68743_67113.jpg
Dokumen Pribadi
Cerpen · 6 menit baca

Masih Adakah Masalembo?

“Jangan-jangan, sekarang kita lagi di segitiga Masalembo?” Ucap seorang wanita dengan nada yang penuh praduga diantara keempat wanita lainnya.

“Masalembo?”

“Iya, Masalembo. Segitiga bermuda Indonesia namanya Masalembo. Dulu aku pernah nonton filmya,” Aku wanita itu sembari mengamati sekitar.

***

Wanita yang masih saja terlihat sibuk dengan keyboard dan monitor laptopnya itu bernama Anggika. Ia adalah seorang Arsitek yang melibatkan diri sebagai relawan atas bencana Palu dan Donggala. Dan keempat wanita yang tengah tertidur pulas itu adalah Novela, seorang Guru Matematika. Hiyasa, seorang Make Up Artis. Kaherma, seorang Detektif. Dan Elssa, seorang Ustadzah kondang yang beberapa kali pernah muncul di layar kaca.

Dalam perjalanan mereka menuju Palu, pesawat mereka mengalami kecelakaan, dan ketika kelimanya tersadar, tak ada kepingan sisa kecelakaan atau apa pun di tempat itu kecuali satu mayat wanita dan mereka berlima menyadari bahwa ada sesosok mayat setelah Kaherma, sang Detektif menabraknya hingga Kaherma terjatuh.

“Mmmuuuaaacchhh. Mmuuaaacchhh.” Itu Kaherma. Semenjak mereka berlima terdampar, wanita itu selalu saja mengingau saat tidur. Ya, Anggika yang selalu menyadarinya karena ia memang sering tidur sedikit lebih larut dibanding yang lain.

Dan bagaimana bisa laptop wanita itu selamat dari kecelakaan pesawat? Yap, itu adalah keanehan berikutnya. Begitu juga dengan tas kosmetik milik Hiyasa, peralatan mengajar milik Novela, teropong milik Kaherma, dan Al Quran milik Elssa. Hanya saja, sampai detik ini, mereka berlima sudah terlalu lelah untuk membahas kemungkinan-kemungkinan tersebut.

***

Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, Anggika memilih untuk tidur lebih awal. Namun tiba-tiba,

“Anggika, Bangun!” Itu suara Hiyasa.

“Ada apa?”

“Kaherma, dia kesurupan.”

“Oh? Bentar. Aduh, bentar, kamu jangan panik ,” Ucap Anggika yang berusaha menenangkan sedang detak jantungnya terdengar paling kencang malam itu.

“Anggika yang fokus ya! Anggika yang fokus!” Ucap Elssa, Novela dan Hiyasa nyaris serentak saat Anggika mulai mendekati Kaherma yang tengah terbaring dengan mata membelalak.

“Astaghfirullah hal adzim,” Lirih Anggika berkali-kali.

“Semuanya baca ayat apa aja terserah, yang kuat, yang fokus,” Pesan Elssa sedang dirinya sudah berbanjirkan keringat.

“Astaghfirullah Kaherma.” Suara Novela mulai terdengar serak.

“Novela kamu jangan nangis, kamu harus kuat!” Pesan Elssa kemudian.

Elssa terlihat lebih cekatan malam itu, meski pun ia juga baru menemui kasus demikian secara langsung.

“Persediaan bawang putih kita masih ada?”

“Ada di dapur,” Sahut Anggika pelan.

“Anggika kamu tolong ambilkan bawang Putih di dapur ya,”

Bolehkah jika malam ini seorang Anggika bersikap naif dengan meminta salah satu diantara mereka untuk pergi menemaninya ke dapur darurat karena ia sendiri merasa sangat takut? Tidak, malam ini tidak ada yang punya waktu untuk hal-hal se receh rasa takut.

“AAWWWW BAAUUUU!!!” Itu teriakan Kaherma. Anggika sudah tidak lagi sanggup melanjutkan pencariannya.

“Nggak ada.”

“Udah kok udah,” Sahut Hiyasa.

Novela mulai mengusapkan air bawang putih kewajah Kaherma.

“BBAUUU!! BODOH!!! BAU!!!”

