Masjid tidak dibuka sebagaimana biasanya. Dikhawatirkan akan menjadi tempat penyebaran virus. Sehingga diputuskan hanya dibuka dengan terbatas. Semasa ini, dengan kapasitas 50% bagi jamaah.

Selebihnya, diminta untuk menunaikan ibadah shalat bersama dengan keluarga inti. Bahkan idulfitri dan iduladha lalu sepenuhnya dilaksanakan di rumah. Masjid dan juga lapangan untuk id, tidak dibuka sama sekali.

Masjid Istiqlal sudah dibuka. Walau dengan kapasitas setengahnya saja. Sementara kegiatan berbuka puasa, belum dilaksanakan.

Kita lihat kembali di awal pandemi. Dewan Masjid Indonesia dengan cekatan melakukan sosialisasi panduan ibadah di masjid. Dimana takmir diminta untuk menggulung karpet sebagai antisipasi. Sekaligus menyiapkan peralatan untuk mendukung protokol kesehatan.

Bagi jamaah, diminta menyiapkan peralatan salat secara individual sehingga terjamin higenitasnya. Juga bagi yang merasakan gejala medis tertentu, diminta untuk sementara tidak mengikuti kegiatan berjamaah di masjid.

Pada Ramadhan sebelumnya, banyak “pertanyaan” warganet dimana mereka tidak setuju sepenuhnya dengan keputusan penutupan masjid.

Bagi saya, sesungguhnya masjid tidak ditutup. Hanya saja, tidak dibuka untuk umum. Bagi takmir, tetap diminta untuk melaksanakan shalat berjamaah dengan jumlah yang sangat terbatas, yaitu imam dan muadzin saja.

Ini semata-mata menghindari untuk tidak tersebarnya wabah di masjid.

Warganet itupun yang bertanya, Ketika masjid sudah dibuka untuk kapasitas 50% juga tidak Nampak di masjid. Sehingga pertanyaan sesungguhnya hanyalah setakat bahwa mereka mengekspresikan pendapat tanpa terkait dengan hal lain.

Pada saat yang sama, kampus juga mengalihkan pembelajaran menjadi aktivitas daring. Kecuali untuk aktivitas yang terbatas dimana hanya untuk kepentingan pengambilan data ataupun ujicoba laboratorium, bisa dilaksanakan di kampus.

Dengan demikian, masjid kampus juga tertutup untuk umum. Sehingga kegiatan berjamaah di masjid kampus juga tidak berlangsung. Termasuk jamaah yang selama ini berasal dari mahasiswa, ketika pembelajaran dilaksanakan dari rumah mereka tidak akan mendatangi masjid.

Sementara itu, daerah-daerah pelosok justru menikmati kemewahan. Dimana masjid tetap dibuka dengan tidak menjaga jarak. Iktikaf juga tetap dilangsungkan. Ini semata-mata karena daerah tersebut tidak mendapatkan kunjungan orang luar. Sementara sebelum itu, tidak ada juga warga yang terpapar virus.

Sehingga masjid tetap dibuka sebagaimana sedia kala, begitu pula dengan ceramah tarwih yang dilangsungkan seusai salat isya. Dilanjutkan dengan ceramah setelah shubuh.

Justru dengan wilayah mereka berada di tempat terpencil, sehingga mendapatkan anugerah tersendiri selama masa pandemi. Wargapun tidak lagi menggunakan masker dan juga menjaga jarak ketika berada di pasar.

Adakah Klaster Masjid?

Walau dipastikan orang yang datang di masjid sudah bersuci, dimana ketika berwudhu juag sudah mencuci tangan, tetap saja masjid berpotensi menyebarkan virus.

Dalam satu atau dua kasus, jamaah masjid justru menjadi pemicu sehingga jamaah lainnya terpapar corona.

Setidaknya dalam April-Mei 2021, kita dapatkan pemberitaan Pati dan Bantul yang harus melakukan penelusuran setelah seorang jamaah yang mengalami gejala medis tetap hadir berjamaah.

Setelah terkonfirmasi positif corona, akhirnya jamaah tersebut tidak terselamatkan. Dua hari setelah tes, wafat.

Untuk itu, jamaah yang hadir semasa almarhum hadir salat berjamaah mengikuti tes massal. Puluhan diantaranya juga mendapatkan hasil positif. Salah satunya dipicu dengan penggunaan pendingin ruangan yang memperluas penyebaran.

Dua lokasi di Bantul begitu pula. Bermula dari jamaah yang sudah mengalami gejala tetap saja saja hadir melaksanakan salat di masjid. Akibatnya, jamaah lainnya terpapar.

Kondisi yang parah di Yudomulyo, Banyuwangi. Bahkan sampai enam orang yang wafat akibat terpapar corona.

Sehingga satgas covid-19 meminta pengertian warga untuk menutup dua tempat ibadah, masjid dan musallah. Sebelum itu dilakukan penyemprotan disinfektan. Sekaligus di dusun tersebut, dilakukan pembatasan aktivitas untuk mencegah meluasnya penyebaran wabah.

Baik satgas yang melakukan kampanye islolasi mandiri, juga didukung kepolisian setempat untuk melakukan patrol demi kepatuhan pembatasan aktivitas. Sehingga tidak bertambah korban.

Awalnya, korban hanya 38 orang yang terkonfirmasi. Kemudian bertambah menjadi 53 orang. Dengan kondisi seperti ini, penutupan tempat ibadah dan juga pembatasan aktivitas sosial dintensifkan.

Termasuk penelusuran Kembali, dan pengetesan warga di dusun tersebut.

Tidak hanya itu, juga terjadi di Purbalingga. Bahkan imam masjidpun juga terpapar virus.

Klaster tarawih ini meluas sampai berjumlah 31 orang dari dua masjid yang berbeda. Jumlah ini didapatkan kontak erat sebanyak 94 orang. Pengetesan tetap dilaksanakan untuk memastikan kondisi warga yang mengikuti salat tarwih berjamaah.

Berlokasi di Baleraksa, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga, bukan saja penelusuran dan juga perawatan. Namun tiga dusun dibatasi dengan pengawasan yang ketat. Ini diawali dari aktivitas berjamaah salat tarawih.

Demikian pula di Banyumas, dilaporkan sebanyak 51 jamaah yang terpapar virus corona. Berasal dari dua masjid, di Kecamatan Kalibagor, dan Kecamatan Somagede. Diawali dari jamaah yang sudah merasakan gejala sakit tetapi memaksakan diri untuk tetap berjamaah ke masjid.

Masjid menjadi kluster pelonjakan jumlah penderita. Tak lebih karena ketidakpahaman jamaah yang sudah mendapatkan gejala medis. Namun, tetap berada di masjid. Ini menjadi awal penularan kepada jamaah sehingga jumlahnya mencapai puluhan.

Kondisi Pati, Bantul, Banyuwangi, Purbalingga, dan Banyumas, ini menunjukkan tetap perlu adanya kehatian-hatian dan kewaspadaan. Sekalipun itu di tempat ibadah. Protokol Kesehatan yang diterapkan secara maksimal dibutuhkan untuk menjaga Kesehatan semua jamaah.