Perempuan adalah satu kelompok dalam masyarakat yang rentan. Adalah sistem patriarki yang menjadikan mereka sebagai masyarakat kelas dua. Patriarki menempatkan perempuan bukan sebagai subjek yang merdeka, melainkan objek dari subjek laki-laki. 

Dalam "Asal Usul Keluarga, Kepmilikan Pribadi dan Negara", Frederick Engels menjelaskan bahwa sistem patriarki dimulai ketika manusia mulai mengenal kepemilikan pribadi, di mana sistem kepemilikan ini juga menandai lahirnya sistem kelas.

Dalam kondisi yang stabil, aman dan tentram saja posisi perempuan sudah seperti itu. Lantas bagaimana dengan kondisi perang, konflik, atau bencana berkepanjangan? Ada banyak contoh kasus  ihwal ini posisi dan kondisi perempuan sangat memperihatinkan. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula adalah adagium yang menggambarkan perempuan dalam kondisi perang dan konflik berkepanjangan.

Misalnya perang saudara yang terjadi di Suriah. Terdapat 6.000 perempuan yang menjadi korban pemerkosaan dari 2011 hingga 2013 di Suriah, dan seperti kita tahu hingga hari ini perang bersaudara masih punya potensi terjadi di negeri beribukota Damaskus ini. Riset yang dilakukan International Rescue Committee (IRC) menyebutkan 40% perempuan di Dara'a dan Quneitra—dua kota perang di Suriah pernah—mengalami kekerasan seksual. Pelakunya pun bukan hanya tentara pembrontak tapi juga tentara pemerintah.

Akibat lain dari perang bersaudara ini adalah 2,3 juta perempuan dan anak mengungsi. Sisanya, 2,1 juta masih berhadapan dengan desing dan bisingnya peluru yang kapan pun bisa melintasi udara langit tempat tinggalnya. 2,1 juta perempuan tersebut selain rentan mendapat kekerasan seksual dari tentara pemberontak, seperti halnya yang dialami Nadia Murad—Mantan budak seks ISIS yang pekan pertama Oktober ini mendapat penghargaan nobel perdamaiaan. 2,1 juta perempuan dan anak tersebut juga rentan mendapat perlakuakn serupa oleh petugas kemanusiaan dan perdamaiaan.

Hal yang ganjil dan memilukan tentu saja. Ketika petugas dari lembaga-lembaga kemanusiaan dan perdamaian dunia yang dikirim untuk hal yang mulia, tetapi justru melakukan hal yang sebaliknya. Tercatat bahwa pada 2016, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menerima 145 tuntutan kasus eksploitasi seksual dan pelecehan, 80 kasus berkaitan dengan petugas perdamaian berseragam dan 65 berkaitan dengan personel sipil yang ditugaskan untuk misi perdamaaian dan kemanusiaan. Laporan selanjutnya pada 2017 PBB menyebutkan, eksploitasi seksual sudah jadi masalah selama bertahun-tahun.

Tak hanya PBB, lembaga lain juga mengalami hal serupa. Lembaga tersebut anatara lain Oxfam, ICRC, Norwegian Refugee Council, World Vision, Doctors Without Borders, dan Mercy Corps. Mark Goldring, Chief Executive Oxfam,  menyebutkan 7.000 donatur telah menghentikan bantuannya sejak koran Times of London menyingkapkan kasus-kasus kejahatan seksual yang dilakukan staf Oxfam di Haiti. Malahan, Oxfam telah menerima sekitar 26 laporan kasus baru terkait kekerasan dan eksploitasi seksual.

21 pekerja perdamaaian dan kemanusiaan dari ICRC sudah dipecat dan sebagian mengundurkan diri karena kedapatan melakukan transaksi seksual di daerah konflik. Padahal ICRC memiliki lebih dari 17.000 staf di seluruh dunia. Dikhawatirkan masih ada kasus lain yang tidak dilaporkan, atau sudah dilaporkan tapi tidak ditangani dengan baik.

Militer petugas daerah perbatasan konflik yang paling banyak menggunakan aksesnya terhadap bantuan lah yang paling banyak melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan korban perang. Oleh karena mengalami kelaparan dan kemiskinan membuat perempuan korban perang ini dipaksa untuk melayani para tentara penjaga daerah perang. Mereka menukar bantuan kepada perempuan korban perang dengan layanan seks.

