Hari Pendidikan yang kira rayakan lagi dalam tahun ini, menjadi sebuah momentum refleksi kembali. Dimana pendidikan sebagai sebuah hak. Bukan sebaliknya sebagai kewajiban.

Kali ini, kita akan menelusuri potret pendidikan di Tanah Papua. Pulau yang diberkati dan menjadi anugerah tersendiri bagi kita.

Dengan anugerah itu, justru keterbelakangan juga yang mewarnainya. Indeks Pembangunan Manusia dan kemiskinan, juga menjadi warna tersendiri bagi dua provinsi, Papua, dan Papua Barat.

Seorang guru, sekarang sudah berpulang ke rahmatullah. Untuk penyelesaian pendidikan sarjana harus menjalani tak kurang tujuh kilometer. Ditempuhnya dengan jalan kaki.

Ini semata-mata untuk menyimpan uang yang dimilikinya agar bisa digunakan untuk makan. Sebagai guru di sekolah dasar di kampung, tidak diberi gaji. Hanya saja, semasa mengajar mendapatkan makan siang bersama dengan peserta didik yang mukim di panti asuhan.

Dengan sakit yang dideritanya, tetap saja mengajar. Tidak berobat ke dokter. Dengan sakitnya itu, dia wafat. Memanglah ajal urusan Yang Kuasa. Hanya saja, ketiadaan uang sehingga tidak mendapatkan pertolongan dokter.

Sementara Ibrahim Kasop, guru di madrasah yang lain. Dinamakan dengan Madrasah Al Ikhlas.

Melihat tetanga, kerabat, dan anak usia sekolah tidak mendapatkan pelajaran, maka dikontraknyalah sebuah rumah untuk menjadi ruang belajar.

Juga menjadi tempat tidur bagi anak yatim yang tak berumah lagi.

Dicarikannya donatur dan juga disisihkannya Sebagian dari gajinya untuk mendukung sekolah yang didirikannya bersama dengan kolega guru dan juga dosennya semasa menempuh kuliah sarjana.

Untuk menambah kemampuannya, guru Ibrahim juga mengikuti kuliah pendidikan magister.

Dalam satu waktu, tidak saja memikirkan semua murid-murid itu yang memang tidak dibebani untuk membayar. Sekaligus juga memikirkan bagaimana pembayaran kuliah dan operasional pendidikannya.

Teringat di masa guru Ibrahim menempuh ujian munaqasyah. Dirayakannya dengan membagi makanan dengan warga kampus. Tidak saja dosennya yang disodorkan makan siang, juga para pegawai tenaga kebersihan, dan pekerja lainnya. Tidak ketinggalan, tenaga keamanan juga disiapkannya bahkan dilebihkan beberapa kotak untuk makan di kesempatan selanjutnya.

Betapa mengharukan, padahal dosen-dosennya tidaklah berkekurangan. Mereka sudah menerima tunjangan fungsional, dan juga pembayaran sertifikasi. Nilainya sampai jutaan. Untuk sebuah makan siang, bahkan menerima uang lauk-pauk ketika mereka hadir di kampus selaku ASN.

Guru yang tidak hanya memberikan pelajaran. Juga, mengasupi dengan nutrisi. Bahkan tidak memikirkan bahwa orang yang dipikirkannya justru berkelebihan keuangan dan justru menempati rumah yang lebih mewah.

Potret lainnya, ada warga yang menjadi melengkapi aktivitasnya dengan menjadi guru. Dimana pekerjaan utamanya, menjual barang kelontongan di pasar.

Walau demikian, menyisihkan tenaganya usai waktu pasar untuk turut mengajar. Bukan di sekolah saja, juga turut mengajar di masjid yang mengelola taman Pendidikan Alquran.

Dengan status sebagai pedagang pasar itu, bukan berarti bahwa ia tidak kompeten. Tidak saja pendidikan sarjana, bahkan strata magister juga sudah merampungkannya. Kelulusanpun dengan cumlaude. Begitu pula dengan ibadah haji juga sudah ditunaikannya.

Sebagai seorang guru, ia memiliki kompetensi. Namun itu bukan pekerjaan utamanya. Justru tetap melakoni sebagai seorang pedagang, dan berbagi waktu untuk tetap mengajar.

Ini dijalani sebagai sebuah kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Sekaligus ketidakmauan untuk melihat tetangganya tetap buta huruf. Baik itu untuk setakat membaca, begitu pula ilmu pengetahuan.

Ini diantara mozaik pendidikan Tanah Papua.

Pada saat yang sama, keterbatasan pemerintah dan negara untuk menyediakan akses Pendidikan justru ditangani oleh swasta.

Ada yayasan yang disebut Tri Sula Pendidikan Papua, Yapis (Yayasan Pendidikan Islam), YPK (Yayasan Pendidikan Kristen), dan YPPK (Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik).

Walau dengan spirit keagamaan, mereka mengelola pendidikan. Namun tidak membatasi akses lembaganya untuk penganut agamanya mereka sendiri.

Setiap warga boleh saja untuk belajar dimanapun. Bukan berarti hanya seorang muslim yang boleh belajar di Yapis. Termasuk pula dengan gurunya. Juga lintas iman. Apalagi kalau budaya, dan etnisitas. Itu tidak pernah direkeng sebagai sebuah entitas dan identitas.

Selama ada kemauan, maka soal kemampuan itu bisa menjadi urusan selanjutnya. Hanya soal waktu untuk dilatihkan dan diberi pelajaran.

Pendidikan Papua memang masih tertinggal. Indeks Pembangunan Manusia menjadi terendah di seluruh provinsi secara nasional. Namun, itu tidak menghentikan mereka untuk tetap belajar.

Bahkan belajar justru menjadi tuntutan dan keperluan tersendiri.

Termasuk meninggalkan kampung halaman, sejak sekolah dasar sekalipun. Semata-mata untuk meraih pendidikan yang tidak memungkinkan untuk didapatkan di kampung halaman sendiri.

Ada harap disertai doa. Dengan pendidikan, pada masa yang akan datang akan memeroleh kehidupan yang memungkinkan lebih baik berbanding sekarang.

Pendidikan Papua belum juga bisa bersanding dengan pendidikan di provinsi lain.

Sementara itu, mereka tertatih untuk mensejajarkan diri. Pada saat yang sama, anugerah yang lain juga tetap wujud. Ada saja orang yang berkenan menghabiskan umurnya untuk mereka.

Dengan itu, kelangsungan pendidikan tidak pernah terhenti. Selalu ada keberlanjutan, walau dengan langkah sepelan apapun itu.