Sastra merupakan sebuah ungkapan ekspresi manusia dalam bentuk karya tulisan dan karya lisan berdasarkan pendapat, pemikiran, pengalaman, hingga perasaan dalam bentuk yang kreatif dan imajinatif, serta cerminan kenyataan yang dikemas secara estetik melalui media Bahasa.

Menurut Sapardi Djoko Damono, pengertian sastra adalah sebuah Lembaga social yang menyampaikan melalui media bahasa. Selain itu, sastra merupakan penggambaran dari kehidupan masyarakat.

Sastra diibaratkan cermin, karena sebuah karya sastra berisikan cerminan kehidupan masyarakat yang terjadi pada masa itu. Dari sebuah karakteristik karya sastra kita bisa menelusuri sejarah, bagaimana kehidupan pada masa Indonesia sebelum merdeka. 

Penulisan karya sastra menggunakan latar belakang sastrawan, lingkungan dan masyarakat mempengaruhi bentuk pemikiran dan ekspresi sastrawan.

Pada masa sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, Indonesia sudah memiliki perkembangan kesastraan. Namun, pada masa itu sastra mengalami pergolakan. Pergolakan sastra dikarenakan keterkaitan sastra dengan dunia politik. 

Sehingga, menyebabkan karya sastra itu tidak murni untuk dinikmati sebagaimana mestinya melaikan sebagai sebuah alat debat politik yang memihak untuk kubu kanan atau kubu kiri. Pada tahun 1965 terjadi pergolakan pada ideologi di Negara Indonesia dengan berbagai komunitas, seperti:

1. PKI dengan Lekra

PKI atau Partai Komunis Indonesia adalah sebuah partai komunis yang memiliki ideologi komunisme yang bertujuan untuk mengangkat atau menyuarakan manusia, menentang imperealisme dan kapitalisme pemerintah Belanda dengan membangun serikat pekerjaan dan untuk mempromosikan pentingnya kesadaran politik di antara para petani.

Sedangkan Lekra adalah Lembaga Kebudayaan Rakjat yang merupakan organisasi kebudayaan sayap kiri Indonesia, tujuan dari Lekra ini adalah mendorong seniman dan menulis untuk mengikuti doktrin realisme sosialis. Lekra juga membuka apresiari suara terhadap kebudayaan. Karya seniman Lekra dimuat dalam surat kabar Harian Rakjat milik PKI.

2. PNI dengan LKN

PNI atau Partai Nasional Indonesia yang didirikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1927. Ideologi PNI adalah nasionalisme kiri, PNI memiliki tujuan yaitu memerdekakan Indonesia dengan asas self help, non kooperatif, dan marhaenisme.

Sedangkan LKN adalah Lembaga Kebudayaan Nasional yang didirikan oleh seorang penyair yang Bernama Sitor Situmorang. Sitor Situmorang memiliki ketertarikan dengan dunia sastra dan merambah ke dunia kewartawanan. 

Saat itu ia mempublikasikan serangkaian tulisan dari bidang sastra hingga ke bidang politik, sehingga ia membentuk LKN yang dimaksudkan untuk mengimbangi kegiatan-kegiatan para seniman yang berpaham lain. Sehingga menunjukkan perbedaan filsafah dan warna yang berbeda dengan Lekra.

3. Partai Masyumi dengan Lesbumi

Parta Masyumi atau Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia adalah sebuah organisasi yang berubah menjadi partai politik Islam terbesar di Indonesia. Masyumi berideologi Pan Islamisme.

Sedangkan Lesbumi atau Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia adalah organisasi kebudayaan Nahdatul Ulama. Lesbumi menghimpun berbagai tokoh seperti pelukis, sastrawan, bintang film, dan pemain pentas. 

Lembaga ini beranggotakan ulama yang memiliki latar belakang seni yang cukup baik. Lesbumi memiliki ideologi Ahlussunnah wal jama’ah sehingga menimbulkan banyak konflik dengan Lekra yang berideologi Komunis, banyak pertentangan yang terjadi sehingga membuat penyingkiran terhadap buku atau karya sastra dari Lesbumi yang tidak diperbolehkan digunakan dalam pembelajaran di sekolah-sekolah maupun masyarakat.

Konflik-konflik yang terjadi pada masa orde baru ini adalah perbedaan ideologi antar politik, banyaknya korupsi politik, serta penyumbatan berbicara dan pers. Banyak yang terjadi pada era orde baru, yang membuat banyak perubahan karakteristik sastra berbeda dengan era sebelumnya.

Dari banyaknya konflik yang terjadi pada masa orde baru, banyak juga karya sastra yang lahir pada masa orde baru dengan berbagai pandangan untuk memperlihatkan bagaimana kondisi politik dan pada masa inilah muncul karya sastra berjenis prosa, film, puisi, kritik sosial, dan lain-lain. Pada masa orde baru ini muncul karakteristik baru yakni berlatar keagamaan.

Beberapa Sastrawan dan karya sastranya yang terbit pada masa orde baru ialah:

1. Marga T. karyanya Rumahku Istanaku, dll.

2. Nh. Dini karyanya Novel Pada Sebuah Kapal, dll.

3. Mira Widjaja karyanya Novel Pada Jendela SMP, Novel Saat Hati Telah Memilih, dll.

4. Ahmadun Yosi Herfanda karyanya Puisi Sajak Penari, Sang Matahari, dll.

5. Hilman Hariwijaya karyanya Keluarga Hantu, Vanya, dll.

Dikarenakan terjadi banyak pertikaian muncullah organisasi yang menggabungkan diantara ke semua organisasi yang dibuat oleh Presiden Soekarno dengan nama Nasakom. 

Nasakom kepanjangan dari Nasionalisme, Agama, dan Komunisme, yang mencirikan demokrasi terpimpin. Tujuan didirikannya Nasakom untuk mempersatukan ketiga politik terkuat demi perwujudan Pancasila dan UUD 1945 dalam politik.

Kesimpulannya adalah sastra memiliki pengaruh yang kuat dalam berbagai aspek, termasuk politik. Sehingga, tak bisa kita pungkiri bahwa kita juga bisa menelusuri sejarah politik melalui sastra. 

Maka dari itu pada masa orde baru yang merupakan puncaknya konflik perpolitikan Indonesia dan para sastrawan memiliki peran yang besar dalam dunia perpolitikan.