Sebelum Widia menelpon, mengabarkan Dian sahabat kami meninggal, aku sudah tahu sebelumnya dari empat belas tahun lalu saat mendapatkan penglihatanku. Waktu itu Dian mengatakan jika Tuhan menciptakan aku menjadi hewan aku ingin menjadi elang. Ia seorang lelaki pemimpi, memiliki ambisi menaklukan dunia. Tapi Tuhan lebih sayang padanya, dia meninggal di usia muda dua puluh empat tahun.

Dari ribuan penglihatan, saat Dian meninggallah aku merasa gemetar. Bukan hanya duka kehilangan seorang sahabat, tapi penglihatan baru tentang kematianku sendiri. Aku sedikit terkejut, pikiranku melayang dalam lamunan. Di pemakaman, melihat kuburan-kuburan membuatku pusing. Aroma kematian begitu kental, penglihatanku hilang seketika.

Biasanya saat melihat seseorang aku akan melihat masa depan orang tersebut. Kali ini aku tak merasakan kekuatan itu lagi. Aku menyadari batas waktuku, dan aku pasrah. Ingatanku berputar empat belas tahun lalu saat mendaki Bukit Kaba, dan bagaimana aku mendapatkan kekuatan penglihatanku. Waktu itu hujan lebat ketika kami menuruni bukit untuk pulang. Lalu peristiwa buruk terjadi padaku, petir menyambar badanku namun ajaibnya tubuhku tak terbakar. Sukmaku melalang buana, hanya suara tak jelas yang kudengar sekilas.

Saat retina mataku menerima cahaya pertama kali dan melihat ruang yang serba putih, aku berpikir tlah berada di surga. Namun ketika mendengar suara ibuku dan semua orang yang menjenguk di rumah sakit, aku sadar bahwa petir telah membawaku ke tempat ini. Sejak itu siapa pun yang bersentuhan tangan atau bertemu mata denganku aku bisa melihat masa depannya.

Awalnya sedikit risih dengan kemampuan itu. Kebanyakan tentang kematian, darah, luka, kesedihan dan sedikit kegembiraan. Aku berpikir apakah kehidupan seperti itu? Fana kehidupan itu menyakitkan, mungkin di akhirat semua akan berubah.

Tiga hari koma membuatku lelah, ditambah kemampuan yang aku miliki itu menguras energi. Pertama kali mendapat penglihatan dari suster yang memeriksaku. Aku melihat air mata yang tumpah, penghianatan seorang kekasih dan cinta yang berakhir. Saat Veronika,  suster itu selesai memeriksa, aku mengatakan bahwa pacarnya Daniel menghianatinya. Veronika kaget, lalu berlalu dengan senyum manisnya.

Veronika mungkin berpikir otakku sedikit geser gara-gara tersambar petir. Tapi satu minggu sejak aku mengatakan itu padanya hal itu terjadi. Aku melihatnya, dia putus dengan pacarnya Daniel di Taman Setia Negara usai bertengkar hebat. Aku berpapasan dengan Veronika. Aku kasihan padanya. Veronika tersenyum melihatku. Ia seolah ingin mengatakan terima kasih atas nasehat yang telah aku berikan padanya.

Banyak penglihatan yang aku lihat, mulai dari hal-hal sepeleh, kesialan seseorang sampai kematian yang membuat derita. Hal bijak yang bisa aku lakukan dengan kemampuan itu adalah memperingati seseorang untuk berhati-hati dan menjaga dirinya. Rasanya sangat berdosa ketika aku tidak menasehati, tentu dengan batasan karena aku juga tidak ingin mendahului takdir.

Takdir membawaku pada anugerah yang besar. Aku menyadari itu dari awal saat suara misterius itu memperingatiku. Aku tahu Tuhan menitipkan anugerah itu untuk kebaikan. Bukan sebagai nabi yang memberikan risalah ketuhanan, tapi sesuatu yang lain.

Pagi ketika Dian meninggal aku melihat kematianku. Dadaku rasanya sesak, kepalaku pusing seperti dihantam batu. Aku sadar harus memberikan kebahagian pada orang tuaku sebelum kematian itu datang. Selama empat belas tahun aku tak pernah menceritakan kemampuanku itu pada siapapun, termasuk orang tuaku. Tapi pagi itu ibuku terlihat aneh. Dia menatapku dengan raut wajah sedih dan memelukku.

"Ibu kenapa? Apa yang terjadi bu” Ucapku khawatir.

“Ibu tak apa-apa nak, hanya merasa sedih saja, ibu teringat ayahmu” Kata ibu sambil terus memelukku.

