2 tahun lalu · 207 view · 5 menit baca · Budaya masjid_quba.jpg
Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun saat zaman Nabi Muhammad SAW. Terletak di sebelah Tenggara Kota Madinah.

Masjid sebagai Rite de Passage

Dalam ilmu sosial—terlebih dalam kajian ilmu tentang kebudayaan pramodern, rite de passage mengacu pada suatu momen yang menandai peralihan hidup manusia dari satu fase ke fase berikutnya. Ahli folklore Prancis, Arnold van Gennep, adalah salah satu pemuka konsep rite de passage. Ia menyebutkan bahwa upacara-upacara kelahiran, perkawinan, kematian sebagai suatu “regenerasi” semangat yang menegaskan peralihan fase atau status kehidupan seseorang dari sebelumnya.

Pendeknya, rite de passage adalah suatu ritus yang menegaskan peralihan hidup seseorang dari sebelumnya. Baik itu secara biologis, seperti misal upacara khitanan, atau secara sosial dan budaya, seperti yang terjadi di Nias: seseorang dapat diakui sebagai lelaki dewasa, bila sudah mampu melewati ujian lompat batu.

***

Sepertinya terlalu naif, jika menganggap masjid hanya sebatas tempat ibadah umat Islam saja.  Sejarah menunjukkan bahwa di samping fungsinya sebagai tempat beribadah umat muslim, masjid juga kerap berperan dalam menjadi  titimangsa yang melahirkan peradaban Islam.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Nassarudin Umar, berkisah bahwa dahulu Masjid Quba, masjid pertama yang didirikan oleh umat Islam, selain menjadi tempat shalat berjamaah, masjid tersebut juga merupakan tempat pertemuan dan pusat pendidikan. Sebagai tempat pertemuan umat, di masjid ini kerap diadakan berbagai kegiatan dari mulai pemerintahan dan peradilan sampai rapat dan strategi perang disiapkan. Sebagai pusat pendidikan, masjid ini merupakan tempat belajar al-Qur’an para sahabat-sahabat nabi.

Masjid Nabawi selain menjadi salah satu faktor pemersatu antara kaum Muhajirin dan Anshar, dahulu tiang menara nya juga kerap digunakan untuk memantau rumah siapa yang dapur nya tidak mengepulkan asap. Ketika sudah diketahui rumah-rumah mana saja yang tidak mengepulkan asap, lantas sahabat turun memeriksa rumah-rumah tersebut dan membantu mereka agar dapat memasak kembali untuk makan sehari-hari.

Di Masjid Nabawi pula, pada masa Khalifah Umar bin Khattab terkisah seorang Yahudi meminta tolong kepada Umar karena rumah nya digusur oleh Gubernur Amr bin Ash. Usai menemui dan mengadu kepada Khalifah Umar, kemudian orang Yahudi itu diperintah Umar untuk mencari satu buah tulang. Lantas Umar menggoreskan huruf alif pada tulang tersebut, dan menyuruh orang Yahudi itu untuk memberikannya kepada Gubernur Amr bin Ash.

Usai sampai ditangan Gubernur Amr bin Ash dan ia melihat goresan tanda alif pada tulang dari Khalifah Umar, dikisahkan bahwa Amr bin Ash tak jadi menggusur rumah orang Yahudi tersebut, dan memerintahkan kepada para  pekerja nya untuk mengembalikan gubuk orang Yahudi tersebut. Akhirnya orang Yahudi tersebut memutuskan untuk masuk Islam dan mewakafkan tanahnya untuk dibangun masjid.

Seperti yang dituturkan pula oleh DR. Salah Eddin Zaimeche Al-Djazairi, dosen University of Constantine di Ajlazair, ia menuturkan bahwa masjid adalah pusat pendidikan bagi banyak pemikir Islam. Selain belajar mengenai baca dan tulis al-Qur’an, di masjid juga pernah menjadi tempat pendidikan untuk belajar aritmatika, biologi, hukum, sejarah, dan teologi. Hal ini salah satunya terjadi di Spanyol pada abad ke 8 Masehi—saat Muslim menguasai Qordoba.

Fragmen-fragmen kisah diatas setidaknya cukup memberikan ilustrasi bagaimana memang dari sejarahnya pun, masjid tak hanya menjadi sebatas tempat beribadah saja. Melainkan juga menjadi tempat pertemuan, bertukar pikiran, hingga tempat dibuatnya kebijakan pemeritahan.

Dalam konteks Indonesia, masjid sebagai tempat pendidikan yang mewadahi segala kegiatan intelektual juga pernah terjadi. Masjid Salman ITB pada periode 1970-1980an merupakan tempat yang semarak dengan diskusi-diskusi kritis. Berbagai jenis pemikiran mendapat ruang dalam diskusi yang diadakan di sana, bahkan pemikiran kiri yang  kerap “diharamkan” oleh umat Muslim karena selalu diidentikan dengan ateisme, juga mendapat tempat pada saat itu.

