Banyak yang melakukan, tetapi sedikit yang mengaku. Karena ini menyangkut norma, juga gengsi. Apa pun itu, masturbasi adalah fenomena. Banyak pihak mengkajinya, dengan hasil sesuai dengan kepentingan masing-masing.

Pakar psikologi menghasilkan teori, apakah perilaku ini normal atau tidak. Mengganggu kejiwaan atau justru menjadi bagian dari perilaku yang dibutuhkan bagi kesehatan jiwa. Hasilnya, perdebatan. 

Tetapi sebagian sepakat, mengganggu jika dilakukan secara berlebihan. Sementara, pakar kesehatan bahkan ada yang menyarankan, dilakukan dalam batasan tertentu, karena dapat membuat seseorang terhindar dari penyakit kanker prostat. Masih juga menimbulkan perdebatan.

Bukan hanya para profesional sekuler yang membahasnya, agamawan juga ikut melibatkan diri dalam urusan personal yang satu ini. Hasilnya relatif seragam, bahwa ini bertentangan dengan nilai-nilai agama. Tetapi para agamawan juga tidak dapat menutup mata atas fakta, banyak yang melakukan. Maka sikap bijaklah yang mereka tempu, menerima pelakunya, meski bukan berarti menyetujui perilakunya.

Para pebisnis lain lagi, mereka melihat ini adalah peluang besar. Maka industri yang menopang praktik masturbasi juga bergulir semarak. Jepang adalah salah satu negara yang banyak menghasilkan produk inovasi dalam urusan masturbasi ini. Menciptakan berbagai peralatan yang menyerupai aslinya, tetapi intinya tetap sama, menikmati seks secara mandiri.

Kekuatan Imajinasi

Masing-masing daerah juga memiliki istilahnya sendiri untuk menyebut masturbasi. Ini bukti, bahwa masturbasi merambah di banyak lini, bahkan boleh dibilang hingga ke pelosok negeri. Menerabas batas-batas norma, bahkan dilakukan oleh lintas usia, agama, dan jenis kelamin. 

Masing-masing hanya membutuhkan modal dasarnya, imajinasi. Sesuatu yang otomatis ter-install di kepala ketika seseorang dilahirkan. Mudah, murah, dan memuaskan.

Imajinasi menjadi faktor yang sangat penting dalam masturbasi, karena di situlah letak seseorang mencapai klimaks atau tidak. Alat, seperti apa pun bentuknya, hanyalah perangkat yang ikut menambah semaraknya imajinasi. Memberi rangsangan sensualitas yang tidak biasa, sehingga pelaku masturbasi menemukan suasana seperti aslinya.

Seperti aslinya,  yang diperoleh dalam dunia yang sebenar-benarnya. Hubungan intim antar-insan yang sesungguhnya. Sesuatu yang oleh pelaku masturbasi, disiratkan di kepalanya, seolah itu benar-benar terjadi. Padahal tidak!

Barangkali masturbasi adalah hasil dari kemajuan, self service alias swalayan. Praktik memuaskan diri sendiri tanpa merepotkan orang lain. Meski bisa saja menjadi objek, tetapi tidak perlu harus menjadi korban, terlibat atau dilibatkan. 

Cukup dibayangkan, urusan selesai. Hanya sesederhana itu, tetapi hasilnya tidak mengecewakan. Mungkin, ini juga alasan kenapa masturbasi digemari. Di banyak negeri.

Masturbasi dan Fenomena Nyai di Era Kolonial

Seks adalah hakikat penting dalam kehidupan manusia. Bagian dari proses penting tetap berlangsungnya kehidupan. Didamba oleh setiap manusia dalam balutan norma. Dikemas sedemikian rupa sehingga keberadaannya agung. Dinikmati bersama oleh pelakunya, bukan salah satu. Begitulah seks dalam norma umum.

Seks melibatkan orang lain, beda jenis dan hidup bersama dalam ikatan legal formal, dunia akhirat, karena melibatkan pemuka agama. Tanpa itu, maka dipandang sebagai seks bebas. Norma menentangnya, pun hukum positif. Pelakunya bisa dijerat pidana. 

Meski ini hanya soal urusan hasrat, apalagi jika “mengorbankan” salah satu pihak dalam menikmatinya. Bisa saja tuntutan perkosaan mendera. Dengan catatan hal ini berlaku di sebuah negara hukum yang menjunjung tinggi kesederajatan.

Masturbasi, bisa saja solusi atas banyak kerumitan normatif seperti itu. Melibatkan orang lain yang kemudian dibarengi “tuntutan” memuaskan lain pihak adalah urusan yang tidak sederhana. Namun pada kenyataannya, seks model masturbasi tetap membutuhkan pihak lain, buatan, atau hanya merupakan objek imajinasi. Penikmatnya tetap tunggal. Satu pihak.

Memahami masturbasi, saya jadi teringat dengan fenomena pergundikan yang pernah terjadi di era kolonial, yang saya ungkap dalam tulisan sebelum ini. Perempuan-perempuan tanah jajahan direnggut hak-hak dasarnya, bahkan dilepaskan dari tatanan norma yang berlaku dan dijadikan sebagai “alat” seks bagi tuannya, yang orang Eropa.

Status “Nyai” dalam tatanan norma jelas membingungkan. Praktiknya “direstui” negara, ditentang norma, distigma masyarakat, namun berlangsung terang-benderang. Bahkan bagi kalangan laki-laki kolonial ini bisa menjadi gengsi tersendiri.

Dari beberapa literatur, “Nyai” adalah status yang diperoleh oleh sebagian penyandangnya bukan karena kerelaan. Tetapi perempuan yang menjadi korban. Diambil dari suami yang cintainya secara paksa. Dipaksa orang tua, karena alasan ekonomi. Dijual oleh pihak lain tanpa sepengetahuan dirinya. 

Masih banyak kisah yang lain. Intinya, mereka dipaksa menyandang status itu. Karena sebagian besar tunduk ketika pendekatannya adalah kekuasaan.

Perempuan pendamping tanpa status hukum dan agama ini pun sebagian besar menderita. Karena keberadaannya bisa saja hanya menyerupai boneka seks Jepang yang dihasilkan oleh industri di era digital saat ini. Bisa menjadi hadiah bagi siapa saja jika tuannya berkenan.

Pada poin ini, jelas seks bukanlah hal yang dapat dinikmati bersama. Kenikmatan seks hanya menjadi milik salah satu pihak, dan bukan para pihak yang sedang melakukan aktivitasnya. Tiada beda dengan masturbasi. Cuma yang ini, perangkat imajinasinya sempurna.

Daftar bacaan