Penulis
1 minggu lalu · 836 view · 5 menit baca · Budaya 86365_30951.jpg

Masjid Al Safar dan Kritik Arsitektur yang Acakadut

Di Indonesia saja—boleh jadi—terdapat satu budaya unik, yakni: asal kritik. Serupa yang banyak orang katakan: nyinyir kepada segala hal. 

Dalam pengertian umum, budaya asal kritik merupakan sebentuk aktivitas yang telah mendarah-nadi di kalangan masyarakat secara umum, oleh warganet secara khusus, mengkritik sesuatu dengan tendensi atau kecurigaan (perasaan) belaka.

Artinya, tidak dengan pijakan argumen yang—meminjam istilah tuan besar Rocky Gerung—logis atau dengan akal sehat (pikiran). Di titik ini, seolah-olah kritik dibuat menjadi sesederhana narasi “kafir” kepada non-muslim. Tak memerlukan pijakan ilmu pengetahuan.

Di Indonesia, siapa pun bisa mengkritik, bahkan terhadap apa saja. 

Perhatikanlah! Seseorang yang bukan ahli ekonomi bisa dengan lengang bicara bahwa utang Indonesia telah sampai pada potensi menghancurkan fondasi negara, secara membabi buta. Seseorang bisa bicara tentang politik atau hukum, sekalipun ia tidak datang atau pernah mengenyam pendidikan politik atau hukum.

Atau seseorang yang tiba-tiba nyinyir soal agama dan merasa paling tahu daripada yang sepuh. Sialnya, kebanyakan dari kita lebih menyukai mereka—si pengkritik asal-asalan—ketimbang mereka yang datang dengan kecakapan di bidang tertentu, atau setidaknya pernah mengenyam pendidikan.

Lebih sialnya lagi adalah, budaya ini dianggap biasa saja. Tak ada yang larang. Terutama dalih demokrasi, para elite—pembuat kebijakan dan penegaknya—menganggap hal ini sesuatu yang wajar belaka. Demikianlah contoh kedewasaan dalam berdemokrasi, kata mereka, sering. Satu hal menjadi kesengsaraan buat kita adalah, kita pun mengiyakannya.


Bagaimanapun, kita tak sedang mengatakan para elitelah yang memelihara budaya tak terdidik ini. Masalahnya, kenyataan yang sering kita jumpai adalah kritikan yang tak berbasis pada ilmu pengetahuan, kecuali prasangka. Padahal, nyawa sebuah kritik ditiupkan dari ilmu pengetahuan. Pendekatan atau metodologinya bermula dari situ.

Tapi tampaknya, budaya asal kritik ini memang terlahir tanpa ruh ilmu pengetahuan. Maka dari itu, saya kira, para elite cukup ada andil melindunginya, atau membiasakannya, atau memeliharanya. Sebab soalnya, dari mereka tak ada satu upaya serius menghalau budaya ini, selain merumuskan undang-undang dan menegakkannya.

Saya dan Anda tentu masih percaya, bahwa di antara beragamnya isi kepala para elite, masih ada—sekalipun minoritas­—yang cukup terusik dengan budaya asal kritik ini. Hanya saja, tampaknya, mereka lebih menyukai diam daripada buka mulut. 

Atau jangan-jangan mereka menunggu negeri seberang untuk mengeklaim bahwa budaya asal kritik ini adalah budaya mereka? Mungkin saja.

Nasib (Arsitektur) Masjid Al Safar

Belum lama terjadi dan masih ramai betul budaya asal kritik ini menunjukkan dirinya, sekaligus meramaikan jagat media sosial. Sebuah video berdurasi pendek tersebar. Tetapi bagaimanapun, ini bukan soal durasi pendek atau panjang, melainkan isi videonya. 

Media sosial memang telah mendidik kita untuk selalu “menghebohkan” apa saja. Akibatnya, tak butuh waktu lama untuk membuatnya viral segera.

Video itu menampilkan seorang yang tengah presentasi dengan semangat. Tetapi jika diperhatikan (tentu subjektif), kualitas presentasinya mirip dengan kualitas seorang mahasiswa semester awal, sekalipun kita tahu itu adalah penyajian dari seorang “ustaz”, dan mungkin: kebetulan ia seorang mahasiswa semester awal.

Si “ustaz” itu bernama Rahmat Baequni. Di video tersebut, ia tengah berceramah, meski lebih cocok menebar kebodohan kepada jemaahnya tentang bangunan masjid Al Safar yang diarsitekturi oleh Ridwan Kamil, yang sekaligus Gubernur Jawa Barat. 

Pasalnya, masjid itu, katanya, di beberapa bagiannya menggunakan bentukan-bentukan “yang terlarang”. Lalu kita menyebutnya sebagai bentuk illuminati, segitiga bermata satu pada bagian tengahnya.