“AAWWWW PATAH!! JARI AKU PATAAHHHH!!! BODOH BODOH!!!”

“UUKKHHHRRUUJJJ!!!!”

***

“Guys, ada yang lihat Novela?” Tanya Elssa saat pagi harinya.

“Guys, Kaherma hilang!!” Hiyasa panik.

“Ok, jangan panik dulu, Kita mencar. Ingat, selama dua puluh menit pencarian, kalau mereka masih belum ketemu, kita harus balik. Setelah itu kita diskusikan lagi pencarian mereka selanjutnya,” Pesan Anggita pada mereka berdua.

“Hm.”

“Mau kemana guys?” Tanya Kaherma yang tiba-tiba datang sembari menarik lengan Hiyasa.

“Kaherma kamu kemana aja?”

“Kalian kenapa?”

“Novela hilang!”

“Hhaaaa?”

“Ya udah, Kaherma ikut Hiyasa aja, jangan sendirian,” Tutup Anggika dan kemudian segera pergi mencari Novela.

***

Pencarian yang mengecewakan. Mereka sama sekali tidak berhasil menemukan Novela. “Mmuuuaacchh. Mmuuaaacchhh.”

“Guys, Kaherma ngigau lagi,” Bisik Hiyasa pelan. Ya, Kaherma memang sudah terlelap lebih dulu disaat ketiga teman-temannya masih dipenuhi rasa penasaran.

“Aku rasa, hilangnya Novela ada hubungannya sama Kaherma deh. Maksud aku, hantu yang masuk ketubuh Kaherma,” Aku Anggika pelan.

“Kamu bisa kepikiran kaya gitu karena kamu masih ketakutan kan sama dia?”

“Mungkin.”

***

“Anggika, Kaherma sama Hiyasa nggak ada!” Elssa terlihat panik.

“Astaghfirullah hal adzim, apa lagi sih ni.”

“Ada apa guys?” Lagi-lagi Kaherma datang dengan tiba-tiba.

“Kaherma?”

“Hiyasa hilang!”

“Lagi?”

***

Hari berikutnya..

“Anggika, Kaherma hilang.”

“Udah ah, paling ntar dia balik sendiri.”

“Anggika aku tau kamu masih takut berinteraksi sama dia, tapi aku nggak mau kamu cuek apa lagi sampai jaga jarak sama dia.”

“Ya aku harus gimana El? Natap dia, ngelihat wajah dia aja aku masih nggak berani!”

“Aku tau, tapi gimana pun juga dia teman kita, bahkan kita udah kaya keluarga tau nggak selama disini.”

“Aku tau.”

Enam jam berlalu..

Ada yang berbeda hari itu. Sudah enam jam berlalu sejak mereka berdua menyadari hilangnya Kaherma, wanita itu masih saja belum kembali.

“Kaherma kenapa masih belum pulang ya Nggi? Nggak biasanya, aku khawatir kalau dia ikut-ikutan hilang kaya,”

“Kamu berlebihan udah lah!”

“Berlebihan? Nggi?” Sesaat Elssa terdiam.

“Jangan-jangan, kamu dalang dibalik semua ini?”

“What? Gunanya buat aku apa?”

“Ya mana aku tau!”

“Mau kamu apa sih?!”

“Jujur aja!”

***

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.” Itu adalah teriakan Elssa ketika tak mendapati sosok Anggika bersamanya.

“Kenapa El?”

“Hhh!!” Elssa terkejut.

“Kemana aja kamu kemarin?” Elssa pun mulai memikirkan perkataan Anggika semalam.

“Kamu kenapa teriak-teriak?”

“KAMU DARI MANA?”

“El, tolong bukakan aku surat Al Baqarah, perasaan aku mulai nggak enak lagi,” Pinta Kaherma. Meski dengan sedikit gugup, tetap dituruti oleh Elssa.

***

Sama halnya seperti kelima wanita yang terdampar di daerah itu, mereka semua adalah manusia. Hanya saja bertahun-tahun lamanya hidup terdampar di Pantai dan Hutan menjadikan tradisi dan gaya hidup mereka berubah.

