31 Oktober merupakan hari yang selalu dikaitkan dengan peringatan reformasi. Hari tersebut menjadi sangat populer, khususnya di kalangan protestan.

Tulisan singkat ini akan membahas tentang reformasi. Namun, karena terbatasnya ruang, bahasan mengenai reformasi tidaklah akan membahas peristiwa lampau, ketika Luther menyuarakan untuk perlunya reformasi dalam Gereja. Cakupan pembahasan dari tulisan ini adalah bagaimana melihat proses reformasi dalam konteks kekinian.

Tujuan dari reformasi adalah supaya komunitas beriman menjadi lebih baik lagi dalam menghayati keimanannya. Meskipun, sangat disayangkan, buah dari reformasi Luther adalah terus terjadinya perpecahan di dalam Gereja. 

Pascareformasi hingga kini, munculnya dedominasi dan aliran baru merupakan hal yang sering dipertontonkan. Sehingga, seperti sebuah satire, Andar Ismail dalam buku Seri Selamat mengatakan bahwa seharusnya Gereja tidak hanya menggunakan lambang salib, melainkan juga menggunakan “kaca beling” dan dituliskan mudah pecah!

Akan tetapi, bila menelisik kembali tujuan awal reformasi adalah untuk kebaikan bersama komunitas beriman, maka tidak diperlukan sebuah sikap yang mudah menghakimi Gereja A atau Gereja B. Gereja X Sesat, Gereja Z juga sesat, dan lain sebagainya. Untuk itu, pada saat ini, seolah-olah kita menganggap Gereja pada dasarnya semua sama.

Akan tetapi, karena keterbatasan saya, ketika saya menyebut kata Gereja, yang dimaksud adalah Gereja Protestan. Termasuk Gereja Kristen Sulawesi Tengah, Gereja yang telah mendidik saya sejak sekolah minggu.

Saya sendiri percaya bahwa reformasi itu sifatnya berkelanjutan. Artinya, reformasi itu terjadi terus-menerus. Karena, hingga kini, Gereja juga tidak lepas dari namanya kesalahan. Sehingga, Gereja haruslah terus-menerus bertobat, dan “diinjili”, serta mengetahui apa esensi kehadiran Gereja di muka bumi ini. Justru, dengan sikap yang mau terbuka atas keterbatasan yang ada, Gereja akan terus melakukan sebuah upaya perbaikan, demi kebaikan banyak orang.

Dengan tidak mengabaikan nilai sejarah dari reformasi, beracu dari tujuan mulia reformasi, kini muncul sebuah pertanyaan, apakah yang harus direformasi pada masa kini? Jawaban dari pertanyaan ini akan terjawab nanti.

Sebelumnya, marilah kita membuka mata atas realitas yang terjadi dalam lingkungan kita sebagai Gereja. Cerita dan potret kemiskinan merupakan hal yang sering kita dengar dan jumpai saat ini. Kemiskinan sepertinya tak pernah lepas dari konteks kehidupan kita di Indonesia (Poso?). Lantas, apakah yang sudah kita (baca: Gereja) perbuat dengan kenyataan yang kita hadapi?

Tulisan ini sama sekali bukanlah hal yang baru. Ide kepenulisan banyak meminjam ide dari para teolog sebelumnya. Di dalam buku Struggling in Hope yang dijadikan sebagai buku penghargaan kepada Pendeta Eka Darmaputera, Fridolin Ukur juga menyumbang tulisan yang  membahas teologi kejelataan.

Bahkan, bila melihat di belahan bumi lain, Gustavo Guitteres juga telah membahas teologi pembebasan yang juga berkaitan dengan rakyat jelata secara komperhensif. Di Korea, hal yang sama juga diperjuangkan oleh teologi Minjung.

Mengapa semangat untuk memperjuangkan kaum jelata begitu memuncak? Jawabannya begitu banyak dan beragam. Tetapi, saya hanya akan menjawab, sudah menjadi fakta bahwa hegemoni telah dilakukan oleh kaum kapitalisme terhadap rakyat jelata (di Gereja?).