Saya tak mau masuk pada ranah yang serius mengenai akibat secara akidah jika kita “menghalalkan” bentuk-bentuk seperti yang dimaksud oleh “ustaz” Rahmat Baequni. Hanya saja, jika meninjau rekam jejak Ridwan Kamil selama masa kepemimpinannya, atau selama ia menjalankan profesinya sebagai Arsitek, maka kita hanya akan menemukan satu fakta bahwa dia telah menelurkan banyak Masjid di berbagai daerah. Artinya, ia telah lama ikut “menyediakan” tempat ibadah untuk umat muslim.

Sebagai mahasiswa (bukan semester awal) di Program Studi Arsitektur, ada dua hal yang saya simpulkan mengenai pemaparan si “ustaz”. Pertama, ketidaktahuan tentang filosofi bentuk segitiga. Dan kedua, seperti kata mendiang Cak Rusdi, Merasa pintar, bodoh saja tak punya

Dua hal tersebut buat saya adalah alasan mengapa budaya asal kritik ini muncul. Karenanya, penting menurut saya untuk membersihkannya. Terkhusus mengenai bentuk segitiga yang dimaksud.

Dalam ungkapan ilmu arsitektur secara umum, segitiga merupakan simbol kestabilan. Keseluruhan struktur dapat berdiri dengan kokoh apabila resultante gaya yang bekerja kepadanya membentuk poligon segitiga. Ia adalah bentuk kuat untuk menerima tekanan pada semua bidangnya.

Dalam percakapan Sejarah Arsitektur, bentuk segitiga diambil dari bentuk dasar gunung, tentu tak asal-asalan. Secara filosofis, bentuk ini dimaknai sebagai pertalian antara dunia dan akhirat, atau menuju keabadian. Titik teragung. Dalam islam sendiri dikenal hubungan antara hamba kepada sang agung, atau Yang Esa, hablu minallah.

Di Jawa sendiri, atau di berbagai daerah lainnya, bisa kita temukan masjid-masjid yang mengadopsi bentukan-bentukan tersebut. Maka bagaimanapun, Masjid Al Safar melalui filosofi pertalian dunia dan akhirat, saya kira tengah mencoba mengejawantahkannya sebagaimana masjid sebagai tempat pertemuan kepada Yang Esa.

Lagi pula, jika benar “ustaz” Rahmat Baequni mengkritik masjid Al Safar tidak dengan teorinya yang acakadut itu, saya ingin tahu bagaimana ia menanggapi banyak atap rumah yang menggunakan bentukan segitiga, atau bagaimana ia menanggapi logo Front Pembela Islam (FPI) itu? Apakah termasuk illuminati?

Kritik Arsitektur?

Tentu, dalam tradisi akademik, kita mengenal Kritik Arsitektur. Ia hadir sebagai sarana untuk membentuk satu teori baru dalam arsitektur. Atau sederhananya, menghangatkan percakapan akademis yang beku. Tetapi Kritik Arsitektur memiliki metodenya sendiri dalam menyampaikan kritiknya. Tidak asal-asalan.

Yang dilakukan oleh “ustaz” Rahmat Baequni adalah pelanggaran sekaligus dosa terhadap ilmu pengetahuan; akademis. Tetapi tenang saja, ia tak akan dihukum untuk menikmati api neraka. Paling banter anaknya akan menanggung malu tujuh turunan.


Kritik Arsitektur selalu mengawali dirinya dengan deskripsi. Pendeskripsian atau penjelasan yang “apa adanya”; murni. Tentu dengan berpegang pada data yang ada sebati dengan objek yang akan dikritiki, untuk selanjutnya melangkah pada tahap normatif.

Masalahnya, pada tahap awal saja telah terjadi kesalahan oleh si “ustaz” yang cukup untuk mengatakan “jangan dilanjutkan” dari bapak Dosen. Tak ada pendeskripsian yang jelas oleh si “ustaz”. Karenanya, kritikannya memang tak bisa diterima dari semula.

Lebih jauh, sebagaimana di muka saya singgung, kita memang telah terbiasa untuk mengabil alih kemudi. Merasa paling tahu. Padahal bukan bagian atau bidang kita. Untuk menilai seseorang itu pantas mengomentari atau mengkritiki sesuatu, minimal ia memiliki legitimasi moral untuk tidak menuntutnya memiliki legitimasi akademik. Masalahnya, "ustaz" Rahmat Baequni tidak memiliki keduanya.

Kita tak mungkin menerima seorang Arsitek berdalil soal agama, sebagaimana tak mungkin kita menerima seorang “ustaz” bicara mengenai Arsitektur, apalagi dengan teori acakadut. Tetapi untuk diingat, Arsitek mampu menyediakan tempat untuk orang beragama. Seperti Ridwan Kamil, ia mebuktikannya lewat Al Safar.

Artikel Terkait