"Sudahlah, tak usah berharap banyak pada persepakbolaan Indonesia. Apa yang diharapkan? Permasalahan satu belum usai, muncul lagi masalah berikutnya. Dalam beberapa saat mungkin kabar-kabar tersebut akan hilang. Tapi apakah hilang berarti selesai? Boro-boro."

Seluruh masyarakat Indonesia mesti bangga jika negaranya memiliki sepak bola yang berkualitas dan berprestasi. Jangankan sepak bola, olahraga-olahraga lain yang secara popularitas jauh di bawah sepak bola saja, tatkala mereka mampu mendulang prestasi saat Asian Games kemarin, riuh-rendah apresiasi menghujani setiap hari. 

Seluruh orang bersorak dan berbangga. Yang tadinya sedih bisa bahagia, yang mulanya murung bisa tersenyum. Bahkan perseteruan dunia-akhirat cebong dan kampret sempat mereda beberapa waktu! Sebab apa? Prestasi olahraga.

Sekarang coba bayangkan jika sepak bola kita yang mampu bermain apik dan berprestasi. Dengan segunung penikmatnya di Indonesia, yang tadinya tidak suka pun perlahan akan menikmati. Atau setidaknya muncullah sedikit kebanggaan menjadi warga negara Indonesia, yang selama ini bisa jadi lebih banyak malunya karena ulah oknum yang karenanya kabar yang kerap kali mencuat ke permukaan malah menebar pesimisme bagi anak bangsa.

Tetapi ya cukup bayangkan saja, jangan lebih. Jangan jadikan itu tujuan hidupmu. Yang ada ketenangan hidup enggan mampir barang sejenak. Kok bisa? Ya, sebab persepakbolaan Indonesia sudah mengalami degradasi yang masif dan struktural. Dari pucuk tertinggi, hingga suporter sebagai barisan paling bawah dari bangunan kerajaan sepak bola.

Tidak percaya? Oke, mari kita bahas secara singkat satu per satu.

Belum lama ini, bapak kita tercinta, yang sekarang memangku amanah besar dan bertanggung jawab atas persepakbolaan tanah air selaku ketua umum PSSI resmi dilantik menjadi Gubernur Sumatera Utara. Suatu hal yang luar biasa dan sebenarnya patut diacungi jempol keberaniannya. Sebab, beliau mampu –atau setidaknya merasa mampu– untuk megemban dua amanah yang besar dan bukan main-main tersebut.

Tetapi sebagai respons pada hari saat beliau dilantik sebagai gubernur, warganet ramai-ramai meneror akun resmi FIFA; baik Twitter maupun Instagram, sebagai bentuk desakan agar setidaknya beliau yang terhormat berubah pikiran dan mau merelakan segala jerih payahnya selama ini –jika sudah cukup disebut berjerih payah– di PSSI.

Lalu hasilnya? Jelas, sampai saat ini beliau masih aman-aman saja. Melenggang bebas menjadi pengampu kedua pekerjaan yang sama-sama berat nan rumit yang seharusnya membuatnya pusing bukan main.

Tapi tak apa. Yang paling tahu tentang dirinya tentu beliau sendiri, bukan? Kita tahu apa. Buat apa kita sebagai penonton dan suporter sibuk-sibuk memprotes kelakuan beliau yang sudah jelas-jelas tidak mau menyerahkan kursi kekuasaannya di federasi sepak bola tanah air ini? Yang penting liga beres, pembinaan bagus, timnas berprestasi. Gitu, kan?

Apalagi melihat kita yang sekadar menjadi suporter saja tidak becus. Ya, wajar toh kalau beliau dengan segala amanah dan tetek bengeknya yang buanyak itu kurang optimal dalam mengemban tugas?

Lha wong kita jadi suporter saja masih berlepotan, mau sok-sokan nuntut yang di atas. Untuk sekadar menjaga kondusivitas saja tidak mampu. Sekadar bernyanyian sepuasnya di stadion, bikin koreografi sekreatif mungkin, kalau menang silakan bahagia, kalau kalah pulang dengan lapang dada. Hanya itu saja kita tidak bisa.

