Dulu, sewaktu saya kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sering sekali di dalam kelas, saat proses belajar mengajar, saya ditertawakan oleh teman ataupun dosen. Kenapa sebab? Karena setiap saya berbicara, kalimat atau bahasa/aksen yang keluar dari mulut saya dianggap aneh/lucu oleh teman-teman ataupun dosen saya. 

Saya sama sekali tidak tersinggung atas tertawaan itu. Karena memang seperti itulah realitasnya orang Batak kalau berbicara (kedengaran seperti orang yang sedang marah). Sementara itu, orang dari daerah atau suku lain mendengar saya berbicara (mungkin aneh/lucu). 

Tapi itu semua tak penting. Mari kita ke pokok pembahasan.

Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan belum mendapat tempat di hati generasi bangsa. Hari kelahiran bahasa Indonesia yang jatuh setiap tanggal 2 Mei juga belum diketahui secara luas oleh publik. Bahkan kedudukan bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran pokok acap kali disepelekan dan dianggap sebagai pelajaran yang membosankan.

Indonesia adalah negara yang sangat luas yang membentang dari Sabang sampai Merauke; terdiri dari beribu pulau. Beranekaragam suku, budaya, dan adat yang itu menjadi satu kesatuan Negara Indonesia. Setiap suku mempunyai adat istiadat yang berbeda-beda pula, termasuk dalam bertutur (berbahasa).

Keragaman bahasa ini juga menjadi bagian dari keragaman masyarakat Indonesia. Di Indonesia, yang mempunyai masyarakat multikultur, terdapat sekitar 250 macam bahasa (Ikrar Nusa Bakti dalam Carunia Mulya Firdausy dkk., 1998: 60). 

Bahkan bisa jadi lebih dari jumlah tersebut apabila dihitung sekaligus dengan aksen dan dialek yang juga sangat beragam. Konsekuensinya, kenyataan ini dapat memancing adanya salah paham dan diskriminasi terhadap kelompok masyarakat atau individu yang menggunakan bahasa tertentu.

Tantangan utama dalam masyarakat yang multilingual adalah tumbuhnya sikap primordialisme kebahasaan. Ini artinya, akan timbul rasa bahwa bahasa kelompok kita lebih baik dari bahasa-bahasa kelompok lainnya. 

Pada akhirnya, primordialisme kebahasaan semacam ini dapat menimbulkan berbagai masalah yang sering tidak kita sadari, seperti tumbuhnya sikap prejudice atau diskriminasi terhadap bahasa yang digunakan orang lain. 

Taruhlah kita ambil contoh penggunaan bahasa yang ada dalam sinetron di berbagai stasiun televisi. Dalam beberapa kisah sinetron, entah disengaja atau tidak, ada pelabelan terhadap bahasa atau dialek tertentu. Dialek Jawa, Madura, dan Betawi (bahasa Indonesia yang berdialek Jawa, Madura, dan Betawi) diidentikkan dengan bahasanya orang-orang pinggiran yang berstatus sosial rendah.

Contoh ini sebenarnya bukan sebuah permasalahan diskriminasi bahasa yang sangat serius. Namun demikian, persoalan ini akan menjadi serius apabila kita membiarkan adanya diskriminasi bahasa (aksen dan dialek) secara terus-menerus terjadi terhadap kelompok pengguna bahasa tertentu.

Untuk itu, mengacu pada kondisi seperti di atas, dalam pendidikan multikultural, salah satu pokok bahasan utamanya adalah membangun kesadaran peserta didik agar mampu melihat secara positif keragaman bahasa yang ada. Dengan demikian, diharapkan kelak mereka akan menjadi generasi yang mampu menjaga dan melestarikan keragaman bahasa yang merupakan warisan budaya yang tak ternilai itu. 

Selanjutnya, agar harapan-harapan ini dapat tercapai, tentunya seorang guru harus mempunyai wawasan yang cukup yang berkaitan dengan keragaman bahasa ini. Sehingga nantinya dia mampu memberikan teladan terhadap peserta didiknya tentang bagaimana seharusnya menghargai dan menghormati keragaman bahasa atau bahasa-bahasa yang digunakan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.

Dasar dan Fungsi Bahasa

Ada beberapa definisi tentang bahasa. Pertama, bahasa adalah sebuah kumpulan dari bermacam-macam simbol yang dibentuk dengan menggunakan aturan-aturan yang kemudian digunakan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. (Understanding Human Communication, Rinehart and Winston, MO. 1979: 76). 

Kedua, bahasa adalah instrumen dari logika yang akan lebih tepat apabila dikatakan sebagai instrument social yang berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi di mana individu dapat bertukar pikiran (sharing idea) dan perasaan (feeling) antara yang satu dan yang lainnya. (My pedagogic Creed dewey on Education, Selected By Martyn’s dworkin, Teachers College, NY., 1979:27). 

