Matahari hari ini lebih terik dibanding biasanya. Sinarnya mengetuk jendela yang masih tertutup rapat. Namun mereka dengan lancangnya masuk melewati lubang ventilasi yang tak pernah tertutup.

“Nay, bangun nak sudah siang” Panggil Mama sambil mengentuk pintu kamarku.

“Iya Ma.” Masih dengan mata yang enggan dibuka tapi harus dipaksa.

Aku mulai membuka mata, turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi untuk melakukan ritual pagi sebelum berangkat sekolah. Memang tidak pernah beda hari-hariku. Selalu saja begitu, monoton bagaikan sebuah lukisan dengan satu warna.

Menyiapkan diri sebelum berangkat sekolah adalah hal yang penting. Mulai dari menyiapkan buku pelajaran sesuai jadwal, mengerjakan tugas dari sekolah, menyiapakn seragam untuk hari ini. Semua harus dikerjakan malam harinya.

Mama selalu mengajarkan kedisiplinan itu padaku. Sejak masih SD, Aku tidak pernah absen untuk melakukan ritual persiapan sekolah. Begitulah sosok Mama, seorang pegawai di salah satu bank milik negara.

“Ma, kenapa hari ini Aku dibangunkan agak terlambat?. Tidak biasanya Mama bangunin seterlambat ini.” Tanyaku sambil sarapan roti cokelat buatan Mama yang sudah disiapkan.

“Maafkan Mama sayang. Hari ini Papa tiba-tiba dapat panggilan tugas ke Gorontalo untuk 5 hari ke depan. Jadi Mama harus siapkan semuanya secara mendadak”. Jawab Mama sambil mengelus rambutku.

“Papa pergi hari ini Ma? Yahh, Naya belum sempat ngucapin selamat ulang tahun buat Papa.” Sesalku.

“Oh iya, Kenapa Mama lupa kalau hari ini Papa ulang tahun. Lhoh kalau Papa ulang tahun berarti hari ini kamu juga ulang tahun dong, Naya?.” Tanya Mama sambil kebingungan.

(Aku hanya tersenyum)

“Nanti Mama akan pulang lebih awal untuk mempersiapkan makanan spesial untuk kamu. Kita akan rayakan ulang tahun kamu dan Papa. Mungkin tidak akan seperti biasanya, sayang.” Jawab Mama dengan raut muka sedihnya.

“Tidak apa-apa Ma. Naya udah besar. Jadi tidak perlu merayakan ulang tahun dengan acara yang besar.” Jawabku sambil memeluk Mama.

“Yuk kita berangkat. Hari ini Mama antar kamu ke sekolah”

Ulang tahunku yang ke 16 tahun memang paling berbeda dari sebelumnya. Papa yang selalu ada saat hari bahagiaku, kini harus bekerja karena tugas dari kantor. Mama yang tidak pernah lupa dengan hari spesialku, tiba-tiba melupakannya.

Satu tahun sebelum semua terjadi. Perayaan ulang tahun yang begitu sederhana. Hanya aku dan Mama. Kedua kakak laki-lakiku juga tidak bisa pulang karena tugas yang tidak bisa ditinggalkan.Hanya ucapan via daring yang bisa aku dapatkan.

Kini aku sudah berusia 22 tahun. Setalah enam tahun lamanya tidak ada ucapan kebahagiaan yang Aku dapatkan. Hanya Mama yang selalu membisikkan kata-kata indah melalui telepon genggamnya.

Hari ini, di usiaku yang ke 22, Aku mulai sadar jika semua harus diulang mulai dari Nol. Aku berniat untuk meminta maaf pada Papa apapun yang terjadi. Tidak ada lagi diam dan tak saling sapa.

Kali ini Aku mencoba bertanya dengan mbak Yum. Sepulangku dari bekerja sebagai pengajar di sebuah sekolah Internasioal. Kira-kira jam 16.00, Aku mencoba berbisik dengan Mbak Yum yang sedang sibuk di dapur.

“Mbak, Papa dimana?” Tanyaku.

“Papa sedang beristirahat dek. Beliau sedang asyik menonton film kesukaannya di kamar. Gimana dek?” Jawab Mbak Yum. Memang begitu, Mbak Yum selalu memanggilku dengan sapaan “dek” meskipun sekarang Aku sudah dewasa.

“Aku pengen ngobrol sama Papa, Mbak. Kira-kira enaknya kapan ya, Mbak?”

“Lebih baik Mbak nanya ke Papa dulu, dek. Mbak juga gak berani kalau Papa gak ngijinin.”

Begitulah Mbak Yum. Sosok yang begitu sabar merawat Papa sampai sekarang ini. Mbak Yum sudah bekerja dengan keluarga kami sejak Aku masih sekolah di SD. Beliau hanya mudik pas lebaran saja karena jarak kampung halamannya yang jauh.

Mbak Yum mengetuk pintu kamarku. Kami sudah terlalu biasa dengannya. Kami tidak enggan bercerita tentang rahasia apapun padanya.

“Dek, Dek Naya.” Panggil Mbak Yum dengan suara lirihnya.

“ Iya Mbak, Silakan masuk.”

Mbak Yum masuk ke kamarku dan membicarakan keinginanku untuk ngobrol dengan Papa.

“Dek, Mbak Yum sebenarnya sudah lama ingin berbicara tentang ini dengan kamu. Tapi baru kali ini Mbak Yum beranikan diri.” Dengan sedikit mengambil nafas agak dalam.

“Mbak hanya ingin melihat keutuhan keluarga bahagiamu, dek. Ingin melihat tertawa bersama, bercanda bersama, saling menyapa seperti kehidupan keluarga ini dahulu. Mbak Yum sangat bahagia melihat ini semua.” Lanjutnya.

“Dek, Mbak hanya ingin kalau kamu nanti bisa bicara dengan Papa, bicarakan baik-baik. Jangan membuat suasana semakin jelek. Meskipun Papa terlihat tidak perhatian denganmu, sebenarnya Papa setiap hari menanyakan kabarmu lewat Mbak Yum.”

“Setiap hari Papa melihat kamu pergi mengajar dari balik jendela kamarnya. Dia selalu tersenyum bersemangat. Tapi Mbak juga belum tahu sebenarnya apa yang diinginkan Papa darimu, dek.” Lanjut Mbak Yum sambil melihatku dengan serius.

Aku hanya menangis mendengar cerita Mbak Yum yang tidak pernah aku tahu sebelumnya. Aku sangat berdosa jika tidak segera meminta maaf dan memeluk erat tubuh Papa yang kini sudah mulai menua.

Papa adalah sosok idolaku sejak dahulu hingga kini. Hanya salahku yang tidak pernah melihat dan mendengarkan apa yang disarankan oleh kedua orang tuaku. Hanya keegoisanku yang memenangkan segalanya.

Bukan hanya Mbak Yum yang rindu kisah keluarga harmonis kami tapi Aku, Mama, Papa dan Kakakku pasti juga rindu dengan segala kebahagiaan yang pernah terukir. Maafkan Aku, semua masih tentang kesalahanku.