Malah bertingkah sampai-sampai harus mengorbankan nyawa. Nyawa manusia, lho bukan kecoa yang terbang dan nemplok sekenanya.

Coba kita ingat-ingat kembali. Dalam balutan rivalitas Persib-Persija saja, setidaknya ada 7 nyawa melayang karena ulah supporter yang masih kesulitan membedakan makna musuh dan lawan. Dan teranyar ialah saudara kita Haringga Sirilla yang harus pergi sebab digebuki dengan piring dan botol layaknya maling ayam tetangga. 

Koruptor pun tak diadili sebegitu sadisnya. Lalu apa salah mereka yang harus meregang nyawa karena hanya ingin menonton laga tim tercinta?

Beberapa waktu sebelumnya juga harus ada nyawa yang melayang karena salah kaprah memaknai kecintaan dalam sepakbola. Ialah Muhammad Iqbal, seorang suporter PSS Sleman yang harus tewas dikeroyok suporter PSIM Yogyakarta.

Mau belagak seperti hooligan di Inggris sana, kalian?

Gini lho. Hooliganisme yang mulai marak di Inggris pada tahun 1980-an, lambat laun kian ditumpas dan dihilangkan. Terlebih setelah tragedi Hillsborough yang menewaskan 96 orang, usaha itu kian terasa. Sampai pada tahun 1990-an, para elite sosial Inggris mulai mencap buruk sepakbola akibat kelakuan para hooligan. Padahal, saat itu sepakbola perlahan mulai meningkat eksistensinya.

Rupert Murdoch, pemilik koran Sunday Times bahkan menyebut sepak bola sebagai “olahraga kampung yang dimainkan orang-orang kampung”. Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher juga mengawinkan penghinaan yang sama kepada sepakbola atas perilaku para hooligan yang merusak.

Padahal di Inggris sana, sebagian dari mereka masih mengenal etika dan moralitas dalam menjalankan aksi mereka. Mereka kerap menyebut mereka sendiri sebagai “pelaku kekerasan yang budiman”. Karena dalam melancarkan kegiatan kekerasan mereka, mereka masih tebang pilih. Mereka tidak pernah menyerang para penonton yang tak bersalah, dan juga mereka tidak pernah menggunakan senjata. Tidak asal sikat saja.

Dalam aturan main para hooligan pula, tidak boleh melakukan baku hantam di tempat yang terjangkau anak-anak. Tentu alasannya kita paham, bahwa memang sejatinya kericuhan semacam itu merupakan hal yang tidak baik ditonton dan ditiru anak-anak. Jika sejak muda mereka sudah terpapar itu, akan seburuk apa kondisinya kelak ketika sudah dewasa?

Dan setidaknya total ada 12 peraturan yang menjadi kesepakatan antar hooligan yang membuat mereka masih terlihat lebih manusiawi.

Sedangkan apa yang selama ini kalian lakukan wahai suporter sepakbola tanah air yang tercinta? Apa memang ini yang kalian inginkan? Ingin sepak bola yang bisa menjadi pelipur lara segenap warga Indonesia ini menghilang eksistensinya dari bumi Nusantara? Ini wujud cinta kalian terhadap sepakbola nasional dan tim yang kalian cinta?

Kalau memang itu mau kalian, baiklah. Saya rasa semua orang pun sepakat, lebih baik tidak ada sepak bola di Indonesia ketimbang harus ada nyawa yang hilang sia-sia. Dan semoga kemarin memang yang terakhir, walaupun saya agak menyangsikannya.

Tetapi kalau kalian masih mau menikmati gelaran sepak bola tanah air, masih punya mimpi timnas Indonesia juara barang Piala AFF saja, mbok yo berubah gitu lho. Apa kalian tidak malu, teriak-teriak mencibir PSSI yang katamu tak becus, menyinyir Pak Edy yang kau bilang tak ngerti sepak bola, tetapi kalian jadi suporter saja kalian tidak bisa. Menjadi penonton yang berbudi luhur dan berakal sehat saja kalian tak mampu. Apalagi mau urus sepak bola Indonesia?

 Lalu harus gimana? Has, embuh lah. Memang masih bisa berharap apa pada persepakbolaan Indonesia dengan kondisi yang sedemikian nahasnya?