Dalam kehidupan, seseorang pasti sering beranggapan bahwa segala hal yang di dapatkan merupakan sebuah takdir. Terkadang seseorang juga menganggap bahwa diterima di perguruan tinggi dengan jurusan yang kurang disukai bukan karena pilihan melainkan takdir. 

Namun, dalam hal ini ada yang terlupakan, bahwa tidak semua yang didapatkan merupakan takdir melainkan pilihan. Dalam persoalan jurusan, saya lebih menganggap bahwa itu sebuah pilihan. 

Semua berawal dari pilihan diri sendiri atau saran orang terdekat. Jika dari awal sama sekali tidak memiliki kecocokan sudah pasti tidak akan memilih itu, termasuk di pendidikan kimia ini. 

Ada cerita dari pengalaman pribadi saya ketika memutuskan untuk memilih pendidikan kimia. Saya mulai tertarik dengan pendidikan kimia sewaktu kelas 10 MAN. Ada satu guru kimia yang telah mengisnpirasi saya. Dari cara beliau mengajar, saya menjadi suka kimia.

Saat itu, saya merasa bahwa kimia itu menyenangkan. Ketertarikan saya dengan mata pelajaran kimia berlanjut ketika saya diberi kesempatan untuk mengikuti beberapa event lomba kimia mewakili sekolah. 

Sewaktu kelas 11 MAN, ada sosialisasi bimbel yang membahas persiapan SNMPTN dan SBMPTN. Waktu acara sosialisasi, salah satu teman saya bertanya tentang pilihan jurusan apa yang nanti saya pilih. Bagi saya pertanyaan dia tidak terlalu privasi, kemudian saya menjawab pendidikan kimia. 

Mungkin ada anggapan berbeda dari teman saya yang mengetahui jurusan yang ingin saya ambil. Sebagian menanggapi dengan kalimat mendukung dan ada yang berpendapat bahwa jurusan yang saya ambil itu mempunyai passing grade yang rendah dan kurang cocok untuk saya. 

Sampai kelas 12 semester dua, pilihan untuk melanjutkan di pendidikan kimia masih saya pertahankan. Saya sendiri kurang tahu, mengapa saya sangat keras kepala untuk mengambil pendidikan kimia.  Bahkan setelah beberapa kali mengikuti sosialisasi SNMPTN maupun SBMPTN dan mendapat saran dari teman-teman saya untuk mengubah pilihan jurusan. 

Beberapa guru juga ikut menyarankan saya untuk memaksimalkan kesempatan SNMPTN. Saya mendapat saran agar mengambil salah satu dari pilihan jurusan Teknik Industri, Ilmu Tanah, atau Kimia Murni. Menurut beliau saya mampu dan cocok jika mengambil salah satu dari jurusan tersebut.

Pengalaman lainnya yang saya dapatkan ketika saya kelas 12 semester dua, beberapa teman kakak saya berkunjung ke rumah, kemudian salah satu dari mereka bertanya tentang jurusan ingin saya ambil. Saya menjawab seperti biasa, jurusan pendidikan kimia. Bagi saya bukanlah hal baru ketika mendapat respon sedikit kaget mendengar jawaban saya.

Namun, yang membuat saya merasa kurang suka karena salah satu dari teman kakak saya terpikir untuk meminta saya mengambil jurusan lain. Menurutnya prospek kerja lulusan pendidikan kimia itu sempit. Lulusan pendidikan kimia nanti lulus hanya jadi guru kimia dan hanya mengajar di tingkat SMA/MAN/SMK/SLTA.

Mungkin menurut sebagian orang dalam hal memandang jurusan pendidikan kimia punya perspektif yang berbeda-beda. Banyak yang menganggap memilih di pendidikan kimia karena persaingan yang tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan jurusan lainnya. 

Selain itu, mungkin banyak yang memandang bahwa di pendidikan kimia itu prospek kerjanya sempit. Bahkan ada yang memandang bahwa yang memilih pendidikan kimia pasti karena pilihan terakhir dan pasti karena takdirnya di sana.

Dari sekian banyak cerita pribadi saya ketika memutuskan untuk memilih pendidikan kimia, ada satu hal yang ingin saya garis bawahi. Lulus dari pendidikan kimia itu tidak hanya menjadi guru. 

Meskipun berada di jurusan pendidikan itu lebih difokuskan untuk menjadi tenaga pendidik. Tetapi, menurut saya hal itu merupakan sebuah pilihan hidup bukan sebuah keharusan. 

Prospek kerja lulusan Pendidikan kimia tentu memiliki peluang besar menjadi guru kimia jenjang SMA/SMK/MAN/SLTA, tetapi ada pilihan lain selain menjadi guru. Lulusan pendidikan kimia bisa bekerja menjadi peneliti, dosen, maupun membuka lapangan kerja sendiri seperti berwirausaha. 

Lulus dari pendidikan kimia kemudian memutuskan untuk menjadi guru juga bukan hal yang biasa, karena guru merupakan profesi paling mulia. Dalam hidup seseorang berhak memilih apa yang diinginkan.

Termasuk dalam hal memilih pekerjaan yang nanti akan dijalani. Semua jurusan memiliki peluang kerja masing-masing, tinggal bagaimana diri sendiri memaksimalkan potensi yang dimiliki semaksimal mungkin.

Berada di pendidikan kimia bukanlah sebuah takdir melainkan sebuah pilihan hidup. Jika pilihan itu bukan datang dari diri sendiri, seperti saran dari orang terdekat tetap saja merupakan sebuah pilihan. Segala sesuatu yang didapatkan pastinya berawal dari adanya usaha dan tentu bukanlah hal yang instan. 

Takdir merupakan jawaban akhir dari proses yang sudah dijalani, sehingga tidak melulu yang didapat merupakan takdir. Bisa juga berada di pendidikan kimia menjadi pilihan yang terbaik bagi diri sendiri yang mungkin sudah digariskan dari Tuhan untuk menjadi takdir terindah dalam kehidupan pribadi.