Selain itu, di dalam Alkitab secara ekslpisit ditemukan bahwa Yesus adalah Pribadi yang solider dengan kaum jelata, bahkan membela kaum jelata. Jadi, adalah sebuah hal yang aneh jika menemukan masih ada para rohaniwan yang hanya bergaul dengan orang kaya (borjuis).

Sejak kedatangan-Nya di muka bumi ini, Yesus Kristus sebagai kepala Gereja telah menunjukan sebuah teladan akan keprihatinan-Nya terhadap kaum jelata. Tidak hanya itu, bahkan di dalam Perjanjian Baru (Yohanes 4: 1-42), dinarasikan bahwa Yesus turut prihatin dan berbela rasa terhadap perempuan Samaria. Kehidupan Yesus inilah yang menginspirasi banyak orang untuk melakukan kebaikan kepada orang lain (baca: kaum jelata).

Salah satu nama yang perlu diperhitungkan adalah seorang sastrawan yang juga belajar teologi secara mandiri yang bernama Leo Tolstoy. Tolstoy adalah seorang pujangga yang berasal dari Rusia. Dari Tolstoy, Mahatma Gandhi banyak mempelajari tentang pribadi Yesus (Andar Ismail: Seri Selamat).

Meskipun banyak kemalangan yang dialami oleh Tolstoy, namun ia tetaplah menyandang status sebagai keturunan bangsawan. Sudah barang tentu, Tolstoy memiliki banyak harta.

Namun, tanpa di nyana-nyana, Tolstoy pada akhirnya membagikan semua hartanya kepada orang-orang miskin. Tindakan ini juga menjadikan isterinya bertanya-tanya dan “membencinya”. Tetapi, pada akhirnya, Tolstoy merasakan sebuah sukacita ketika melakukan hal ini (saya ingat note pak Ekaputra Tupamahu: Pemborosan Kudus).

Belajar dari kehidupan Tolstoy, sudah seharusnya gereja untuk melakukan penyempurnaan (reformasi) pada hal-hal yang berkaitan dengan kepedulian kepada kaum jelata. Bukan tidak mungkin, di sekitar bangunan Gereja yang megah, terdapat sebuah gubuk yang memprihatinkan keadaannya.

Lalu, apa yang harus diperbuat oleh Gereja? Memberdayakan jemaat.

Dalam buku Yesus dan Wong Cilik, Yosef Widyatmadja menawarkan diakonia transformatif adalah sebagai langkah yang tepat untuk menjadi solusi yang harus dilakukan oleh Gereja untuk memberdayakan kaum “akar rumput”. Sederhananya, tidak sekadar memberi ikan, tetapi perlunya juga untuk mengajarkan cara membuat kail dan memancing yang benar.

Tidak hanya berhenti di situ, kolam tempat memancing pada saat ini sangat sulit ditemukan. Tak jarang, kolam juga telah tercemar atau dikuasai golongan tertentu. Artinya, sistem kapitalisme juga harus dilawan.

Saya setuju dengan pandangan Widyatmadja. Akan tetapi, sebagai langkah penyempurnaan, seperti yang terlihat dalam diri Tolstoy, maka diperlukan spiritualitas kehambaan (saya ingat tulisan Gerrit Singgih). Artinya, diperlukan sikap yang mementingkan dan mendahului orang lain di dalam Gereja. 

Spiritualitas kehambaan perlu dimiliki semua warga Gereja, termasuk para pelayan dan para petinggi Gereja. Dengan demikian, kolam yang ada, diberikan kesempatan kepada kaum jelata yang memancingnya. Atau, para golongan tertentu yang memiliki kolam, membiarkan orang lain juga turut memancing. Tugas para “rohanikers” adalah mendampingi dan memberdayakan (mengajarkan cara membuat kail).

Iya dong! Pendeta tak harus memancing lagi! Nanti, akibat terlalu banyak memancing, lupa membaca buku dan mempersiapkan pengajaran yang berkualitas. Oh iya, mungkin para “rohanikers” untuk lebih mencintai nilai luhur kehidupan, perlu membaca sastra!