Penulis
9 bulan lalu · 165 view · 3 menit baca · Pendidikan 79091_99388.jpg
Pixabay

Masa Depan yang Tuhan Inginkan

Sepuluh tahun silam, ada seorang anak laki-laki yang tak pernah akur dengan apa yang disebut ‘sekolah’. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar, justru seolah menjelma menjadi ruang gelap. Ke mana pun ia melangkah, akan selalu terbentur sudut yang tak terlihat.

Ali namanya. Ia adalah anak dari pasangan petani desa terpencil yang berada di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Tiada hari tanpa membuat masalah, Ali tak pernah lepas dari itu. Semenjak duduk di bangku sekolah dasar hingga kelas sebelas SMK, Ali tetap menyandang predikat ‘Si Anak Bermasalah’. Tangan yang tak bisa berhenti bergerak dan mulut yang tak mampu berhenti berucap adalah masalah utamanya.

Sungguh, itu bukan persoalan sepele. Bukan sekadar cerewet, tetapi celotehan Ali mampu mencabik-cabik seseorang bagai pedang yang sangat tajam. Tidak cukup membuat keramaian di kelas dengan kedua tangannya yang memukul-mukul bangku, tetapi kepalan tangan Ali bisa membuat kawan sekelasnya terkapar di tanah dengan sekali pukulan.

Itulah Ali. Dengan segudang masalah, namun nol pretasi, sangat layak baginya dipanggil ‘Bodoh Kuadrat’. Ada banyak julukan atau panggilan yang tersemat padanya. Bahkan tak sedikit guru yang berkeyakinan masa depan si Ali sudah pasti suram. Seolah tidak ada pintu pertaubatan yang terbuka untuk seorang Ali.

Aku masih ingat, pada tahun 2010, Ali masih duduk di kelas 10 semester genap. Kala itu, terbesit dalam diri Ali untuk berubah menjadi lebih baik dengan mencoba daftar menjadi anggota organisasi siswa di sekolahnya. 


Segala persyaratan sudah dilengkapi Ali agar pendaftarannya diterima. Namun, tiba di titik akhir, impian Ali menjadi orang baik kandas. Pendaftarannya ditolak. Yang membuat terenyah, yang memupuskan jalan Ali adalah gurunya sendiri.

Nampaknya memang benar, sepak terjang keburukan Ali seakan mengakar kuat dan tak mudah hilang. Seorang guru yang harusnya memberikan dukungan penuh bagi siswanya yang ingin berubah, justru menjadi penghalang utama akan jalan itu. Mata sang guru sudah gelap. Ia memberikan rekomendasi kepada senior organisasi siswa agar langsung menolak Ali. Alasannya sudah bisa ditebak, yaitu Ali merupakan biang kerok segala permasalahan.

Semenjak penolakan itu, Ali semakin merasa dikucilkan. Ia menganggap itu bukan sekadar penolakan, melainkan penghinaan kejam yang dipersembahkan sang guru kepadanya. Bagaimana mungkin seorang guru tega memperlihatkan taring tajamnya kepada siswanya sendiri?

Tanpa ada keluh kesah, dengan sedikit rasa malu, Ali mencoba mengakrabi anggota organisasi siswa itu, meski dia bukan anggota. Waktu terus bergulir, keakraban mulai terjalin. Ali tak lagi canggung untuk ikut setiap kegiatan yang diadakan oleh organisasi siswa di sekolahnya. 

Beruntung bagi Ali, para anggota organisasi siswa itu tidak lagi mengungkit kelakuan buruk Ali dan arogansi seorang guru kepadanya. Benar, para anggota itu memberikan kesempatan kepada Ali untuk berubah dengan menjadi partisipan organisasi siswa.

Tahun-tahun berlalu. Julukan-julukan Ali yang penuh lara itu tak lagi terucap. Lara itu bermetamorfosis menjadi senyuman kala Ali mengingat seperti apa dirinya di masa lalu. Kini, celotehannya bukan lagi pedang, melainkan siraman hati yang mampu menggetarkan seluruh jamaah pengajian. Kini, tangannya tak lagi mengepal untuk menyakiti, melainkan untuk mencipta karya yang menginspirasi.

Awal tahun 2018 lalu, ketika Ali masih menjadi pendidik di salah satu sekolah swasta di Malang, ia mendapati siswa yang bisa dikatakan bermasalah. Panggil saja siswa itu, Azam.


Tidak jauh beda dengan Ali, siswa itu bermulut tajam dan bertangan kasar. Sebagaimana Ali dulu, banyak guru yang bukannya membersikan noda-noda kotor yang menempel di tubuh Azam, tetapi justru menimpalinya dengan noda-noda lain.

Pernah sekali, momen rapat sekolah dikejutkan dengan layangan pujian untuk Azam. Mengapa bisa demikian? Ceritanya satu minggu sebelum rapat. Waktu itu, sekolah sedang mengadakan kegiatan ekologi, hal mana salah satu kegiatan itu berupa membuat media tanam dari botol-botol bekas. 

Di saat siswa-siswa yang dianggap pintar tak banyak aksi, Azam tampil terdepan menginisiasi para siswa lainnya untuk bergerak. Tangan kasarnya dengan penuh kelihaian menyayat dan membentuk botol-botol bekas itu menjadi media tanam siap guna.

Berangkat dari kisah di atas, pendek kesimpulan, Ali dan Azam sama-sama korban nyata dari kejamnya sistem pendidikan di negeri ini. Ketika nilai rapor menjadi tolok ukur kecerdasan dan kesuksesan seseorang, maka orang-orang seperti Ali dan Azam seolah buih yang tiada berarti. Dan selama sistem pendidikan yang keliru ini tetap dipertahankan, orang-orang macam Ali dan Azam akan terus menjadi bahan tertawaan.

Tidak bisakah kita mengakui kecerdasan otak kanan Azam, yang terampil menggerakkan siswa-siswa lainnya? Tidak cukupkah bagi kita untuk mengakui bahwa likulli syai’in maziyah? Segala sesuatu itu memiliki kelebihannya masih-masing.

Teruntuk para guru, hati kecil ini berpesan; berikanlah kesempatan kepada anak didik kita untuk berubah. Tidak perlu patah semangat, pun tak patut mematahkan semangat. Tugas kita bukan menghakimi, tetapi membimbing anak didik kita menuju jalan terang──masa depan yang Tuhan inginkan untuknya.


Artikel Terkait