Bicara soal Tuhan adalah sebuah perkara besar. Kita sampai pada ketidaktahuan. Kita sampai pada kebuntuan.

Jika hanya sampai pada kebuntuan dan polemik, itu biasa. Akan tetapi, pembicaraan tentang Tuhan kadang membatasi ruang gerak. Dunia yang begitu luas, sekejap menjadi sempit karena adanya Tuhan. Tuhan yang menciptakan. Ia mahakuasa dan berkuasa.

Generasi-generasi sebelum kita telah merasakan bahwa akhir dunia sudah dekat. Dalam catatan sejarah, kita pernah memasuki periode 12 bulan 12 tahun 2012. Kita semua telah melewatinya. 

Akan tetapi, ada sekelompok orang yang melihat angka itu sebagai penutup usia. Hari bersangkutan dalam kalender ahli nujum dilihat sebagai hari kiamat. Alhasil, beberapa sekte di belahan dunia ini merayakan selebrasi bunuh diri massal.

Memasuki tahun 2020, dunia dilanda virus korona “made in China” katanya. Para pakar, ilmuwan, dan ahli nujum kembali membuat prediksi. Katanya: “Ini kutukan, ini akhir hidup, ini tanda-tanda kiamat.” Semuanya diviralkan dan dijadikan pijakan refleksi sambil pelan-pelan mengemas persiapan jika nanti ini memang benar petanda dunia kiamat. Akrobat penafsiran merambah ke banyak hal – termasuk soal keberadaan dan masa depan Tuhan.

Virus corona menghentikan kerja keras manusia ‘tuk memikirkan Tuhan. Ketika korona mengancam, “followers” Tuhan mendadak bungkam. Puji-pujian tak lagi dikumandangkan. Pintu-pintu ditutup. Pingin berdamai, tapi masih takut. Takut sama diktator yang juga tak kelihatan. 

Kita selalu memikirkan Tuhan, terus “Apakah Tuhan memikirkan kita?” Tuhan pasca-pandemi itu seperti apa? Mungkinkah ada tagar Gereja pandemi karena orang begitu “kangen” sama sosok Tuhan?

Kita tak bisa menjawabnya sekarang. Kita masih dalam situasi darurat. Ketidakpastian menjadi hal yang pasti di tengah pandemi ini. Kita kelihatan seperti teburu-buru menjumpai Tuhan. Di tengah pandemi, sosok Tuhan dicari sekaligus dibicarakan, diingat sekaligus dilupakan, menjadi terkekang sekaligus menjadi bebas. Ada warna-warni soal Tuhan saat ini.

Pertanyaannya pun muncul: “Bagaimana gagasan tentang Tuhan tetap bertahan dalam tahun-tahun mendatang?” Selama 4000 tahun, gagasan itu telah mampu menjawab tuntutan zaman. 

Akan tetapi, pada abad kita ini, makin banyak orang yang tak lagi merasakannya sebagai suatu manfaat. Dan, ketika sebuah gagasan keagamaan kehilangan fungsi, ia pun dengan cepat dilupakan. Mungkin Tuhan merupakan sebuah gagasan silam sehingga dengan mudah dilupakan.

Ilmuwan Amerika, Peter Berger, mencatat bahwa kita acap menggunakan standar ganda tatkala membandingkan masa lalu dengan masa kita sekarang ini. Masa lalu kadang diagung-agungkan dan menjadi satu-satunya pijak memahami masa depan Tuhan.

Masa lalu kemudian dijadikan pelabuhan nostalgia terutama soal kesuksesan dan kejayaan. Ketika disandingkan dengan masa sekarang, gagasan Tuhan telanjur babak belur. Maka, kaum sekularis abad ke-19 dan awal abad ke-20, memandang ateisme sebagai kondisi kemanusiaan yang tidak dapat dihapuskan pada era ilmiah.

Banyak dukungan untuk pandangan ini, di mana di Eropa, gereja-gereja mulai kosong. Ateisme tidak lagi merupakan ideologi segelintir pelopor intelektual, tetapi malah menjadi keyakinan yang menyebar luas. 

Di masa lalu, ateisme selalu diakibatkan oleh gagasan tertentu tentang Tuhan, namun kini tampaknya ateisme telah kehilangan hubungan dengan teisme dan menjadi respon automatis terhadap pengalaman hidup di tengah masyarakat sekular.

Seperti kerumunan orang yang mengelilingi “si gila” Nietzsche, banyak orang mulai bersikap tak gentar dengan prospek hidup tanpa Tuhan. Ada pula yang melihat ketiadaan-Nya sebagai hal yang melegakan. Sebagian di antara kita yang pernah mengalami masa-masa sulit dengan agama di masa lalu merasa terbebaskan dengan meninggalkan Tuhan yang telah meneror di masa kanak-kanak.

Sungguh menggembirakan tidak harus tunduk takut di hadapan ilah pendendam, yang mengancam kita dengan hukuman abadi jika kita tidak mematuhi berbagai aturan-Nya. Kita meraih kebebasan intelektual baru dan dengan berani dapat mengikuti pikiran kita sendiri tanpa harus menahan diri agar sesuai dengan aturan agama yang sulit.

Kita mengira bahwa ilah gaib yang kita alami itu adalah Tuhan autentik kaum Yahudi, Kristen, dan Muslim, tanpa berpikir bahwa itu mungkin sekadar proyeksi pikiran yang menyimpang.

Tentang Tuhan, ada pula yang mati-matian menolak. Selain itu, ada pula suara kepiluan, seperti yang diorasikan filosof Prancis Jean Paul Sartre (1905-1980). Sartre berbicara tentang lubang berbentuk Tuhan dalam relung kesadaran manusia, tempat yang pernah diisi oleh Tuhan. Akan tetapi, dia berpendapat bahwa sekiranya Tuhan sungguh-sungguh ada, Dia tetap perlu ditolak sebab gagasan tentang Tuhan menafikan kemerdekaan kita. 

Agama tradisional mengajarkan bahwa kita mesti menyesuaikan diri dengan gagasan Tuhan tentang kemanusiaan agar kita bisa menjadi manusia yang utuh. Ateisme Sartre bukanlah kredo yang menenteramkan, tetapi lebih pada cara memandang ketiadaan Tuhan sebagai pembebasan positif.

Ketika semua kegiatan keagamaan disekap di rumah, ada ketakutan orang jenuh mengelola Tuhan dalam batin. Tuhan kadang bungkam, dan memang sejak dahulu Ia selalu memilih diam. Ia ‘tak mau berbicara banyak karena kita kita terlalu banyak berbicara. Ia komplain.

Kita suka menggagas Tuhan. Kita membela Tuhan mati-matian. Di saat sekarang, perlukah kita mengadili Tuhan?