Padahal kita sama-sama tahu bahwa bantuan tersebut memang diperuntukan bagi mereka yang menjadi korban perang. Namun, dengan manipulasi dan hegemoniknya tentara penjaga tersebut mereka memperlakukan peremuan korban perang sebagai pekerja seks komersial. Seperti apa yang terjadi di Liberia dan Haiti. Dokumen yang disusun oleh Badan Pengawas Internal PBB menyebutkan bahwa ada 480 kasus eksploitasi dan pelecehan seksual yang terdaftar selama 2008-2013. Parahnya, sepertiga dari korbannya adalah anak-anak.

Angka tersebut bisa jadi bertambah. Mengingat jumlah tentara penjaga perdamaiaan yang diutus PBB. di dua negara tersebut sejumlah 125.000. Pada tahun 2017, United Nations Population Fund (UNFPA) melakukan penilaian terhadap kekerasan berbasis gender di Suriah dengan kesimpulan bahwa di berbagai wilayah di Suriah, ada bantuan kemanusiaan yang hanya diberikan karena ditukar dengan seks.

Dalam laporan tersebut banyak kejadian dimana perempuan atau gadis muda menikah dengan pejabat untuk waktu pendek sebagai layanan seksual. Sehingga para perempuan tersebut mendapat makanan. Ada pula penyalur bantuan meminta nomor telepon perempuan dan anak gadis, memberi mereka tumpangan ke rumah mereka 'untuk memperoleh sesuatu sebagai imbalan' atau mendapatkan bantuan 'dengan imbalan kunjungan ke rumah' atau 'dengan imbalan layanan seperti menghabiskan malam bersama mereka'.

Maskulinitas Akar Kekerasan

Akibatnya perempuan Suriah menolak pergi ke pusat pembagian bantuan karena takut bahwa orang-orang akan menganggap mereka memberikan tubuh mereka demi mendapat bantuan yang mereka bawa pulang. Hal seperti ini membawa stigamtisasi terhadap perempuan korban perang.  Bahkan jauh sebelum itu, legenda Sinta yang rela membakar diri untuk membuktikan kesuciaannya pada Rama, ketika perang usai berkecamuk antara Rama dan Rahwana.

Melihat akar dari kekerasan pada perempuan paling tidak ada empat hal yang menyebabkan hal tersebut langeng sampai hari ini. Yaitu marginalisasi secara ekonomi, sub-ordinasi secara politik,  seterotip secara budaya, dan kekerasan baik secara fisik maupun psikis. Konstruksi sosial lah yang menjadikan perempuan seolah-olah pantas untuk diperlakukan demikan.

Kekuasaan atas orang lain, penaklukan, dominasi, dan opresi mengingatkan kita tentang nilai-nilai dominan dalam konstruksi maskulinitas hegemonik (keyakinan, mitos, stereotip tentang laki-laki yang superior, dominan, dan berkuasa atas orang lain). Hal ini yang harus kita tinggalkan danbuang jauh-jauh dalah segala bentuk  kehidupan ketika menginginkan dunia yang damai dan menjujung martabat kemanusiaan.

Oleh Vandana Shiva, seorang Feminis dari India, disebutkan bahwa pandangan yang menjadikan perempuan dilemahkan dalam segala faktor kehidupan adalah maskulinitas. Wabah maskulinitas tak hanya menjangkiti laki-laki tetapi juga masyarakat secara umum. Bahwa kehidupan yang ideal itu adalah kehidupan yang penuh akan persaingan, dominasi, eksploitasi dan  penindasan, adalah karater maskulinitas.

Berbeda dengan feminitas yang sangat kontradiktif dengan maskulinitas. Vandana Shiva menyebutkan bahwa karakter hidup feminitas adalah kedamaiaan, keselamatan, kasih dan kebersamaan. Jika dipikir ulang kembali, maskulinitas juga merugikan laki-laki. Oleh karena laki-laki harus maskulin dengan cirinya tadi, sehingga menutup mata atas keberagamaan laki-laki.

Sehingga gerakan feminitas tidak hanya gerakan untuk emansipasi perempuan saja. Namun, untuk melakukan transformasi sosial. Pertama karena musuhnya bukan laki-laki tetapi pandangan maskulinitas. Kedua, karena maskulinitas bukan hanya milik dan untuk laki-laki tetapi milik dan untuk masyarakat secara umum. Maka mentransformasi masyarakat adalah kunci dari segala bentuk ketidakadilan dan penindasan bagi perempuan.