Aku tak mengerti apa yang terjadi dengan ibuku, namun sesuatu telah membuatnya mengeluarkan air mata. Aku tahu jawabannya klise, ada rahasia yang disembunyikannya.  

Pulang dari pemakaman Dian kepalaku pusing sampai malamnya. Keningku berdenyut menandakan sesuatu. Aku sempat menulis beberapa halaman sebelum aku tidur. Ibuku masih dengan raut wajah sedihnya. Lagi-lagi dia tak mau menceritakan apa yang terjadi.

“Ada sesuatu yang mesti dikatakan, dan ada sesuatu yang berat untuk diungkapkan” Kata ibuku saat aku sedang menulis.

“Iya bu, thanks. Selamat malam” Balasku sambil tersenyum seolah mengerti maksudnya.  

Aku belum bisa tidur, mataku masih gagah untuk melihat cahaya. Aku ingin terus menulis sampai mata ini meredup.

Aku menyadari waktuku, tapi waktu tak bisa ditebak. Bisa saja seseorang mati ketika dia dalam keadaan sehat, atau sebaliknya terus hidup walau dia dalam kondisi sakit. Aku tak ingin berpikir tentang kematian, sebab ia hanya melahirkan tangisan. Yang aku pikirkan saat ini adalah bagaimana memanfaatkan waktu untuk kebaikan. Kucoba menepis penglihatanku dan berkonsetrasi pada draf novel yang aku selesaikan.

Hari demi hari berlalu dengan normal, seperti kegiatan konselingku dan menulis seperti biasanya. Ketika kemampuan masih ada aku manfaatkannya untuk proses konseling. Tapi sejak kemampuanku hilang semangatku tetap besar untuk membantu orang lain. Suatu ketika aku bertemu dengan klien yang memiliki penglihatan sepertiku dulu. Dia mau melakukan konseling karena tak ingin dibawa ke psikiater oleh ibunya. Kemampuannya dianggap aneh oleh temannya dan ibunya khawatir anaknya gila.

 “Aku tahu apa yang terjadi, juga penglihatanmu yang hilang” Kata Sisil, klienku. Aku tak menghiraukan ucapan Sisil. Hanya ingin fokus pada proses konseling dengannya. Namun, belum sempat aku bertanya dia menghentikanku lagi.

 “Stop bodoh! kita ini manusia percobaan” Ucap sisil keras padaku. Aku diam. Binggung dengan kemarahannya. Ia menjelaskannya perlahan, tentang sejumlah ilmuan yang melakukan penelitian di Bukit Kaba serta hubungannya dengan kemampuan kami. 

 “Supranatural Brain Future atau (SBF)” Kata Sisil menyakinkanku. Aku masih binggung, antara percaya dan tidak.

“Orang tuamu pasti tahu, merekalah yang mendaftarkan kita menjadi kelinci percobaan itu” Ucap Sisil lagi.

Aku marah pada Sisil, karena mengatakan ibuku yang tidak-tidak. Apalagi tentang kebohongannya itu.

“kita sama-sama terkena petir buatan, tubuh kita tidak terbakar, dan ada chip terpasang di leher kita dengan kode yang berbeda” Ucap Sisil terakhir kali dan ia pergi dengan meninggalkan tanya dalam pikiranku.

Aku tahu ada yang aneh sejak aku disambar petir itu. Ibu tak pernah membahas apapun, semua yang terjadi padaku ia tutup untuk menjaga kenyamananku. Cerita Sisil membuatku kacau, aku tidak bisa menginggat masa laluku, ingatan itu hilang. Sesampai di rumah aku meminta penjelasan dari ibuku. Ibu diam. Dia menanggis tersedu-sedu.

“Maafkan ibu nak, ibu berdosa, karena kesulitan ekonomi ibu terpaksa melakukan itu, maafkan ibu” Ucap ibu menjelaskan semuanya. Air mata penyesalannya keluar dengan menyisakan sakit dalam dadaku. Program SBF telah membutakan nurani dan meninggalkan sesal yang besar.

Tinggal menghitung waktu untuk program yang gagal. Chipku akan mati, yang berarti aku akan meninggal. Terjawab sudah tanggisan ibu dan rahasianya. Aku tidak menyesal menjadi program itu, setidaknya aku sudah melakukan yang terbaik untuk membantu orang lain. Aku bahagia karena tak lama lagi akan bertemu Dian di surga. Aku ingin terbang di langit Firdaus seperti angan kami empat belas tahun lalu di Bukit Kaba dulu, sepuasnya dan tanpa gangguan. (Tanjung Aur, 8 April 2018)