Masa kecil selalu menyimpan sejuta kenangan. Lebih banyaknya tentang hal-hal yang penuh bahagia. Dan kertas menjadi satu-satunya pengingat akan masa-masa silam yang indah itu.

Mungkin sebagian dari kita, terutama yang terlahir di tahun 90-an, kini terpaksa harus terjebak dengan kenangan masa kecil. Apalagi kenangan sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), jelas melupakannya hampir mustahil.

Sebab di masa-masa inilah hidup itu hadir, nyaris tiada atau tanpa beban sama sekali. Yang kita pikirkan hanya bermain dan bermain saja.

Untuk menciptakan permainan di masa kecil itu, kita tidak terpatok pada bantuan perangkat teknologi canggih seperti sekarang. Kita mampu menciptakan kreativitas sendiri, melahirkan nuansa kebahagiaan, melalui permainan berbahan baku sederhana, yakni kertas.

Benar belaka, hampir dari kita semua mungkin pernah menggunakan kertas untuk menghadirkan permainan yang tentunya mengundang gelak tawa dan bahagia. Tidak peduli apakah ia baru atau tidak/bekas, kertas-kertas itu—meski sebenarnya berisi dan untuk mata pelajaran kita di bangku SD—kita ramu sedemikian apik hingga jadi penyalur imajinasi tanpa batas.

Macam-macam kreativitas berbentuk permainan masa kecil itu beragam. Mulai dari pesawat terbang, perahu-perahuan, robot-robot mini, kipas-kipasan, layang-layang, burung-burung, bunga, boneka bongkar pasang, hingga senjata yang sedikit membuat korbannya jadi kesakitan bernama pletokan.

Menjadi tidak ada salahnya jika kita, khususnya saya, harus berterima kasih kepada kertas. Bersama pesawat terbang dari kertas, kiranya cukuplah membangun imajinasi saya tentang seperti apa pesawat terbang yang sesungguhnya, yang bagi saya waktu itu hampir mustahil bisa kesampaian untuk menaikinya.

Atau perahu kertas yang membuat saya kerap berangkul tangan bersama teman, sebab tidak asyik jika lomba berlayar sendirian di air dalam baskom. Cukup dengan tiupan seadanya, atau ada pula yang menggunakan mesin bekas yang kami sebut “dinamo”, maka kami seolah sedang mengemudikannya sendiri; jadi Kapten!

Pada permainan lainnya, seperti robot-robotan, ini membuat siapa saja yang memainkannya bisa tiba-tiba teriak. Saya sendiri demikian oleh karena pengaruh film Power Rangers yang saya tonton tiap akhir pekan di rumah tetangga. 

Ada juga kipas warna-warni (mainan kincir angin) bertangkai lidi, dibawa berlari melawan arah datangnya angin; hingga burung-burung memenuhi dinding kelas membentuk pelangi, berdampingan dengan bunga-bunga kreativitas yang guru kami memberikan akses bebas untuk mewarnainya sesuka hati.

Permainan boneka bongkar pasang. Meski umumnya dimainkan kaum perempuan, biasanya di tempat-tempat tersembunyi, membuat saya seolah-olah belajar membangun rumah tangga dan andal fashion. Benar-benar mengasyikkan.

Adalah juga sangat menguntungkan karena di desa kami, tepatnya di dalam hutan, banyak tubuh bambu-bambu kecil. Kami diajarkan para tetua menjadikannya sebagai senjata perang-perangan. Itu dirangkai sedemikian rupa hingga membentuk sebuah pistol. Tentu saja berumpankan kertas basah. Sebutannya “pletokan”. Instruksi khasnya, “tembak!”

Masa-masa kecil bersama kertas memang selalu bisa membuat jebakan. Jebakan kebahagiaan yang mustahil terlupakan. Makin mengingatnya, makin membuat saya rindu pada kampung halaman. 

Ah, jauh dari kata tahu tentang teknologi, kertas ternyata mampu memalingkan perhatian pada kreativitas yang kata Einstein: creativity is contagious, pass it on.

Mungkin karena itulah mengapa kita, dalam hal ini yang terlahir di tahun 90-an, sangat sulit berdiam diri dalam rumah. Apalagi sampai terjebak di antara buku-buku bergaris catatan sekolah. 

Bawaannya, antara membuat burung-burung, perahu atau pesawat-pesawatan, dan beramai-ramai menebar krativitas itu pada rekan-rekan lainnya. Yang pasti, tidak berdiam diri di dalam kamar bersama telepon pintar semacam anak sekolah zaman sekarang.

Mengingat kembali keindahan masa kecil itu, saya serasa berada di masa silam. Semua karena kertas, yang telah memberi banyak pengaruh dalam kehidupan masa kecil saya, termasuk sebagai upaya menjaga kebahagiaan yang masih bersisa. Saya benar-benar telah terjebak pada kebahagiaan bersama kertas ini.

Apa pun itu, kertas senantiasa bisa meruwat kebahagiaan masa kecil melalui fungsinya. Dan yang pasti, juga bisa menjadi teman setia menuangkan ide dan gagasan cemerlang atau sekadar curhat belaka.

Untuk yang terakhir itu, kertas sebagai curhat belaka, sering kita dapati penggunaannya, terutama bagi yang sedang jatuh hati. Tak jarang, bukan, jika di kolong meja terdapat kalimat romantis tertulis di secarik kertas? Ya, sebagai bukti perasaan. Bayangkan jika tidak ada kertas, bagaimana mungkin seorang pemalu harus berhadapan dengan perempuan pujaannya?

Betapa andalnya kertas menjebak kebahagiaan manusia bersama fungsinya. Rasanya mustahil memiliki kenangan yang indah dan begitu murni tanpa bantuan kertas. Dan sudah seharusnya kertas terus ada selama manusia masih ada. Sebab kertas telah memberi peluang kebahagiaan bagi hampir pada setiap orang.