Dua pengertian ini kurang lebih mengandung maksud yang sama, yaitu bahasa merupakan alat manusia untuk berkomunikasi dan berinteraksi antara yang satu dan yang lainnya.

Bahasa dapat memasuki wilayah politik dapat dilihat dari adanya politisasi terhadap penggunaan bahasa Indonesia oleh kelompok gerakan perlawanan sebelum kemerdekaan, pemerintah orde lama, orde baru, era reformasi, dan era pasca reformasi melalui berbagai cara seperti penggunaan kata-kata yang menjadi ikon pada era-era tersebut, hingga “pembakuan bahasa”.

Politisasi bahasa ini biasanya menjadi bagian dari upaya pemerintah pada waktu itu untuk memperkuat rezim kekuasaannya (Hooker dalam Latief dan Ibrahim., 1998: 58)

Sedangkan bahasa bisa memasuki wilayah sosial dapat dilihat dari adanya anggapan positif maupun negatif terhadap pengguna bahasa dan bahasa tertentu. Contohnya, adanya anggapan negatif terhadap masyarakat pengguna bahasa dari kelas sosial tertentu, seperti bahasanya orang yang mempunyai status sosial tinggi lebih halus daripada bahasanya orang yang status sosialnya rendah, meskipun anggapan ini belum tentu benar.

Kekuatan Bahasa, Aksen, dan Dialek

Bahasa yang secara umum berfungsi untuk mengungkapkan ide-ide manusia adalah merupakan fungsi bahasa yang telah diakui oleh semua orang. Namun demikian, ada fungsi lain dari bahasa, yaitu sebagai kekuatan bahasa itu sendiri. 

Keberadaan fungsi ini sering tidak disadari. Fungsi inilah yang oleh Rodman dan Adler (1997) dikatakan sebagai kekuatan bahasa keduanya membagi kekuatan bahasa ini menjadi delapan kategori, yaitu penamaan, kredibilitas, status, seks dan ras, kekuatan, afiliasi, keinginan, dan tanggung jawab.

Bertolak dari beberapa kekuatan bahasa tersebut di atas, yang perlu dicatat adalah bahwa kedelapan klasifikasi tersebut merupakan kekuatan bahasa yang secara umum sering terjadi. Namun tidak selalu demikian. Bisa saja kekuatan bahasa ini tidak mengindikasikan secara tepat keadaan seseorang atau kelompok pengguna bahasa tertentu karena keadaan manusia secara individu maupun secara kelompok adalah berbeda-beda. 

Kultur masyarakat yang unik, waktu dan tempat yang berbeda-beda juga dapat menyebabkan kedelapan kekuatan bahasa ini tidak selalu ada dalam bahasa-bahasa tertentu.

Aksen atau dialek adalah bagian penting dari bahasa yang menjadi karakteristik masing-masing masyarakat pengguna bahasa itu sendiri. Aksen, secara umum, menurut Gollnick dan Chinn (1998: 233-234), lebih mengacu pada pengertian bagaimana seseorang melafalkan kata-kata. Orang yang berasal dari Jawa akan mengungkapkan atau melafalkan huruf “T” seperti “tahun” menjadi “taun”. Berbeda dengan orang-orang yang berasal dari Aceh ataupun Bali.

Di sisi lain, dialek lebih mengacu pada dua hal, yaitu bagaimana seseorang menggunakan tata bahasa. Untuk mengungkapkan “aku tidak tahu”, orang Batak biasanya akan mengucapkan kalimat “tak tahulah aku”. Sedangkan orang Jawa, pada umumnya, akan berkata “aku ndak tahu

Perbedaan-perbedaan semacam ini penting untuk diketahui dan dipahami karena dalam masyarakat yang multilingual tentunya juga ada multidialek dan multiaksen. Sebagai konsekuensi dari perbedaan aksen dan dialek ini adalah adanya ketentuan terhadap kesalahpahaman yang bisa terjadi pada pengguna bahasa yang berbeda.

Untuk itu, hal penting yang harus dipahami oleh para pengguna bahasa adalah adanya prinsip bahwa tidak ada satu bahasa pun di dunia ini yang bisa mengeklaim sebagai bahasa yang paling baik dari bahasa lain. 

Owen yang dikutip oleh Chinn dan Gollnick (1998) menjelaskan bahwa tidak ada aksen dan dialek atau bahasa yang lebih baik dari yang lain atau tidak juga bisa dikatakan bahwa dialek “A” merupakan sebuah aksen atau dialek nomor dua atau substandar, menyalahi aturan, atau inferior dari yang lainnya. 

Dengan adanya pemahaman yang seperti ini, diharapkan bahwa guru atau dosen dapat menunjukkan sikap yang sebagaimana mestinya, yaitu sikap yang menghargai bahasa, aksen, dan dialek orang lain (siswa) di kelasnya. Tidak tertawa ketika mendengar salah satu dialek dan aksen khas siswa yang sedang berbicara adalah salah satu bentuk sikap menghargai bahasa orang lain.

