Aksi gerombolan remaja yang melakukan sweeping melukai masyarakat masih saja terjadi. Tindak kekerasan yang lebih akrab disebut klitih semakin hari malah semakin menjadi-jadi. 

Beberapa waktu yang lalu, kita masih ingat seorang mahasiswa UGM dibacok hingga tewas sewaktu membagikan saur di sekitaran Mirota Kampus. Bahkan ada yang sampai saking resahnya sebuah mobil colt menabrak pengendara motor yang diduga klitih hingga tewas.

Masih banyak tindakan klitih lainnya yang diposting oleh masyarakat, dalam grup facebook ICJ (Info Cegatan Jogja), yang kian lama kian bertambah banyak. Atas keperihatinan itu, masyarakat DIY melakukan “Aksi Jogja Damai 9119” sebagai upaya untuk meningkatkan kewaspadaan tehadap klitih.

Klitih sejatinya merupakan aktivitas untuk menghilangkan rasa bosan dengan jalan-jalan santai ke luar rumah bersama dengan teman-teman. Namun sekarang klitih telah mengalami pergeseran makna menjadi tindakan kriminal remaja bermotor dengan melakukan kekerasan terhadap masyarakat.

Banyak kemudian yang menjelaskan mengapa klitih terjadi, mulai dari menunjukkan eksistensi diri, kesalahan pola asuh, kurangnya penanaman nilai keagamaan, pengaruh kelompok atau teman sebaya, kurangnya penanaman norma sosial, hingga konsumsi minuman dan obat-obatan.

Tindakan preventif pun digalakkan dari berbagai lini, seperti peningkatan patroli jam malam oleh kepolisian, penanaman nilai moral dan agama oleh guru di sekolah, dan memperkuat pendidikan dan pengawasan oleh orangtua terhadap anak. Upaya itu patut diapresiasi mengingat klitih memang perlu diberantas dengan kolaborasi berbagai pihak.

Mengutip (batok.co) Psikolong Yayasan Pulih, Jane L Perta percaya bahwa unsur yang mendorong terjadinya klitih adalah penafsiran yang keliru terhadap maskulinitas. Remaja yang sedang menjalani proses untuk menemukan jati diri terperangkap dalam pergaulan yang salah, sehingga melakukan tindakan kekerasan untuk menujukkan maskulinitas.

Pada fase pencarian jati diri ini dipengaruhi oleh banyak hal. Lingkungan yang kurang mendukung atau pola asuh keluarga yang buruk membuat remaja menjadi despresi sehingga memiliki konsep hidup yang rendah. Tak ayal mereka pun malah menemukan “konsep diri” di dalam geng sekolah yang cenderung mengindahkan tindakan kekerasan.

Motif pelaku dalam melakukan tindakan klitih cenderung didasari untuk memperoleh eksistensi di hadapan publik khususnya anggota geng. Ada anggapan bahwa kelompok gengnya lebih mencintai mereka ketimbang keluarga, hingga remaja pelaku klitih lebih rela melakukan apa pun untuk geng agar menjaga solidaritas.

Sayangnya perwujudan solidaritas dalam anggota geng ini adalah dengan menunjukkan kejantananya, yang mana berupa kenakalan remaja seperti membolos, tawuran, merokok, oplosan, balapan liar, tawuran dan klitih. Mereka yang mengindahkan tindakan-tindakan tersebut akan disegani dan dianggap memiliki mental pemberani.

Dalam pardigma gender, konsep itu disebut sebagai maskulinitas, yakni seperangkat aturan, atribut, perilaku, dan peran yang terkonstruski oleh budaya terkait dengan laki-laki atau kejantanan pria. Citra dari maskulinitas menjadi diukur dalam kekuatan yang diadukan dalam pertengkaran atau pekelahian.

Sebenarnya pandangan seperti itu tidak serta-merta terjadi. Sifat kelelaki-lakian ini bukanlah otomatis bawaan sejak lahir, namun dibentuk oleh kebudayaan yang mereka dapat dari beragam media seperti sekolah, jenis permainan, bahan bacaan, laki laki dewasa, keluarga, media sosial, dan filosofi hidup.

Hal-hal sepele yang berlangsung selama berpuluh puluh tahun telah membentuk suatu pencitraan diri dalam kehidupan seorang laki-laki, yang mana bisa dilihat melalui selera dan cara berpakaian, penampilan, bentuk aktivitas, cara berpakaian, dan aksesoris tubuh. (Virogirto dan Curry 1998)

Pencitraan-pencintraan seperti itu sudah ditanamkan sejak kecil melalui mekanisme pewarisan budaya sehingga menjadi suatu kewajiban yang harus dijalani untuk menjadi laki-laki sejati.

Kita pasti ingat tentang aturan yang tak tertulis bahwa seorang laki-laki tidak boleh gampang menangis, tampak garang, berotot, serta merokok. Laki laki yang keren adalah mampu “memacari” banyak perempuan sampai melakukan poligami. Sampai-sampai ketika kita menghadapi suatu masalah maka solusinya “selesaikan secara laki laki”.

Banyak kemudian yang melakukan tindakan kekerasan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Masalahnya hal tersebut dianggap umum oleh masyarakat melihat kuantitas para pelakunya, berbeda jika yang melakukan perempuan maka akan dikatakan tidak wajar dan menjadi bahan obrolan.

Keadaan seperti itu yang sering kali kurang mendapatkan perhatian khusus bagi masyarakat. Ketika seorang laki laki berkelahi atau minum minuman keras dianggap sesuatu yang wajar dan bisa ditolerir. Padahal, sadar atau tidak, konsep seperti itu yang mendorong remaja melakukan tindakan kekerasan (klitih) karena mengikuti kultur yang berlaku.

Semua pihak perlu melakukan upaya preventif maupun represif terhadap tindakan klitih. Program ini bisa dimulai dengan meninjau kembali makna maskulinitas terutama sebagai perwujudan solidaritas. Perlu upaya dari berbagai pihak dalam mengubah perspektif maskulinitas. Keluarga, sekolah, komunitas selayaknya memberikan edukasi yang positif dalam mempromosikan maskulinitas yang positif (tidak berhubungan dengan kekerasan).

Selain itu, ke depannya pemerintah perlu memperbanyak ruang khusus untuk remaja dalam mengaktualisasikan hasratnya. Untuk membanggkan sekolah atau kelompok bisa berupa kompetisi ataupun perlombaan yang menjunjung tinggi sportivitas. Dengan itu, maskulinitas akan membawa kebanggaan bagi masyarakat, karena menambah prestasi remaja.