Parahnya hari ini, maskulinitas juga menempel pada setiap orang yang mendaku memperjuangkan kemanusiaan dan perdamaian. Mereka yang bekerja di daerah konflik secara sadar atau tidak juga menjadi korban atas hegemoniknya ide maskulinitas. Sehingga  mentransformasi pekerja kemanusiaan dan perdamaaian juga menjadi agenda yang mendesak. Ketika melihat data kekerasan pada perempuan korban perang diatas.  Selain tentu saja menguatkan posisi perempuan dan hal ini tentu hanya bisa dilakukan oleh perempuan itu sendiri.

Perempuan yang Menghentikan Perang

Semboyan Liberia, "Cinta akan kebebasan yang membawaku kesini" negara yang didirikan oleh mantan budak di Amerika. Pada tahun 2003, tentara pemberontak menjadi pemenang dalam konflik perang bersaudara. Sehingga pemimpinnya, Charles Taylor, menjadi presiden. 

Dalam perang bersaudara tersebut banyak perempuan menjadi korban pemerkosaan, baik dari tentara pemerintah maupun tentara pembrontak. Pemerintahan Charles Taylor pun tidak menghentikan konflik. Sehingga para ibu-ibu yang anaknya menjadi korban pemerkosaan masa perang bersaudara mengajukan tuntutan. Mereka setiap hari mengenakan baju serba putih di sepanjang jalan menuju istana.

Atas aksi tersebut, Charles Taylor mau tak mau harus mendengar aspirasi para ibu-ibu. Hingga pada akhirnya Charles Taylor mengabulkan tuntutan para perempuan tersebut dengan mengadakan perundingan dengan kelompok lawannya. Perrundingan deadlock, tetapi para perempuan memboikot jalan keluar para peserta perundingan. 

Terdesak oleh keadaan tersebut mau tak mau para kombatan perang tersebut mengambil kesepakatan berdamai. Comfort Lampty, penulis buku tentang gerakan perdamaiaan Liberia, menyebutkan peran perempuan—yang hampir semuanya menjadi korban perang bersaudara—amat vital. Perempuan Liberia, tulis Comfort Lamptey, "Mereka berjuang untuk dilihat, didengar, dan diperhitungkan."

Hal lain dilakukan perempuan Sudan. Mereka pada tahun 2002 mencoba menghentikan perang dan berhasil dengan cara berhenti melakukan aktivitas seksual dengan para suaminya. Cara tersebut berhasil menghentikan perang yang sudah berlangsung selama dua puluh tahun antara Sudan kawasan utara dan selatan, yang diperkirakan menelan korban jiwa dua juta. Pada masa perang bersaudara tersebut, perempuan Sudan lah yang menjadi korban utama.

Adalah Samira Ahmed, seorang mantan Guru Besar di salah satu perguruan tinggi Sudan, yang menginisiasi gerakan perdamaiaan tersebut. Yang menjebatani penderitaan perempuan Sudan utara dan selatan untuk bersama-sama menghentikan perang bersaudara. Hanya butuh dua tahun hingga pada 2005 tercapai kesepakatan damai dan menyudahi perang.

Hal serupa juga dilakukan oleh para perempuan Kota Pereira, Kolombia. Pada mulanya adalah laki-laki muda di kota itu merasa bila mereka masuk dalam kelompok geng mereka akan diidamkan oleh para perempuan juga dianggap keren. Akibat yang muncul dari geng-geng laki-laki muda tersebut adalah hampir setiap hari ada pertempuran jalanan yang membuat resah masyarakat sekitar. Termasuk para perempuan muda. Sehingga para kekasih dan isteri para laki-laki yang bergabung dengan kelompok geng tersebut memutuskan untuk menghentikan pertarungan jalanan.

Para perempuan tersebut mogok seks sampai para laki-laki sadar bahwa pertarungan jalanan dan kekerasan dalam bentuk apapun bukanlah tindakan yang memukau nan seksi. Ruth Macias, seorang ibu muda yang suaminya masuk ke kelompok geng, kepada wartawan berkata "Ini lah cara kami mengatakan pada para kekasih atau sumi kami, bahwa kami tak mau menjada dan para anak kami tak mau kehilanggan anaknya hanya dengan aktivitas konyol yaitu pertarungan jalanan."

Perang memang identik dengan maskulinitas. Sebuah medan unjuk raga bagaimana proses penaklukan, dominasi, dan opresi terhadap orang atau kelompok lain. Melihat contoh bagimana perempuan di Liberia,  Sudan, dan Kolmbia menaklukan para laki-laki yang hobi perang membawa hal optimis. Bahwa perempuan juga punya peran penting dalam menghentikan perang dan  menjaga perdamaaian.