Bahasa dan Kultur

Bahasa mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kultur. Dapat dikatakan bahwa bahasa tidak dapat dipisahkan dengan kultur, karena kultur itu sendiri merupakan bagian dari bahasa dan begitu juga sebaliknya. 

Kottak (1987:244) mencontohkan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada kultur juga menghasilkan perubahan-perubahan pada bahasa dan cara berpikir seseorang. Penjelasan ini menunjukkan bahwa relasi antara bahasa dan kultur adalah sangat erat.

Kultur dapat menjadi bagian dari bahasa atau sebaliknya. Kultur yang ada pada sekelompok masyarakat yang berada pada daerah tertentu dapat dilihat melalui bahasa yang mereka gunakan. 

Misal, bahasa yang digunakan oleh masyarakat nelayan yang tinggal di sekitar pantai itu berbeda dengan bahasa yang digunakan masyarakat petani yang tinggal di daerah pedalaman dan pegunungan. Artinya, bahwa setiap karakter bahasa pada masyarakat tertentu tidak bisa dikatakan lebih kasar dan tidak sopan bila dibandingkan dengan yang lain karena setiap bahasa mempunyai karakter yang sesuai dengan keadaan kultur di mana bahasa itu digunakan.

Oleh karena itu, guru/dosen yang mempunyai wawasan kuat tentang bagaimana bersikap dan menghargai keragaman bahasa akan mampu mempraktikkan nilai-nilai tersebut. Guru/dosen yang sensitif terhadap malah-masalah yang diskriminatif, khususnya terhadap diskriminasi bahasa yang terjadi di kampus/sekolah, maka niscaya usaha untuk membangun sikap mahasiswa/siswa agar mereka dapat selalu menghargai orang lain yang mempunyai bahasa, aksen, dan dialek yang berbeda, sedikit demi sedikit akan dapat tertanam dan kemudian tumbuh dengan baik.

Kejadian seperti dalam pembahasan-pembahasan diatas, sebenarnya adalah masalah serius dan tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Mahasiswa/siswa dan dosen/guru di kelas tersebut tidak bersikap sebagaimana seharusnya di dalam sebuah lingkungan akademis yang seharusnya penuh dengan nuansa saling menghargai antar sesama, termasuk menghargai perbedaan gaya bahasa yang ada. 

Apabila tidak dicermati secara serius, kejadian semacam ini lambat laun akan membentuk sikap pribadi yang tidak menghargai orang lain. Agar kejadian semacam ini tidak terjadi, maka ada beberapa hal penting yang harus dilakukan oleh dosen/guru dan kampus/sekolah sehingga proses pembangunan sikap yang menghargai orang lain dan, lebih khusus lagi, menghargai perbedaan bahasa dengan orang lain dapat diterapkan secara efektif.

Dalam hal ini, ada dua poin penting yang harus dilakukan oleh dosen/guru. Pertama, dosen/guru harus mempunyai wawasan yang cukup tentang bagaimana seharusnya menghargai keragaman bahasa. 

Wawasan ini adalah dasar utama yang harus dimiliki seorang dosen/guru agar sikap dan tingkah lakunya menunjukkan sikap yang egaliter dan selalu menghargai perbedaan bahasa yang ada. Dengan sikap yang demikian, diharapkan lambat laun para peserta didik juga akan mempelajari dan mempraktikkan sikap yang sama. 

Kedua, dosen/guru harus mempunyai sensitifitas yang tinggi terhadap masalah-masalah yang menyangkut adanya diskriminasi bahasa yang terjadi di dalam kelas maupun di luar kelas. 

Contohnya, ketika mayoritas mahasiswa/siswa menertawakan bahasa, dialek, dan aksen salah seorang temannya yang sedang mengungkapkan pendapatnya di dalam kelas, maka dosen/guru harus segera mengambil tindakan, seperti menghentikan tindakan mahasiswa/siswa yang sedang menertawakan temannya. 

Di samping itu, dosen/guru juga harus memberikan penjelasan bahwa menertawakan orang lain atau menertawakan aksen dan dialek orang lain adalah sebuah tindakan tidak terpuji, apalagi di dalam dunia akademis yang mana hal tersebut sangat dilarang.

Sementara itu, peran kampus/sekolah dalam mengantisipasi beberapa persoalan di atas sangat penting,. Langkah utama yang penting yang harus dilakukan oleh sekolah adalah membuat dan menerapkan kebijakan/peraturan. 

Peraturan dibuat bertujuan untuk melarang segala bentuk diskriminasi bahasa seperti menertawakan, mengejek, dan menghina bahasa orang lain (termasuk unsur-unsur kebahasaan lainnya seperti aksen dan dialek) di kampus/sekolah tersebut. Dengan demikian, apabila peran dosen/guru dan kampus/sekolah dalam pendidikan bahasa Indonesia telah terlaksanakan dengan maksimal, maka identitas dan jati diri bangsa tetap terjaga.