54575_37393.jpg
http://www.theblowoff.com/2011/02/can-blown-off-speak.html#.WoEr0flubIU
Politik · 3 menit baca

Masalah Representasi, Tanggapan untuk Tulisan Vincent Ricardo

Sebelum saya memulai tulisan saya, ijinkan saya menyampaikan bahwa saya kagum terhadap Vincent Ricardo, bahwa ia memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. Saya juga yakin bahwa Vincent Ricardo merupakan orang yang gemar belajar dan membaca, hal itu bisa saya tangkap dari tulisannya, banyak kutipan dari ilmuwan terkenal.

Langsung saja masuk ke intinya. Dalam tulisan ini, saya akan menanggapi masalah representasi yang Vincent ungkapkan kemarin. Kurang lebih saya akan menanggapi pernyataan Vincent bahwa BEM bukanlah perwakilan rakyat.

Berkaitan dengan pernyataan Vincent di atas, dapatkah aktivis BEM disebut sebagai perwakilan rakyat? Menurut saya ada dua macam perwakilan, pertama, perwakilan dengan kesepakatan yang jelas bahwa si A mewakili B, contohnya: duta besar mewakili Indonesia di Belanda. Akan tetapi, ada juga perwakilan jenis lain, yakni perwakilan tanpa kesepatan bahwa A mewakili B, tapi pada kenyataannya mereka mewakili suara B. Menurut saya aktivis BEM kemarin adalah model perwakilan yang kedua, mereka tidak memiliki kesepakatan dengan rakyat, akan tetapi mereka mewakili kepentingan rakyat.

Selanjutnya, seberapa pentingkah aktivis BEM mewakili kepentingan rakyat? Harus dipahami bahwa, pada dasarnya tidak semua orang dapat menyuarakan kepentingannya, tergantung pada sumber daya yang dimiliki, apalagi dalam konteks pascakolonial. Dalam konteks pascakolonial terdapat sekelompok orang yang disebut sebagai subaltern, Gayatri C Spivak merupakan salah satu ilmuwan yang menjelaskannya. 

Subaltern adalah kelompok masyarakat yang berada di kasta paling rendah, mereka tertindas, bahkan saking tertindasnya mereka tidak dapat bersuara. Tidak bersuara bukan berarti mereka tuna-wicara, akan tetapi mereka tidak mengerti bagaimana cara menyampaikan aspirasinya. Dari sini dapat dipahami bahwa, bisa jadi yang dilakukan oleh aktivis BEM kemarin adalah upaya menggambarkan dan menyuarakan subaltern.

Selanjutnya, Vincent juga menanggapi pernyataan Zaadit bahwa jalan tol hanya dinikmati oleh orang mampu. Bisa jadi omongan Zaadit ada benarnya, bahwa hal itu tidak bisa ditangkap oleh Vincent karena ia berada di sekitar orang-orang yang selalu butuh jalan tol, sehingga Vincent mengalami kesulitan menggambarkan orang yang tidak butuh jalan tol. Untuk lebih mudahnya menggambarkan masalah di atas, mari kita gali lebih jauh tentang kondisi masyarakat Indonesia.

Setidaknya struktur masyarakat Indonesia dapat dibagi menjadi tiga, yakni kelas atas, menengah, dan miskin. Bagi kalangan menengah ke atas, mereka tentu sangat membutuhkan tol. Apalagi untuk pengusaha, hal itu sangat penting adanya sebagai sarana distribusi. Sebagai gambaran saja, menurut BPS jumlah wirausahawan di Indonesia adalah 3,1% dari 225 juta penduduk, sekitar 6,9-7 juta saja.

Selanjutnya, soal kelompok menengah ke bawah di Indonesia. Mereka adalah orang yang mengalami kesulitan untuk mengakses kebutuhan primer, seperti kesehatan, pendidikan dan juga pangan. Kita tidak bisa menutup mata, bahwa masih ada 2,7 juta penduduk Indonesia buta huruf. Unicef menyebutkan, terdapat 600 ribu masyarakat Indonesia yang hanya lulusan SD dan 1,9 juta hanya lulusan SMP. Kita juga tidak bisa menutup mata, bahwa Index Kelaparan Indonesia adalah sebesar 21,9 dan masuk kategori serius. Barangkali mereka inilah orang-orang yang disebut oleh para aktivis BEM kemarin.

Lebih jauh lagi, menurut data BPS masyarakat miskin di Indonesia mencapai 26,58 juta jiwa per september 2017. Dengan garis kemiskinan Rp 400.000 untuk wilayah kota, dan Rp 370.000 untuk pedesaan. Jika garis kemiskinan itu dinaikkan menjadi Rp 1.000.000, bisa dipastikan jumlah penduduk miskin di Indonesia semakin banyak. Jujur saja, saya tidak bisa membayangkan bagaimana cara hidup dengan 400 ribu selama satu bulan. 

Ini mencerminkan bahwa saya adalah kelas menengah, sehingga sulit untuk membayangkan pola hidup masyarakat bawah. Sebagaimana mas Vincent juga tidak dapat membayangkan bahwa di sana terdapat masyarakat yang tidak butuh tol, tapi lebih membutuhkan fasilitas kebutuhan primer seperti kesehatan, pendidikan dan pangan.

Saya tegaskan di sini, bahwa saya tidak mendukung mutlak aktivis BEM, mereka jelas memiliki flaw, sebagaimana tulisan Vincent juga memiliki flaw. Nampaknya memang tidak ada yang tanpa flaw, semua memiliki flaw dengan bentuk yang berbeda-beda. Pergerakan mahasiswa selalu memiliki flaw, ada sisi narsistik di dalamnya, sebuah hasrat ingin tampil sebagai pahlawan.

Dari situ saya melihat adanya kemiripan antara Vincent dengan aktivis BEM, yakni sama-sama tampil sebagai pahlawan. Jika ketua BEM berusaha tampil sebagai pahlawan bagi rakyat, Vincent berusaha tampil sebagai pahlawan bagi kepentingan modal. Keduanya sama-sama baik, dan tidak ada yang lebih buruk. Kalian berdua telah berperan besar dalam membentuk dikursus dalam ruang publik. Akhir kata, saya ucapkan selamat bagi Vincent, anda adalah pembelajar sekaligus pahlawan. Termasuk pula para aktivis BEM. Selamat.