Beberapa hari yang lalu saya melakukan perjalanan ke luar kota menggunakan jasa travel ‘gelap’. Walau memang travel tersebut adalah kendaraan umum ‘ilegal’, namun dalam perjalanan tersebut saya mendapatkan sejumlah pembahasan untuk penggalian diri agar lebih berarti.

Begini, di dalam mobil itu terdengar bunyi meong yang mengagetkan supir dan juga penumpang yang berjumlah empat orang termasuk saya.

Siapa pula yang membawa kucing dalam perjalanan ini?

Mungkin itulah pertanyaan di dalam pikiran para penumpang.

Ternyata, bunyi ‘meong’ bersumber dari nada dering handphone milik seorang penumpang. Ia adalah wanita tua yang kira-kira umurnya sudah 60an. Penumpang yang duduk di samping supir pun berkata,

“Itu nada dering handphone ibu? Dibaca dong.”

Kemudian si ibu tua menjawab,

“Iya, mungkin itu ada sms masuk, tapi saya tidak bisa membaca. Biar sajalah.”

Melihat bunyi ‘meong’ yang terus terdengar dan merusak konsentrasi supir travel, si penumpang yang duduk di samping supir menawarkan diri untuk membantu si ibu membaca isi sms yang masuk ke handphone, dan sejenak kemudian si supir nyelutuk,

“Ibu tidak tahu huruf ya? Tapi kalau sama uang tahu tidak?”

Mendengar kata dari si supir, ibu tua hanya tersenyum malu-malu.

Saya yang duduk paling belakang (sendirian) mendengarkan percakapan itu. Ada miris dalam hati karena di zaman modern ini masih saja ada yang buta huruf. Apalagi saya pernah membaca berita di surat kabar nasional bahwa jumlah buta huruf di Indonesia mencapai 2 juta penduduk.

Di sisi lain saya tertawa getir karena mendengar istilah ‘buta huruf tapi tidak buta uang’

Seketika saya ingat tentang wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad SAW, yakni surat al-'Alaq. Surat yang memerintahkan kepada nabi untuk iqra atau membaca. Lalu bagaimana perintah ‘membaca’ di peradaban modern? Masihkah?

Jika dikaitkan dengan percakapan penumpang di travel ‘gelap’ tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa seiring waktu berganti, hakikat membaca telah semakin sirna karena adanya ambisi hitung menghitung. Istilahnya sekarang ini bukan lagi membaca yang dijalankan, tetapi berhitung.

Dalam pandangan saya, ketika melakukan ibadah pun demikian adanya. Beberapa di antara kita menilai bahwa setiap apa yang dikerjakan dalam kehidupan (sementara) ini adalah berhitung. Sedekah segini, pahalanya segini.

Giat salat berjamaah hanya untuk meraup pahala 27 kali lipat. Sehingga ini juga berpengaruh saat kita beribadah dan melakukan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Semua tidak terlepas dari istilah hitung menghitung pahala, atau untung rugi.

Biar apa? Biar tidak masuk neraka?

Beberapa di antara kita pun getol dalam berhitung. Segala macam amal ibadah dijalankan, namun intinya adalah berhitung. Biar masuk surga, katanya. Selain itu, amal ibadah yang telah dan sering dijalankan juga dijadikan sebagai citra diri. Mereka ‘menabung’ pahala agar dipandang alim oleh masyarakat lainnya. Hitung menghitung, berhitung dan perhitungan.

Jika demikian adanya, di mana letak hakikat membaca dan hakikat ibadah? Apa benar ibadah untuk hitung-hitungan dan penciptaan citra diri agar lebih terhormat?

Kalau menurut saya, hitung-hitungan telah membawa kita untuk mengkhianati arti dari niat ‘karena Allah’.

Seiring tahun berganti, dengan jumlah manusia yang kian hari kian meledak di bumi ini, aktifitas ‘membaca’ pun mulai ditinggalkan.

Apakah arti dari ‘membaca’? Kenapa wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah ajaran untuk melakukan aktivitas baca?

Sebagian dari kita mungkin sering lupa kalau membaca bukan sebatas aktivitas mengeja satu persatu huruf. Membaca berada dalam artian yang teramat dalam. Apapun yang ada di semesta adalah hal-hal yang bisa dibaca, disibak, digali dan dijadikan arti.

Hadirnya sejumlah ketetapan untuk peradaban bumi adalah hasil dari aktivitas ‘membaca’ orang-orang sebelum kita. Contoh, adanya penetapan tahun bukan dihasilkan dari berhitung, tapi tetap diawali dari membaca. Begitupun hal-hal lainnya.

Kalau diperhatikan, kita yang hidup di peradaban modern ini sungguh telah mendapatkan kenikmatan dari aktivitas membaca yang dilakukan oleh orang-orang dulu. Tapi sayangnya, kita gampang terlena dan larut dalam paradigma yang sempit, sehingga aktivitas membaca telah menjadi berhitung. Ujung-ujungnya kita terlupa, tersesat dan akhirnya terjebak.

Maka, agar kita tidak tersesat, marilah kembali membaca, bukan melulu berhitung.