Maju beberapa tahun kedepan, yakni pada 1984, salah satu masjid di Tanjung Priok juga merupakan tempat yang cukup blak-blakan dalam melawan rezim fasis Orde Baru.  Di Masjid itu marak disampaikan dalam ceramah mengenai penolakan mereka terhadap Pancasila sebagai asas tunggal yang saat itu digaungkan rezim Orde Baru. Hingga akhirnya perlawanan mereka berkahir dengan tragedi nahas karena bentrokan dengan tentara saat mereka hendak menuntut pembebasan kawan mereka yang ditahan tentara. Tragedi itu memakan banyak korban, berdasarkan data Sontak (Solidaritas  Untuk Peristiwa Tanjung Priok), korban tewas saat itu mencapai 400 orang.

Dalam konteks terkini, fungsi lain masjid di samping sebagai tempat ibadah juga masih ada.  Namun yang jadi pertanyaan, apa fungsi itu masih berkenaan dengan kegiatan-kegiatan intelektual yang menggugah akal sehat dan oleh kegiatan yang dapat memaslahatkan kehidupan umat manusia?

Berdasarkan laporan dari Sydney Morning Herald, media berita asal Australia tersebut melaporkan bahwa simpatisan ISIS di Indonesia menggunakan sebuah masjid di dekat Deprtemen Pertahanan Republik Indonesia sebagai lokasi pembaiatan anggota. Ini cukup menggambarakan bahwa bibit-bibit radikalisasi yang tumbuh di masjid memang ada.

Dalam sebuah monograf yang diterbitkan Center for the Study of Religion and Culture, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (2010), dipaparkan bahwa paska 1998, masjid-masjid kerap digunakan sebagai tempat menyampaikan ideologi, mahzab dan aliran-aliran tertentu dengan agitatif dan agresif. Demi upaya mendominasikan hegemoni ideologi mereka dengan menyampaikan nya kepada masyarakat.

Monograf itu setidaknya mendasari fenomena-fenomena dakwah atau khutbah di sebagian masjid di Indonesia saat ini, yang kerap meng-orasi-kan kebencian terhadap kelompok atau aliran tertentu. Ada yang dapat menyaring isi khutbah mereka, tapi tak bisa dipungkiri juga, tak sedikit orang awam yang ikut tersulut kebencian dan emosinya karena terpengaruh oleh isi khutbah mereka.

***

Masjid memang lebih dari sebatas tempat ibadah bagi umat Muslim saja. Di sisi lain, masjid juga merupakan tempat berbagai macam kegiatan berlangsung. Kegiatan-kegiatan yang tentunya tak sebatas hanya kegiatan belaka, tetapi kerap kali kegiatan tersebut dapat mengubah roda hidup seseorang, seperti yang terjadi pada orang Yahudi yang mendapatkan kembali tempat tinggalnya usai Khalifah Umar membuat kebijakan di Masjid Nabawi lewat goresan alif pada sebuah tulang.

Atau ketika seorang warga Madinah pada masa Rasulullah, tak lagi menderita kelaparan usai rumah mereka dapat teridentifikasi oleh sahabat  bahwa dapur nya tak mengepukan asap, usai dilihat dari menara masjid Nabawi. Pun juga seseorang yang asalnya tak bisa baca dan tulis al-Qur’an, menjadi bisa usai mendapat pengajaran di masjid Quba.

Perubahan tak melulu dari nasib buruk ke nasib baik, terkadang sebaliknya. Seperti yang terjadi di masjid Tanjung Priok tahun 1984. Mungkin mereka para korban tak pernah menyangka, perlawanan mereka terhadap rezim Orde Baru dari mimbar-mimbar masjid akan berkahir pada tragedi yang merenggut nyawa mereka. Dalam kasus termutakhir, seseorang bisa saja terdegradasi akal sehat nya lantaran hegemoni khutbah-khutbah yang meng-orasi-kan kebencian pada kelompok atau aliran tertentu.

Masjid dalam fungsinya yang lain, ternyata dapat mengubah fase hidup seseorang. Mengubah dari satu fase ke fase yang lain. Entah perubahan fase itu dianggap sebagai sebuah berkah Ilahi atau malah tragedi, tentu bagaimana masing-masing orang menafsirkan nya. Yang pasti, masjid itu sendiri sudah menjadi tanda peralihan berubahnya fase hidup seseorang.  Maka salah satu fungsi masjid selain tempat beribadah adalah masjid sebagai rite de passage.

Artikel Terkait