Masjid Syeikh Zayed telah diresmikan pada 11 November 2022 oleh Presiden Joko Widodo bersama dengan Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Muhammad Bin Zayed Al-Hayan di Solo, Jawa Tengah. Peristiwa Tersebut diungkapkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo berjalan dengan sederhana namun sangat menarik.

Acara peresmian yang dilaksanakan di pagi hari tersebut dimulai dengan solat tahiyatul masjid oleh kedua presiden yang dilanjut dengan penandatanganan dan pembacaan do'a oleh perwakilan kedua negara. Pembacaan do'a dari Indonesia diwakili oleh Gus Karim yang merupakan tokoh agama terkemuka di Solo.

Masjid seluas 8.000 meter persegi yang dibangun dengan dana hibah senilai Rp300 miliar dari Presiden UEA tersebut akan diproyeksikan menjadi masjid dengan tata kelola profesional yang akan menjadi rujukan bagi pengelolaan masjid di seluruh Indonesia. 

Masjid tersebut dibangun dengan 2 lantai yang  dapat menampung hingga 10 ribu jamaah dengan kubah bergaya Maroko dan pelataran bergaya Mughal. Selain tempat ibadah, Masjid Syeikh Zayed juga memiliki ruangan VIP, perpustakaan, basement hingga tempat wudhu terpisah.

Pemberian masjid ini merupakan simbol persahabatan antara Indonesia dengan Uni Emirat Arab yang sudah berlangsung sejak pertama kali Indonesia membuka kedutaan besar di Abu Dhabi pada 1976. Kemudian UEA menyusul dengan membuka keduataan besar di Jakarta pada tahun 1991.

Persahabatan itu kian erat setelah Presiden Joko Widodo mengunjungi saudaranya di Abu Dhabi pada Januari 2020 dengan berbagai agenda kerjasama luar negeri. Setidaknya ada 16 kerjasama yang ditandatangani yang  disaksikan langsung oleh Presiden Joko Widodo dengan Syeikh Zayed.

Kerjasama tersebut terdiri atas 5 sektor utama yakni keagamaan, pendidikan, kesehatan, pertanian dan penaggulangan terorisme. Kerjasama tersebut dibagi atas 2 jenis yakni 5 kerjasama antar pemerintah dan 11 kerjsama di sektor ekonomi dan bisnis. 

Adapun 5 kerja sama antar negara, yakni MoU antara Menteri Agama RI dengan General Authority of Islamic Affairs and Endownments of United Arab Emirat di bidang agama islam. 

Pembahasan utama dalam kerja sama ini ialah mengenai pengelolaan waqaf yang diikuti dengan poin-poin tambahan seperti pengelolaan masjid dan pertukaran ahli Al-Qur'an baik dalam bidang hafalan (tahfidz), pembacaan (tilawah) dan penafsiran (tafsir).

Kerjasama kedua antar negara ialah dalam bidang pendidikan melalui kerja sama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan Uni Emirat Arab. Kerjasama tersebut direalisasikan melalui festival dan promosi kebudayaan, seni sejarah, warisan budaya, literatur, pertukaran pelajar hingga pertukaran delegasi. 

Bahkan untuk memastikan promosi budaya yang dilakukan Indonesia di luar negeri terutama pada Festival Kebudayaan Negara Anggota OKI di Abu Dhabi, menteri pendidikan saat itu, Muhadjir Effendy meminta waktu untuk mempersiapkan penampilan seperti apa yang nantinya akan ditampilkan.

Bidang ketiga datang dari kerja sama antara  Kementerian pertanian RI dengan Menteri Perubahan Iklim dan Lingkungan UEA. Kerjasama ini berfokus pada bidang pertanian dan diversifikasi pangan. 

Bidang keempat ialah kerja sama Kementerian Kesehatan RI dengan Kementerian Kesehatan dan Pencegahan UEA. Kerjasama ini berfokus untuk membantu meningkatkan kualitas tenaga medis kedua negara. Kerjasama ini dikhususkan untuk mereka yang tergabung menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Kerjasama terakhir antar kedua negara datang dari Badan Nasional Penanggulangan Terorrisme dengan National Intelligence Services of United Arab Emirates mengenai penanganan terorisme. 

Kerjasama ini sejatinya sudah dimulai sejak lama dengan adanya sharing information dan penanggulangan baik tingkat nasional, regional hingga global. Namun kerja sama ini ditingkatkan lagi dengan adanya program belajar yang dibuat oleh BNPT ditujukan bagi para imam Indonesia untuk belajar ke UEA. 

BNPT beranggapan bahwa UEA adalah negara yang mampu mencetak imam-imam yang tidak radikal serta modern dan menjadikan media dakwah sebagai tempat yang aman dan damai dan tidak mengandung unsur-unsur ujaran kebencian.

Dari kelima bidang kerja sama antar negara tersebut, Indonesia masih memiliki 11 kerja sama di bidang ekonomi dan bisnis. Sektor-sektor yang terlibat dalam perjanjian bisnis antar pelaku usaha ini antara lain pada sektor energi, petrokimia, migas, pelabuhan, telekomunikasi dan riset. 

Keja sama tersebut diproyeksikan bernilai USD 22,89 miliar atau setara dengan 314,9 Triliun Rupiah dengan UEA yang akan berinvestasi sekitar 30% atau setara dengan USD 6,8 milliar.

Tidak berhenti ditahun 2020 saja, pada Juli 2022, Indonesia kembali menandatangani kerja sama dengan UEA melalui IUAE-CEPA (Indonesia-United Arab Emirates Comperhensive Economic Partnership Agreement) yang mencakup bidang ekonomi islam. 

Presiden Jokowi dengan Syeikh Zayed selaku Presiden UEA setidaknya menandantangani 6 nota kesepahaman (MoU) di Abu Dhabi, UAE. Keenam MoU tersebut antara lain menejemen proyek bersama tentang Mangrove oleh Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi RI.

Selanjutnya ialah protokol Perubahan Nota Kesepahaman mengenai kelautan dan perikanan, MoU tentang kontrol vaksin dan obat-obatan Protokol tentang kerja sama mengenai pengadaan alat militer, kerja sama antara Universitas Nadhatul Ulama dengan Universitas Kemanusiaan Muhammad bin Zayed, 

Dan terakhir ialah Kontrak pembelian LPD (Landing Platform Dock) antara PT PAL Indonesia dengan Angkatan Laut UEA. Sejumlah kerja sama tersebut akhirnya kian menguatkan hubungan persahabatan  antara Indonesia dengan UEA yang akhirnya dibuahkan dengan pembangunan Masjid Syeikh Zayed di Solo.