Senja itu kami sedang melayari sungai Nil di Kairo dengan Kapal Pesiar Andrea. Sambil menunggu santap malam siap, kami dihibur dengan tarian‐tarian tradisional Mesir. 

Saya sangat terkejut melihat penari-penari dengan busana yang sangat minim tampil seksi di hadapan kami setelah Tarian Tonoura yang ditarikan oleh seorang laki‐laki yang menari berputar melawan arah jarum jam. Gadis-gadis penari seksi ini menarikan Belly Dance (kabaret) atau populernya disebut tari perut.

Tarian ini terpusat pada gerakan perut, pinggul, dan juga bagian dada si penari. Mereka mengenakan busana yang sangat terbuka di bagian perut karena bagian inilah yang paling ditonjolkan penari dalam memamerkan kemampuannya. 

Dengan diiringi musik khas Mesir, mereka menari dengan gerakan erotik. Saya sangat risi melihatnya, terlihat juga beberapa ibu-ibu anggota rombongan yang mengalihkan pandangannya.

Namun saya lebih terkejut lagi ketika mengedarkan pandangan ke sekeliling, saya melihat mata-mata para pria terbelalak memandang liukan seksi tubuh penari tersebut. Mereka sangat fokus memandang dengan lekat, seolah-olah mau menerkam para penari. Padahal banyak dari mereka baru saja selesai menjalankan ibadah umrah di tanah suci. Tapi sebagian saya lihat ada juga yang segera meninggalkan ruangan.

Urusan mata keranjang pria ini, banyak saya dengar curhat dari para istri. Seorang teman bercerita, dia mendapati suaminya sedang memandang perempuan lain yang berpakaian minim dengan pandangan yang berlebihan. Atau cerita istri yang lain, mendapati di galeri gawai suaminya, penuh foto perempuan seksi. 

Bahkan berita yang baru-baru ini yang mencengangkan kita, tentang seorang perdana menteri negara Anu yang mempunyai kebiasaan menonton tayangan pornografi sehingga akunnya diretas.

Bagaimana para pria terhormat ini melakukan hal yang memalukan tersebut? Tidak mampu mengontrol pandangan mereka. Berawal dari pandangan mata yang tidak terkontrol, liar, bahkan memunculkan pikiran-pikiran negatif yang sering kali menjadi pemicu munculnya tindakan-tindakan kriminal, asusila, perselingkuhan, dan melanggar norma-norma agama.

Dalam kajian ilmu neurosains dijelaskan bahwa struktur otak dan pengaruh hormonal diketahui sebagai penyebab perilaku tersebut. Memang seorang pria punya kecendrungan kecerdasan visual yang lebih dari wanita. Sehingga kemampuan visualnya lebih kuat.

Mata pria ukurannya lebih besar dari mata wanita. Artinya, pria bisa melihat lebih jelas, lebih fokus, dan lebih jauh jangkauannya dibanding wanita. Secara garis besar, pria memang terbukti lebih unggul dari pada wanita dalam menyelesaikan tugas visual-spasial. Lobus parietal bawah adalah penanggung jawab pengenalan visual dan spasial. Pada laki-laki ukurannya kira-kira 6 persen lebih besar dibandingkan perempuan.

Pria sering tertangkap basah sedang menatap wanita cantik yang kebetulan melintas. Karena pandangan pria lebih fokus ke depan berbeda dengan pandangan wanita lebih melebar. Sehingga wanita tidak perlu menoleh karena jangkauan pandangan wanita lebih dari 180 derajat. Ini karena mata pria punya lebih sedikit jenis sel kerucut dalam retinanya.

Otak tengah merupakan bagian yang paling bertanggung jawab pada perilaku seseorang. Terdiri dari Amigdala yang berbentuk kacang almond tempat pemrosesan emosi. Di sana ada Hipotalamus yang salah satu fungsinya adalah memutuskan apa yang perlu mendapat perhatian dan apa yang tidak perlu. Hal ini dapat terlihat ketika mencintai atau membenci seseorang.

Sistem limbik terletak juga terletak di bagian tengah otak, dan membungkus batang otak. Bagian otak ini dimiliki juga oleh hewan mamalia sehingga sering disebut dengan otak mamalia. 

Sistem limbik berfungsi menghasilkan perasaan, mengatur produksi hormon, rasa haus, rasa lapar, pusat rasa senang, metabolisme, juga memori jangka panjang dan dorongan seks. Sistem limbik menyimpan banyak informasi yang tak tersentuh oleh indera. Sistem limbik inilah yang lazim disebut sebagai otak emosi atau tempat bersemayamnya rasa cinta dan kejujuran

Fitrah, laki-laki diberi limbik lebih besar dari wanita. Selain itu, inti hipotalamus, terutama pada daerah preoptik medial menunjukkan perbedaan struktur pada kedua jenis kelamin. Bagian yang mengatur tingkah laku seks ini 2,5 – 3 kali lebih besar pada laki-laki. Perbedaan ini besar pengaruhnya, terutama dalam cara dan gaya melakukan hubungan seks

Ukuran hipotalamus itu tergolong kecil pada seorang homoseksual (gay), hampir mendekati ukuran hipotalamus wanita. Simon LeVay ahli saraf dari Salk University, yang juga seorang gay menemukan bahwa bagian preoptik medial yang memicu perilaku seksual pada seorang homoseksual lebih kecil dari pada laki-laki yang sesungguhnya (heteroseksual).

Istilah “buaya darat” ( bukankah buaya adalah salah satu jenis reptil?) yang kerap dipakai untuk menunjuk para lelaki yang mata keranjang adalah sangat tepat. Tidak mengherankan karena daerah limbik temporal itu adalah sisa dari otak reptil, ketika otak mengalami evolusi.

Wah, kalau begitu jika memiliki pasangan yang mata keranjang seharusnya kita bersyukur karena berarti dia normal. Hal itu menunjukkan dia tidak punya kecendrungan gay. Karena daerah preoptik medial yang dimilikinya normal, yaitu 2,5-3 kali lebih besar dari yang kita para wanita miliki. Haha…

Sekarang kita tahu, penyebab sebagian besar para pria itu mata keranjang. Meski seharusnya mereka mampu menjaga pandangannya, namun tetap saja mereka melakukannya, karena begitulah fitrah mereka.