Novela yang menyadarinya terlebih dahulu karena ramuan tidur yang diberikan oleh mereka tidak mempan untuk seorang Novela yang kesehariannya memang lebih mudah tertidur.

Namun ada sesuatu hal yang buruk dan harus segera diatasi, tradisi. Tradisi saling memakan satu sama lain. Dan mereka berlima akan terlibat dalam tradisi itu jika tidak segera dihentikan.

***

“Kamu curiga sama aku?”

“Awalnya,” Aku Elssa setelah menceritakan semuanya pada Kaherma.

“Astaghfirullah hal adzim. Sekarang aku ceritain semuanya sama kamu.” Kaherma pun menjelaskan semuanya pada Elssa.

“Tapi kenapa meraka nggak nangkap kamu atau pun aku?”

“Mereka nggak mau nangkap aku, karena kata mereka, siapa yang pernah dirasuki saat sampai disini adalah ‘Manusia terpilih’ dan kamu, mungkin kamu tinggal nunggu giliran.”

“Berarti setelah ini giliran aku?”

“Hm.”

“Gimana caranya biar semua ini bisa berakhir?”

“Mereka menginginkan kita semua menjadi bagian dari mereka. Tapi sebenarnya yang sangat-sangat mereka inginkan diantara kita berlima hanya ada satu orang, dan jika satu orang itu dikorbankan, maka mereka berjanji tidak akan mengganggu sisanya lagi.”

“Si..si..siapa?” Elssa gugup.

“Wanita dengan wajah paling pucat dan rambut terurai paling panjang diantara kita berlima, juga menyembunyikan banyak hal dibalik kacamatanya.”

“Astaghfirullah hal adzim, itu kan Anggika?”

“Sssttsss.”

“Kita nggak mungkin,”

“Kamu benar, kita harus keluar dari tempat ini, berlima.”

“Caranya?”

“Karena kita tau mereka sangat menginginkan Anggika, maka Anggika yang harus pertama kali kita selamatkan.”

“Hm.”

***

“Bismillahirrahmanirrahim.” Elssa telah sampai terlebih dahulu ditempat dimana Anggika, Hiyasa dan Novela diamankan. Saat hendak menggendong Anggika, Novela yang sejak tadi berpura-pura tidur pun angkat bicara.

“El, itu kamu?” Tanyanya pelan.

“Novela, kamu?”

“Ceritanya panjang.  El, ada perahu yang terdampar di gerbang menuju tempat ini, perahu itu sudah terdampar ratusan tahun, dan hanya bisa kembali ke laut apabila ditarik oleh, entahlah tapi mereka menyebutnya ‘Manusia terpilih’ ya itu.”

“Hm, kamu tunggu disini!”

“Ok.”

***

Mereka memang benar-benar bergerak cepat. Kini Kaherma dan Anggika sudah siap dengan perahu yang ditarik sendiri oleh Kaherma.

“Itu Elssa sama Hiyasa!!”

“Tapi dimana Novela?”

“Guys, Novela masih diperjalanan,” Sahut Elssa.

“Kamu udah bilang kalau perahu kita udah ready di pantai?”

“Udah-udah, kita tunggu aja.”

Setengah jam berlalu..

“Aku nggak bisa nunggu lagi,” Ucap Kaherma yang ingin segera kembali ke Hutan.

“Kaherma?”

“Kalian semua tunggu disini, jangan khawatir, dan jangan kemana-mana!”

“Itu Novela!!” Teriak Hiyasa histeris.

“Novela!! Novelaa!!”

“Oh God, lihat apa yang dia bawa! Haha.” Kaherma sempat tertawa saat mendapati Novela yang tengah berlari sembari membawa tas laptop milik Anggika, tas kosmetik Hiyasa, Al Quran Elssa dan teropong Kaherma yang ia kalungkan dilehernya.

“Ayok berangkat tunggu apa lagi?”

“NOVELAAAAAAAA!!!!” Teriak keempat wanita lainnya sembari memeluk Novela.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Kenapa sih?”

“Nggak apa-apa. Sekarang kita caaabuuuuttttttt!!!”

“Yyeeaaayyyyyyyyyyyyy!!!!!”

***