Pada 2017, Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia pernah merilis survei provinsi paling bahagia di Indonesia dengan mengukur indeks kebahagiaan masyarakatnya. 

Survei BPS bertajuk “Indeks Kebahagiaan Indonesia 2017” menyebutkan ada tiga metode pengukuran yang digunakan, yaitu: Dimensi Kepuasan Hidup, Dimensi Perasaan, dan Dimensi Makna Hidup. Data survei BPS tersebut menunjukkan Provinsi paling bahagia di Indonesia adalah Provinsi Maluku Utara dan diikuti Provinsi Maluku di Posisi kedua.

Mungkin banyak masyarakat Indonesia bingung dan terheran-heran karena Maluku Utara dan Maluku menjadi Provinsi dengan masyarakat paling bahagia di Indonesia. Padahal, Provinsi Maluku termasuk dalam kategori penduduk miskin menurut survei BPS. 

Bahkan mayoritas daerah di provinsi Maluku dikategorikan sebagai daerah tertinggal oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertingal dan Transmigrasi Republik Indonesia.

Alam Adalah Pasar Gratis

Kondisi alam Kepulauan Maluku terdiri dari 92,4% lautan dan 7,6% adalah daratan. Hal tersebut membuat Maluku memiliki potensi kelautan dan perikanan yang besar. Hutan Maluku yang masih asri juga menghasilkan berbagai hasil bumi yang melimpah, salah satunya pala dan cengkeh yang pernah menjadi incaran bangsa Eropa.

Aktivis Trash Hero Maluku, Dina Nahumarury mengatakan, “Alam menyediakan makanan gratis untuk masyarakat Maluku.” Dia teringat waktu ada konflik agama yang menyebabkan krisis di Maluku. Walaupun ekonomi lumpuh, masyarakat Negeri Tulehu, Maluku tetap bisa makan dari sagu dan ubi yang tersedia di hutan serta memancing ikan di laut.

Menurut Dina, masyarakat Maluku tidak pernah khawatir besok makan apa dan besok makan dari mana. Walaupun mereka tidak punya uang, alam bisa menyediakan bahan makanan secara gratis. Hal tersebut membuat masyarakat Maluku tetap merasa bahagia walaupun dikategorikan miskin oleh pemerintah Indonesia.

Pada saat krisis 1998 pun, masyarakat Halmahera Utara, Maluku Utara tidak terdampak krisis ekonomi. Masyarakat bisa mengambil makanan dari hutan karena pola tanam tumpang sari di kebun kelapa Halmahera. Jadi, masyarakat tidak perlu lagi membeli bahan makanan di pasar.

Budaya Persaudaraan Maluku

"Masyarakat Maluku mengenal budaya Pela Gandong, yaitu suatu ikatan persatuan dan saling mengangkat saudara. Bagi masyarakat Maluku, Katong Semua Basudara atau kita semua adalah saudara. Kita tidak bisa melihat orang lain kesusahan, kalau kita bahagia orang lain harus bahagia,” kata Dina Nahumarury.

Rasa persaudaraan orang Maluku yang kuat juga tercantum dalam lirik lagu Maluku Pusaka, yaitu “Dari ujung Halmahera, sampai tenggara jauh, katong semua basudara. Nusa ina, katong semua dari sana”. Lirik tersebut mempunyai arti pulau-pulau di Kepulauan Maluku disatukan oleh lautan, Masyarakat di Maluku Utara, Tengah, dan Tenggara semua adalah satu saudara.

Semboyan “Ale Rasa Beta Rasa”, “Sagu Salempeng Patah Dua” menjadi motto dalam hidup sehari-hari masyarakat Maluku. Semboyan tersebut mengandung arti bahwa sesama saudara harus saling merasakan bahagia.

Dina mencontohkah apa yang dilakukan masyarakat di tempat tinggalnya, Negeri Tulehu. Ketika ada satu keluarga memasak, dia akan pergi bertanya ke tetangganya, apakah sudah memasak atau belum? Jika ada keluarga yang belum memasak, pasti akan ada tetangga yang memberi makan secara cuma-cuma.

Begitu pun saat ada masyarakat yang pulang dari melaut, ada budaya Dorong Perahu. Ketika ada nelayan pulang dari melaut, pasti ada masyarakat yang membantu mendorong perahu ke daratan. Jika nelayan mendapat hasil tangkapan ikan yang melimpah, mereka selalu memberi ikan gratis kepada masyarakat yang membantu mendorong perahunya.

Setiap Negeri di Kepulauan Maluku punya kearifan lokal yang berbeda untuk mengontrol kebahagiaan masing-masing masyarakatnya. Negeri Tulehu mengenal Nahusanamang, yaitu menikah yang dibiayai oleh adat. Ketika ada orang menikah akan dibantu dananya oleh hasil patungan masyarakat Negeri tersebut.

Hal tersebut berlaku secara bergantian jika ada masyarakat lain yang mau menikah. Bapa Raja atau Kepala Negeri membebaskan kisaran biaya untuk patungan. Jadi, masyarakat di Negeri tersebut tidak akan pusing mencari dana untuk menikah.

“Masyarakat Maluku tidak pernah berfikir susah, mereka selalu berfikir positif dalam menjalani hidupnya. Budaya persaudaraan masyarakat yang tinggi membuat orang Maluku selalu hidup bahagia,” kata Dina Nahumarury.

Kenapa Papua Tidak Masuk Kategori Bahagia?

Pasti banyak orang bertanya-tanya, kenapa Provinsi Papua dan Papua Barat tidak termasuk provinsi paling bahagia di Indonesia?

Padahal tanah Papua tidak kalah kaya dengan Maluku, begitu pun dengan kekayaan lautnya. Alam Papua juga menjadi pasar gratis untuk makan masyarakat Papua. Namun, pelanggaran hak asasi manusia (HAM) kepada masyarakat asli Papua menjadi alasan masyarakat Papua tidak bahagia.

Ditambah pendekatan secara militer oleh pemerintah Indonesia untuk menumpas gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) memperburuk kondisi Papua. Sejak 2018 masyarakat Kabupaten Nduga, Papua mengungsi di hutan karena operasi Militer Pemerintah Indonesia untuk melawan OPM.

Selain itu, ancaman alih fungsi hutan mengancam hidup masyarakat adat Papua. Hutan adat masyarakat adat di Merauke dialihfungsikan menjadi kebun sawit, sehingga mematikan sumber pangan masyarakat adat di Merauke. “Nanti kalau hutan habis, kita mati,” kata salah satu masyarakat marga Mahuzes Merauke.

Berkaca dari Maluku

Berkaca dari kehidupan masyarakat Maluku, kita bisa belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dari banyaknya uang yang kita miliki. Kebahagiaan masyarakat Maluku muncul karena alam menyediakan kebutuhan hidup secara gratis. 

Rasa persaudaraan masyarakat Maluku yang tinggi melengkapi kebahagiaan tersebut. Mereka bahu-membahu menciptakan kebahagiaan versi mereka sendiri.

Tantangan terbesar masyarakat Maluku adalah menjaga kebahagiaan mereka tetap berlangsung. Masyarakat Maluku wajib menjaga hutan dan laut yang menjadi sumber kehidupannya. 

Budaya persaudaraan masyarakat Maluku harus terus dilestarikan oleh masyarakatnya sendiri. Jangan sampai kebahagiaan itu dirampas oleh oknum politisi dan Oligarki.

I’m not Moluccan, but I love Moluccas.