“Mas, mbok maskernya dipakai, sesuai protokol kesehatan” demikian tegur saya kepada penjual makanan.

Beberapa hari yang lalu saya hampir gelut dengan si mas penjual makanan tersebutMungkin karena saya menegurnya terlalu keras, sehingga dia marah karena merasa dipermalukan. Lain lagi cara istri menegur orang. Ketika guru anak saya tidak mengenakan masker. Istri saya langsung memberikan masker kepada guru tersebut. Sehingga guru tersebut tidak merasa tersinggung. Sudah menjadi kebiasaan istri , dia selalu membawa masker cadangan untuk diberikan kepada orang yang tidak memakai masker.

Hari ini saat pandemi covid 19 masih merajalela, penggunaan masker adalah wajib. Banyak orang masih enggan menggunakan masker. Dengan alasan sulit bernafas, mahal harga masker, merasa tidak nyaman, sampai alasan-lasan yang dibuat-buat, seperti tidak terbukti masker melawan covid, dan paling koplak adalah mengalangi kegantengan maupun kecantikan. Mengenakan masker hanyalah salah satu protokol kesehatan. Masalah terkena covid maupun tidak itu bukan urusan pengguna masker. Berkaca dari para pembangkang menggunakan masker, ini merupakan salah satu bentuk sikap tidak berintegritasnya seseorang.

****

Integritas dapat dikatakan sebagai tingkat kepatuhan dengan aturan dan melakukan tindakan yang benar. Akhir-akhir ini orang dengan gampang mengucapkan kata integritas. Orang yang tidak korupsi dibilang beritegritas. Padahal tidak sesempit itu makna integritas. Orang yang mau dan sadar menggunakan masker juga bisa disebut beriitegritas. Menanamkan sikap berintegritas sudah seharusnya dimulai sejak dini. Anak-anak seharusnya diajarkan berintegritas sejak awal.

Sebenarnya orang-orang yang melanggar aturan, seperti tidak mengenakan masker adalah salah satu contoh kurangnya integritas dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak kasus lain orang-orang yang tidak berintegritas. Kenapa hal ini sampai terjadi? Jawabannya adalah pola pendidikan selama ini masih banyak yang salah. Bukan hanya pendidikan sekolah tetapi pendidikan publik.

Dalam pembentukan karakter seseorang, butuh peran dari berbagai kalangan. Seperti peran keluarga, peran sekolah, dan tentunya peran lingkungan atau publik. Dalam lingkungan terkecil adalah keluarga. Namun kadang masih kita jumpai, orang tua yang acuh dengan integritas dari anak mereka. Bahkan para orang tua sadar atau tidak sadar terkadang memberikan contoh yang kurang tepat kepada anak-anaknya. Di sekolah terkadang masih banyak guru yang acuh dengan kepatuhan dan kedisiplinan murid-muridnya, mereka sendiri terkadang juga melanggar atau bersifat permisif dengan kesalahan mereka dan murid-muridnya.

Dalam lingkungan publik, banyak pejabat yang terkadang melakukan tindakan yang tidak berintegritas. Mereka dengan bangga malah pelakukan pelanggaran, dan masyarakat menganggap hal tersebut wajar. Hal-hal pelanggaran integritas ini sudah berlangsung puluhan tahun. Masyarakat seperti terbiasa melihatnya, sehingga dengan tidak sadar terjadi pembiaran. Dan yang paling fatal adalah menjadi contoh masyarakat.

Dengan terbentuknya karakter masyarakat yang terlanjur salah, butuh usaha yang keras untuk memperbaikinya. Dalam lingkungan terkecil yaitu keluarga. Sudah saatnya para orang tua, memberikan contoh kepada anak-anaknya tentang budaya berintegritas. Di lingkungan pendidikan, guru dan jajaran pegawai pada sekolah, wajib memberikan contoh bagaimana berintegritas. Para pejabat sudah saatnya menjadi panutan yang baik kepada masyarakat.

Selain itu, sifat permisif dan pemakluman dari masyarakat yang sangat tinggi menjadi salah satu sulitnya integritas terwujud. Orang yang patuh dan taat kepada aturan, terkadang menjadi orang aneh. Hal-hal seperti ini akan membuat orang yang mempunyai sifat berintegritas goyah. Mereka akan cenderung mengikuti tekanan dari lingkungan. Mereka akhirnya kalah dan ikut untuk tidak berintegritas.

Saat pandemik covid 19 ini, dibutuhkan sikap integritas yang tinggi. Pejabat, masyarakat harus patuh dengan aturan-aturan yang telah dibuat. Jangan lagi ada yang melakukan pelanggaran, jangan lagi ada pejabat yang meminta “karpet merah” untuk melanggar aturan-aturan yang telah dibuat. Jangan lagi ada perbedaan perlakuan kepada para pelanggar aturan. 

Sudah saatnya, kesalahan-kesalahan pendidikan karakter di masyarakat yang sudah berlangsung lama ini dihentikan. Kegagalan dalam pembentukan karakter bangsa harus segera dirubah. Bila karakter bangsa sudah baik, kejadian yang butuh kepatuhan dan integritas seperti halnya pandemi covid 19, tidaklah akan menjadi sesuatu yang mengagetkan. Masyarakat akan dengan mudah menyesuaikan dengan aturan-aturan baru yang ada. Penanganan kejadian luar biasa yang butuh kepatuhan dari masyarakat akan mudah diwujudkan.

Masyarakat yang sudah terbiasa berintegritas, akan dengan mudah patuh dengan aturan,yang ada. Hal-hal baru yang harus dilaksanakan, bukanlah sesuatu hal yang berat. Pemerintah dalam hal ini diwakili oleh pejabat publik, dengan mudah melaksanakan program-programnya. Alasannya masyarakat dan pemangku kebijakan telah terbiasa dengan hal-hal yang sesuai aturan. Tidak ada lagi orang-orang yang berusaha melawan atau membangkang aturan-aturan yang ada. Tidak ada lagi pihak-pihak yang mencoba memainkan atau merubah aturan demi kepentingan pihak-pihak tertentu.

Bukan hal yang mudah untuk mengubah kesalahan yang terjadi puluhan tahun, tetapi tidak terlambat untuk memperbaikinya.