Derasnya perkembangan kemajuan teknologi dan informasi telah masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan manusia. Hal tersebut diistilahkan dengan Revolusi Industri 4.0, yaitu adanya penggunaan teknologi yang mempermudah pekerjaan manusia.

Kemajuan teknologi ini makin bertumbuh dengan adanya dorongan mempermudah pekerjaan manusia, sehingga aktivitas untuk memenuhi kebutuhannya lebih efektif dan efisien. Salah satunya di dalam urusan berbelanja. Kemajuan teknologi mendukung terciptanya berbagai macam aplikasi belanja online, seperti Shopee, Tokopedia, dll.

Kemudahan yang ditawarkan oleh keberadaan teknologi  mengakibatkan terbentuknya pola konsumtif pada masyarakat. Manusia terkonstruksi untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam pemenuhannya tersebut, manusia selalu merasa kurang, bahkan tidak pernah merasa cukup atas apa yang ia miliki.

Segala macam yang ditawarkan sangat menggiurkan manusia. Akhirnya, menjadikan candu dari suatu produk yang mengakibatkan ketergantungan dan sulit untuk dihilangkan. Ada pula pola konsumtif ini sebenarnya bukan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan semata-mata hanya pemuasan bagi dirinya sendiri.

Setiap orang memiliki kebutuhan hidupnya masing-masing dan mereka berusaha untuk memenuhinya dengan cara yang berbeda-beda pula. Ada yang sewajarnya dan ada pun yang berlebihan dalam pemenuhan kebutuhan. Hal tersebut yang menyebakan orang-orang untuk berperilaku konsumtif.

Menurut Baudrilland, kita hidup dalam era di mana masyarakat tidak lagi didasarkan pada pertukaran barang materi yang berdaya guna (seperti model Marxisme), melainkan komoditas sebagai tanda dan simbol yang signifikannya sewenang-wenang (arbiter) dan tergantung kesepakatan (conventional) dalam apa yang disebut “kode” (the code).

Artinya adalah bahwa manusia di dalam memenuhi kebutuhannya bukan untuk apa yang ia gunakan, akan tetapi lebih mengutamakan gaya hidup dan meneguhkan identitasnya serta kenikmatan yang dialaminya tersebut. Kebutuhan manusia di era globalisasi hanya sebatas untuk mengafirmasi identitas atau citra dirinya dipandang oleh masyarakat.

Masyarakat masa kini atau bisa disebut masyarakat konsumen, teralienasi dari dirinya sendiri. Mengapa demikian? Proses alienasi sedang berlangsung dalam masyarakat konsumen, akibat masyarakat masa kini menjual citra dirinya pada komoditas, benda, maupun uang.

Kebutuhan manusia bukan lagi dipandang dari segi kegunaan maupun fungsinya, namun segala kebutuhan tersebut dibuat menjadi citra, imaji, dan model-model yang dapat dikonsumsi. Tak hanya dalam proses kerja dan produk yang dihasilkan, melainkan juga seluruh kebudayaan, seksualitas, dan hubungan antarmanusia itu sendiri.

Perilaku konsumen terfokus dan berorientasi pada objek dan penikmatan. Seolah-olah hanya sebatas untuk mencari kepuasan maupun kebahagian setiap manusia. Sebenarnya pola konsumtif tersebut bukanlah dari kenikmatan yang diperoleh, akan tetapi dari produksinya.

Dalam analisis sosiologis Baudrilland, masalah dalam masyarakat kapitalis kontemporer ini bukan lagi kontradiksi antara pemaksimalan keuntungan dengan rasionalisasi produksi, melainkan antara produktivitas yang potensinya tak terbatas dan kebutuhan membuang produknya.

Dan menurut Jean-Francois Lyotard, produksi yang masif, terus-menerus, dan berlebihan menumbuhkan konsumsi yang setara. Hasilnya adalah produksi terus-menerus dan berlebih, kemudian dibutuhkan sarana pembuangan.

Seperti yang dilakukan oleh negara Jepang, barang-barang elektronik produksinya dijual dengan harga murah di negara lain. Contohnya di Indonesia, barang produksi dari negara lain yang masuk tentu harganya pun makin murah daripada di negaranya sendiri.

Sebenarnya, siapa yang salah sehingga muncul budaya konsumerisme? Apakah kapitalis atau konsumen sendiri?

Dalam kapitalisme, menurut Ludwig Von Mises, konsumenlah yang berdaulat. Semuanya bergantung pada konsumen itu sendiri. Kapitalis hanya menawarkan saja dan menuruti keinginan kepada para konsumen.

Jadi, benar yang pernah dikatakan oleh Adam Smith, “setiap perdagangan terjadi oleh kesepakatan bersama dan atas keuntungan bersama.” Terdapat hubungan simbiolis mutualisme antara pihak konsumen dengan pihak kapitalis (pengusaha).

Yang patut disalahkan munculnya budaya konsumerisme ini adalah pola konsumtif yang berlebih-lebihan pada diri setiap manusianya. Hasrat pemuasan pada diri manusia tidaklah pernah seutuhnya tercukupi, selalu merasa kurang, kurang dan kurang. Kebudayaan konsumerisme adalah patologis pada era masa kini.

Maksudnya adalah konsumsi yang meningkat hingga taraf berlebih ini berdampak negatif bagi aspek lingkungan, juga berdampak negatif terhadap aspek dan psikologis masyarakat itu sendiri. Sebagai contoh, demi memenuhi kebutuhan gaya hidup, tidak sedikit individu masyarakat yang menggadaikan nilai moral, mulai dari manipulasi hingga korupsi.

Yang jelas, fenomena budaya konsumerisme telah mengkhawatirkan (patologis), sehingga perlu adanya suatu gerakan untuk mengembalikan pola konsumsi manusia merasa tak akan tercukupi menjadi hal yang sewajarnya; tidak berlebihan. Seperti suatu gerakan konsumsi yang lebih mengacu kepada pengendalian hasrat.

Memang, sebagai makhluk sosial yang masih punya tuntutan untuk mengonsumsi suatu barang demi pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Namun alangkah baiknya membangun kesadaran diri untuk memahami bagaimana diri kita bisa berkontribusi di lingkungan untuk membuat sebuah perubahan.

Sebagai generasi muda, kiranya sudah menjadi tugas untuk menghindarkan diri dari arus kapitalis yang mendorong masyarakat menjadi konsumtif baik dengan senantiasa menggunakan barang sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan mampu memilih informasi yang tepat terkait dalam konsumsi terhadap suatu barang.