nawawī. (2005). Al-majmū’—volume 1, hlm. 48. Beirut: Dār al-Fikr.

Douglas Giancoli. (2005). Physics: Principles with Applications -- 6th ed. Hlm. 325-6. Upper Saddle River: Pearson Education.

Galileo Galilei. (1896). Le opere di Galileo Galilei: sotto gli auspici di Sua Maestà il Re d'Italia – VI, hlm. 232. Firenze: Tipografia di G. Barbera.

Jack R. Fraenkel & Norman E. Wallen. (2009). How to design and evaluate research in education—7th ed, hlm. 422-3, 427, 445-7, & 453. New  York City: McGraw-Hill.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Model silabus mata pelajaran sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah (smp/mts) mata pelajaran matematika, hlm. 5-6. Jakarta Pusat: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

M. Abdurrohman & M. Daniyal Fitrian. (2014). Praktikum ibadah bahagia dunia akhirat. Kudus: Madrasah TBS.

Margaret W. Perisho . (1965). The etymology of mathematical terms, hlm. 64. Pi Mu Epsilon Journal, 4(2), 62-66.

Mary L. Boas. (2006). Mathematical methods in the physical sciences, hlm. 47. River Street: John Wiley & Sons, Inc.

Muḥammad ibn Mūsā al-Khowārizmī. (1830). Al-kitāb al-mukhtaṣar fī ḥisāb al-jabr wa al-muqābala, hlm. 2. London: J.L. Cox.

Muḥammad ibn Qāsim al-Ghazī. (2003). Fatḥ al-qarīb al-mujīb, hlm.9. Beirut: Dār al-Kutub al-Islāmiyyat.

Musthafa ‘Imron. (2017). Selayang pandang perjalanan madrasah tbs kudus, hlm. 3-4. Kudus: Madrasah TBS.

Nasaruddin Umar. (2014). Ketika fikih membela perempuan, hlm. 1. Jakarta Barat: Elex Media Komputindo.

PISA. (2017). Pisa for development assessment and analytical framework -- draft version, hlm. 63-7. Paris: OECD.

Richard Phillips Feynman. (1963). Six easy pieces, hlm. 47. New York City: Basic Books.

Richard Phillips Feynman. (1965). New textbooks for the “new” mathematics, hlm. 15. Engineering and Science, 28(6), 9-15.

Richard Phillips Feynman. (1968). What is science?, hlm. 315. The Physics Teacher, 7(6), 313-320.

Roger L. Cooke. (2013). The history of mathematics  a brief course – 3rd ed, hlm. 84. Hoboken: John Wiley & Sons.

Tan Malaka. (1999). Ilmu Pengetahuan - Science. Dalam Madilog. Pusat Data Indikator.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. (2008). Kamus bahasa indonesia, hlm. 927. Jakarta: Pusat Bahasa.

— Interview

Wawancara informal dengan Pak Khoirul Umam pada 15 Juli 2017.

Wawancara informal dengan Pak Ahmad Farroch pada 7 Agustus 2017 dan 24 Mei 2018.

Wawancara informal dengan Pak Musthafa ‘Imron pada 9 Oktober 2017 dan 16 Mei 

2018.