Madrasah anakku mewajibkan siswa-siswi kelas 4 sampai 6 salat zuhur berjamaah, sementara kelas 1 hingga 3 belum. Salat dilaksanakan di masjid depan sekolahnya. 

Sebagai siswi kelas 4, tahun ini merupakan tahun pertama anakku salat zuhur berjamaah. Sebuah pembelajaran yang bagus untuk melatih dan membiasakan kewajibannya sebagai muslim.

Namun, dengan usia yang sebenarnya masih kelas 3 (anakku masuk madrasah setahun lebih muda dari seharusnya), sifat nyelowor masih melekat pada dirinya. Akibatnya, sudah dua kali mukenanya tertinggal di masjid.

Yang pertama—antara lupa dan tak berani—ia baru ngomong setelah tiga hari, dan aku baru menanyakan pada petugas keamanan masjid seminggu berikutnya. Ini jelas karena lupa.

Petugas bertanya warna dan model mukenanya sebelum menunjukkan belasan mukena lain yang tertinggal dan diringkesnya. Setelah kujelaskan, ia membuka sebuah tas kresek besar berisi beberapa mukena. 

Sayangnya, tak satu pun di antara mukenah tersebut milik anakku. Selanjutnya ia naik kursi untuk mencari di rak atas. Syukurlah, mukena yang kumaksud ada di situ.

“Kalau ketinggalannya sudah agak lama, saya pindah ke sini, Pak,” katanya.

Sambil mengucap terima kasih, dan karena kutahu ia perokok, setelah mengambil satu batang untuk kuhisap sendiri, rokok yang masih tersisa sepuluh lebih di dalam bungkus itu kuberikan padanya.

Sampean teruskan, Pak.”

Menerima tip tak seberapa itu, ia mengucap terima kasih sampai terbungkuk-bungkuk. Luar biasa memang benda yang sering dipropagandakan sebagai racun ini dalam pergaulan.

Beberapa waktu kemudian, mukenah itu lagi-lagi ketinggalan. Kuminta ia menanyakan sendiri sebagai bentuk tanggung jawab kenyeloworannya. Dengan diantar kawan, mukenanya ketemu lagi.

Kemarin, ganti arlojiku yang ketinggalan di Masjid Jamik Malang, masjid yang lebih besar dan ramai dibanding masjid dekat sekolah anakku. Seperti yang biasa terjadi pada Anda, aku baru ingat kalau arlojiku ketinggalan pada rakaat terakhir, sesuatu yang membuat kekhusyukan salatku acak-acakan. Apalagi arlojiku kuletakkan di tempat wudu paling pojok, pas di samping tangga naik ke dalam masjid. 

Kubayangkan ada puluhan orang yang melewati dan mengetahui arloji keleleran itu. Aku pasrah jika memang harus hilang. Namun tak urung, kepasrahan pura-pura itu tetap membuatku yang masbuk mempercepat bacaan-bacaan salat dan langsung plencing setelah salam.

Di tempat wuduku tadi, arloji itu benar-benar telah raib. Dengan langkah gontai aku ke teras masjid, menuju tempatku melepas sepatu. Bapak di samping kananku yang tolah-toleh mencari sepatunya akhirnya ingat kalau alas kakinya tersebut ditaruh di tempat penitipan barang. 

Segera ia bangkit menuju tempat itu. Aku tersadar kalau aku pun bisa menanyakan arlojiku di sana. Siapa tahu arloji yang baru seminggu kuganti baterai dan talinya itu diamankan petugas. Bukankah pasrah sering kali sekadar wujud menenangkan diri yang tak pasrah?

Kulihat dua petugas di penitipan barang sedang pijet-pijetan. Pada mereka kutanyakan maksudku. Salah seorang menanyakan merek dan ciri-cirinya. Setelah kujelaskan ciri utamanya adalah gupil di bagian atas, ia langsung memeriksa jam yang baru saja diamankan. Ternyata benar, jam itu milikku.

Menyikapi barang tertinggal yang tak jadi hilang, aku jadi ingat sebuah artikel tentang Swiss. Negara kecil di Eropa ini memiliki lembaga khusus yang bertugas mengamankan dan mengembalikan barang-barang orang yang tertinggal. Tas, payung, buku, ponsel, atau apa pun yang tertinggal di mana saja akan diantarkan siapa pun yang kebetulan menemukannya ke kantor lembaga tersebut. 

Selanjutnya, lembaga ini mengumumkan barang-barang yang ditemukan pada berbagai media, baik cetak maupun elektronik.

Budaya Swiss yang mengajarkan untuk tidak mudah pek pinek barange wong (mengambil barangnya orang) ini membuat negeri seupil itu sangat dipercaya dunia. Buktinya, banyak lembaga dunia yang berkantor di Swiss. 

Selain itu, bank-bank di sana juga kerap "dititipi" duit orang-orang kaya dari berbagai belahan dunia, tak terkecuali para konglomerat Indonesia—yang konon saat ini girap-girap karena ketahuan menyembunyikan uang hasil kejahatannya di sana.

Meski untuk membandingkan "kejujuran" Swiss dengan Indonesia masih seperti bumi dan langit, namun bukan berarti bangsa ini tak mampu berubah. Cerita tentang mukena dan arloji yang kembali setelah hilang di masjid adalah contohnya. 

Dan sepertinya, perubahan ini bisa dimulai dari masjid. Kemudian merembet ke masyarakat sekitar masjid, makin jauh dan jauh lagi, hingga menjadi budaya baru untuk mengembalikan sesuatu yang bukan menjadi hak orang yang menemukan.

Dengan demikian, masjid akan semakin agung dan mulia. Sebab selain (tentunya) sebagai tempat beribadah kepada Allah, masjid juga sebagai tempat awal pembiasakan kejujuran. Orang-orang akan melihat masjid sebagai tempat yang aman, nyaman, dan melindungi semua insan. 

Dengan melihat apa yang dilakukan masjid, orang-orang semakin yakin bahwasanya Islam adalah agama yang indah, agama rahmatan lil 'alamin, agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan, dan jin, apalagi sesama manusia. 

Ini perlu terus diupayakan. Sebab, mereka di sana—yang belum sepenuhnya mengenal Islam—sering menghubungkan Islam dengan terorisme dan aksi-aksi kekerasan.

Jangan sampai ketika hal-hal baik ini dilakukan, sebagian orang justru menjadikannya sebagai tempat melontarkan amarah dan kebencian. Atau yang sedang ngetren terjadi: memamerkan keimanan demi kepentingan politik.

Monggo ke masjid, Lur. Monggo salat Jumat. Kata meme-meme, agar tambah tampan.