Jika Anda pernah tinggal atau sekadar singgah sebentar di Yogyakarta, Anda tentu tak asing dengan panggilan “masnya” dan “mbaknya”. Sesungguhnya, “masnya” dan “mbaknya” ini berarti “mas” dan “mbak” saja (kakak); imbuhan –nya pada kedua kata tersebut tak memiliki arti khusus. 

Meski begitu, bukan berarti imbuhan tersebut tak layak untuk dibahas. Oh tidak! Tulisan ini justru akan melakukannya, sekalian membuktikan bahwa Yogya tak hanya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan, tetapi juga –nya yang tak pernah ketinggalan.

Tidak percaya? Monggo dibaca saja tulisan ini, masnya dan mbaknya.

Secara bahasa, imbuhan –nya digunakan untuk menyatakan keterangan milik. Contoh, “Ia dulu adalah pacarnya, lalu jadi mantannya dan menikah dengan teman baiknya”. 

Tak usah Anda pikirkan nasib si malang yang ditinggal menikah oleh sang mantan. Fokus saja pada penggunaan –nya di contoh kalimat di atas. 

“Pacarnya”, “mantannya”, dan “teman baiknya” adalah kata-kata yang memiliki keterangan milik. Ketiganya adalah milik –nya; tokoh yang tak tega saya sebut namanya di tulisan ini.

Tentang –nya, begini kata para ulama bahasa, “bentuk terikat yang merupakan varian pronomina persona ia/dia dan pronomina benda yang menyatakan milik, pelaku, atau penerima” (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2001). Dalam hal penggunaan, -nya adalah enklitik, yakni klitik yang terikat dengan kata depannya. Penulisannya selalu disambung; “aku miliknya”, bukan “aku milik nya”.

Mari kembali pada “masnya” dan “mbaknya”. Jika mengacu pada kesepakatan para ahli bahasa, maka “masnya” dan “mbaknya” berarti “mas” dan “mbak” (milik) seseorang. Karenanya tidak tepat jika digunakan untuk menunjuk pada orang yang sedang diajak bicara (orang pertama).

“Sudah menunggu dari tadi, Masnya?”

“Masnya siapa? Saya anak pertama; tidak punya mas.”

“Woo, Segawon!”

***

Tak hanya soal “mas” dan “mbak” saja, orang Yogyakarta juga gemar menggunakan –nya untuk hampir semua kata benda. Contoh, “Wah, motornya baru. Keren!”, “Hambok kamu utangnya dibayar to, Dab!”

Penggunaan –nya pada dua contoh di atas tentu tidak tepat. Imbuhan –nya pada kedua contoh di atas merujuk pada kepemilikan orang ketiga (dia, mereka), bukan orang kedua (kamu, kalian). Sehingga, kata “motornya” tidak memiliki keterangan yang jelas. Motor siapa? 

Begitu juga dengan contoh kedua, “kamu utangnya”. Ada dua objek yang ditunjuk di contoh kalimat ini: orang kedua (kamu) dan orang ketiga (pemiliki utang, entah siapa). Jadi, orang ini sedang nagih utangnya siapa sebenarnya?

Seharusnya, kalimat pertama begini, “Wah, motormu baru. Keren!”. Dengan begitu, jelaslah soal kepemilikan motor yang baru ini. Milikmu, bukan miliknya.

Soal kepemilikan ini harus jelas, agar tidak terjadi salah paham. Coba sesekali dengarkan lagu “Dia Milikku” yang didendangkan Yovie & Nuno.

Dia untukku, bukan untukmu.
Dia milikku, bukan milikmu.
Pergilah kamu, jangan kau ganggu.
Biarkan aku mendekatinya.

Lirik di atas memiliki keterangan milik yang jelas, sehingga orang yang mendengarkan lagu ini pun akan mudah mengerti. “Oalah, rebutan gebetan to…”

Lalu, bagaimana dengan contoh kedua? Kalimatnya mbulet, seharusnya langsung saja. Daripada bilang, “Hambok kamu utangnya dibayar to, Dab!”, sebaiknya langsung saja, “Hambok utangmu dibayar to, Dab!” Ditambahi “cuk juga boleh; sebagai penyedap saja. “Cuk! Hambok utangmu dibayar to!”

Selain contoh-contoh di atas, kesalahan penggunaan –nya ternyata juga sudah menyebar luas, mulai dari MC dangdut Koplo, tulisan di media massa, hingga surat-surat resmi. 

CNBC Indonesia misalnya, pada 28 Juni 2019, menayangkan berita dengan judul “Jokowi Buat ‘Google’ Data, Ribut Soal Beras Impor Kelar?”. Dalam berita itu ada penggalan kalimat berikut, “…kita memastikan data statistik itu pembina datanya ya BPS," tegasnya.”

Ini adalah keterangan dari Deputi Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-Isu Sosial, Ekologi, dan Budaya Strategis di Kantor Staf Presiden, Yanuar Nugroho. Kata “tegasnya” yang nyempil di bagian akhir itu sungguh mengganggu. Apa maksud “tegasnya” pada kalimat itu? Ketegasannya? Penegasannya? –nya siapa pula yang dimaksud?

Penggunaan enklitik –nya pada kata “tegas” tidak tepat, sebab “tegas” adalah kata sifat; tak mungkin bisa disatukan dengan enklitik. Kecuali kata “tegas” diubah menjadi kata benda terlebih dulu, menjadi “ketegasan” –“ketegasannya.” 

Jikapun begitu, “ketegasannya” bermakna “ketegasan miliknya”, bukan “ia menegaskan”. Karenanya, penggunaan “tegasnya” tidak tepat. Gunakan saja, misalnya; “kata dia”, “jelas Yanuar”, dst.

Demikian juga dengan penggunaan –nya pada banyak surat resmi, sering tidak tepat. Masih sering ditemukan surat resmi yang ditutup dengan “Atas perhatianya….”. 

Penggunaan ­–nya pada kata “perhatian” tidak tepat sebab menunjuk keterangan milik orang ketiga, bukan orang yang sedang membaca surat. Agar lebih ringkas dan jelas, sebaiknya tulis saja, “Atas perhatian Anda…”. Tak usah lagi merahasiakan milik siapa perhatian ini diberikan, oh!

Nah, mari kembali ke “masnya” dan “mbaknya”. Apakah penggunaan keduanya sudah pasti salah? Ini yang menarik. Ilmu bahasa sepertinya tak tertarik untuk membahas soal salah atau tidak. Yang dibahas adalah soal baku atau tidak. Kata yang tidak baku tidak berarti salah. Ya, tidak baku saja.

Berbahasa itu yang baik dan asyik saja; sesuai dengan kaidah kebahasaan dan mudah dipahami. Masalahnya, tata bahasa yang tidak digunakan secara baik biasanya akan sulit dipahami. Misalnya, “Habib sedang di zalimi!”.

Saya belum pernah dengar ada daerah bernama Zalimi. Apa jauh dari Boyolali?