Perempuan masih saja mengalami diskriminasi terutama dalam dunia kerja. Bahkan, para ibu juga mengalami diskriminasi. Sehingga, para ibu sulit mengembangkan ide – ide mereka dan menurunnya produktivitas kerja. Inilah yang disebut dengan maternal wall.

Maternal wall ( dinding ibu ) adalah istilah yang menggambarkan stereotip dan diskriminasi para ibu yang bekerja dan mencari pekerjaan. Perempuan yang sudah memiliki anak akan mengalami diskriminasi dari orang – orang sekitar lingkungan kerjanya. Mereka jadi sulit mendapatkan jabatan yang lebih tinggi karena peran mereka sebagai ibu.

Maternal wall adalah salah bentuk bias gender yang paling kuat dan menjadi bagian dalam kehidupan sehari – hari. Stereotip ini menghubungkan antara figur ibu dengan kemampuan seorang ibu dalam bekerja. Berdasarkan studi, maternal wall membandingkan antara perempuan yang statusnya sebagai ibu dengan perempuan yang masih gadis dan perbandingan tersebut merugikan seorang ibu dalam dunia kerja. Misalnya, seorang ibu 79% lebih kecil kemungkinannya untuk dipekerjakan, 100% lebih kecil kemungkinannya untuk dipromosikan, ditawarkan $ 11.000 kurang dalam gaji untuk posisi yang sama dan ditetapkan ke standar kinerja dan ketepatan waktu yang lebih tinggi.

Kasus mengenai maternal wall adalah Philips v. Martin Marietta Corp yang muncul pertama kali di hadapan Mahkamah Agung pada tahun 1971. Sejak saat itu, jumlah tuntutan hukum mengenai diskriminasi para ibu terus bertambah hingga pada tahun 1990 – an. Hal tersebut terjadi karena meningkatnya perbedaan upah antara ibu dengan bukan ibu.

Perempuan yang sukses dalam pekerjaannya, kemungkinan akan dipertanyakan kehamilannya, mengambil cuti hamil, dan memilih jadwal kerja yang fleksibel. Hal ini dianggap menyebabkan kinerja mereka menurun dan dukungan dari beberapa pihak juga tidak lagi didapatkan.Maternal wall yang dihadapi para ibu akan merusak karir mereka.

Adanya maternal wall dapat terjadi dalam berbagai faktor seperti perekrutan anggota, kolega atau individu yang melakukan evaluasi kinerja. Dalam perekrutan kerja, banyak yang beranggapan bahwa seorang ibu akan sulit untuk bekerja karena mereka tidak seluwes ketika sebelum menjadi ibu.

Para ibu mungkin juga diabaikan ketika ada tugas dan promosi jabatan karena dianggap tidak kompeten. Banyak yang beranggapan bahwa para ibu akan menyusahkan pegawai yang lain. Para ibu juga sering dihimbau untuk mengurus anak di rumah saja.

Berdasarkan penelitian, perempuan yang tidak memiliki anak dua kali lebih mudah mendapat panggilan interview dibandingkan seorang ibu yang memiliki kualifikasi dan memenuhi persyaratan yang sama. Hal ini dibuktikan dengan mengirimkan lamaran fiktif dalam perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan.

Maternal wall  juga didasari karena adanya pandangan bahwa perempuan tidak bisa bekerja dan berperan sebagai ibu secara bersamaan. Sebuah studi tahun 2018 melakukan survei dan hasilnya, lebih dari 50.000 orang di 18 negara mempunyai pemikiran bahwa perempuan tidak boleh bekerja apalagi jika sudah menjadi seorang ibu. Mereka beranggapan bahwa tugas laki – laki adalah mencari uang dan perempuan haruslah berada di rumah.

Maternal wall tidak hanya membahas mengenai seperti apa ibu tetapi, juga membahas bagaimana ibu berperilaku. Seorang ibu dituntut untuk menjadi sosok yang lembut sesuai kriteria masyarakat. Sering sekali kita dengar kata seperti ini “ kalau udah nikah dan punya anak mending di rumah aja, jadi seorang ibu yang menyambut suaminya pulang” atau “ jadilah sosok ibu yang baik dan lembut serta selalu berada di rumah “.

Di Indonesia, para ibu sering diasumsikan sebagai sosok yang cerewet dan terlalu menggunakan perasaan dalam bekerja. Para ibu sering menjadi bahan ledekan para pekerja lain baik secara sembunyi – sembunyi maupun secara terang terangan. Mereka sering diremehkan karena mereka adalah perempuan dan ibu.

Mereka yang mendapat cuti melahirkan lebih mudah untuk digeser posisinya dalam pekerjaan. Para ibu haruslah bersaing dengan bukan ibu untuk mendapatkan pengakuan lebih di tempat kerja. Mereka harus mempunyai ide – ide yang bagus dan update dengan teknologi agar posisi mereka tidak tergantikan dengan mereka yang lebih muda.Selain itu, tak jarang para ibu mendapatkan kecemburuan sosial karena adanya cuti selama bekerja.

Baiklah, jika anda bisa berspekulasi demikian mengenai ibu. Namun, tidak semua kehidupan orang lain itu baik – baik saja. Pasti ada yang mengalami perceraian dan ditinggal pergi oleh suaminya. Bagaimana seorang ibu bisa bertahan hidup jika tidak dengan bekerja?.  Untuk mencukupi kebutuhan nya sehari – hari dan biaya anak yang tentunya tidak sedikit, tidak mungkin hanya mengandalkan sumbangan dari para saudara dan kerabat dekatnya. 

Lalu, ada juga keluarga yang ekonominya yang menengah ke bawah dan demi mencukupi kebutuhan hidup, para ibu membantu perekonomian dengan bekerja agar kebutuhan hidup setidaknya tercukupi.

Tekanan ibu juga semakin berat dalam dunia kerja, ketika mereka berstatus sebagai janda. Mereka dikucilkan dan dianggap remeh oleh sekitarnya. Belum lagi banyaknya stigma negatif mengenai janda. Sungguh menyulitkan para ibu untuk mencari nafkah.

Lalu, bagaimana meruntuhkan maternal wall? Pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab. Faktanya, maternal wall sangat sulit untuk diruntuhkan melihat bagaimana sulitnya mengubah mindset setiap orang. Namun, kita bisa mulai dari kita sendiri untuk mengubah stereotip tersebut. Sesama perempuan saling membantu sama lain untuk mendapatkan kesetaraan.  Kita harus bersatu untuk terus maju dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman bagi para pekerjanya