Suatu hari pada tahun ’90-an, ada anak kecil berumur 5 tahun yang sedang menonton program memasak di televisi dengan ibunya. Pada waktu itu, seorang koki sedang memberi arahan kepada penonton mengenai cara memasak berbagai macam jenis masakan telur, seperti telur dadar, telur ceplok, telur rebus, dan masih banyak lagi.

Namun, dari sekian banyak jenis masakan telur yang dihadirkan, si anak kecil tersebut sangat tertarik dengan yang namanya telur dadar—mungkin karena itu terlihat manis di mata anak kecil. Tidak lama kemudian, dia meminta ibunya untuk memasak telur dadar seperti yang sudah dihadirkan oleh koki yang ada di televisi tersebut.

Sebagaimana lumrahnya perilaku anak kecil, dia sangat tertarik untuk melihat ibunya memasak dan memutuskan untuk mengambil kursi sehingga dia bisa melihat dengan jelas. Tiba-tiba, ibunya berkata, “Telur ini sebenarnya adalah hidupmu.” 

Anak itu pun terdiam dan berpikir tentang apa yang dikatakan oleh ibunya. Yang terbayang di kepalanya hanyalah dia yang dilahirkan dari sebutir cangkang telur itu sendiri.

Telur itu kemudian dipecahkan ke dalam wajan penggorengan. “Ini adalah hidupmu ketika kamu tidak memiliki kepercayaan terhadap Tuhan. Tuhan akan melakukan sesuatu dan kamu akan menjadi seperti telur dadar ini nantinya,” kata ibunya melanjutkan perkatannya tadi.

Anak tersebut sangat kaget dengan apa yang ibunya katakan. Tak sampai situ, nasihat ibunya pun terus berlajut sembari menggoreng telur yang sudah dipecahkan tadi.

“Di lain sisi, ketika kamu percaya kepada Tuhan, kamu akan terlahir sebagai manusia yang sebenarnya, kecuali kamu tidak melakukan apa-apa terhadap kepercayaanmu itu. Tuhan akan melindungimu sebagaimana induk ayam melindungi telurnya. Namun, apabila induk ayam itu sudah muak, maka dia akan membiarkan telurnya dijual dan berakhir seperti yang ada di penggorengan saat ini.” 

Dari sini, bisa dilihat bahwa si ibu ingin meyakinkan dan mendorong anaknya untuk percaya terhadap keberadaan Tuhan.

Ini akan menjadi cerita yang sangat berbeda ketika anak itu lahir di dunia modern seperti sekarang ini. Di samping mengilustrasikan kehidupan sebagai sebutir telur, cerita itu akan lebih condong menjadi debat tentang asal-usul telur—apakah telur atau ayam dahulu yang ada di bumi ini.

Ini bukan berarti bahwa anak yang lahir di masa modern tergolong buruk dalam hal spiritual, tetapi ini untuk memeringatkan bahwa dunia kita telah berubah seiring bertambahnya waktu. Dengan semakin banyaknya kemajuan teknologi dan sains, banyak orang sedang menghadapi krisis kepercayaan saat ini.

Sekarang ini, ada 2 perspektif orang dalam memandang agama: perspektif baru yang menganggap agama tidak lagi relevan atau kadaluwarsa dan perspektif umum yang menganggap agama masih menjadi hal yang fundamental. Nyatanya, di negara barat, kebanyakan dari generasi muda mereka lebih mengacu kepada perspektif baru tentang agama.

Dalam survei yang dilakukan oleh British Social Attitudes pada 2016, sekitar 71 persen orang yang berumur 18 hingga 24 tahun tidak memiliki agama sama sekali. Bahkan, Gallup poll menyatakan 76 persen orang di Amerika melepas pengaruh agama dari diri mereka dengan 38 persen orang berhenti mengunjungi tempat ibadah dan 38 persen orang menganggap agama sudah kadaluwarsa.

Di lain sisi, Pew Research Center menyatakan kebanyakan negara di Asia dan Afrika masih menganggap agama berperan penting dalam kehidupan mereka—dengan Indonesia memiliki persentase paling tinggi yaitu 83 persen.

Mungkin saja benar apabila negara maju memiliki kecenderungan untuk menjadi lebih sekuler dibanding negara berkembang. Orang-orang yang tinggal di negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, dan lainnya lebih tertarik terhadap isu pengembangan teknologi dan sains. Mereka adalah bukti nyata dari berkembangnya perspektif baru mengenai agama. Mereka ingin dengan bebas mengeksplor semua yang ada di dunia ini.

Teori sains, strategi bisnis, dan beberapa teknologi modern nan canggih kebanyakan datang dari negara-negara maju. Universities of Bristol dan Tennessee menguak bahwa negara dengan persentase kecil orang yang masih percaya agama diprediksi memiliki pertumbuhan yang cepat dalam hal ekonomi.

Di lain sisi, perspektif kedua mengenai pandangan agama di masa modern ini terlihat muncul diantara negara-negara berkembang dengan persentase yang tinggi. Lebih spesifik, hal ini banyak terjadi pada negara yang kaya akan budaya seperti kebanyakan negara di Asia dan Afrika.

Itu karena agama sendiri adalah budaya yang bertahan dan berkembang di suatu wilayah tertentu. Orang-orang di kawasan tersebut masih memandang bahwa agama masih relevan, dan itulah mengapa setiap aspek dalam kehidupan mereka selalu berdasar pada agama. 

Hal ini tidak menutup kemungkinan bagi negara-negara tersebut untuk lebih berkembang. Survei di atas juga menyatakan bahwa negara denga persentase tinggi orang yang masih percaya agama akan mengalami perkembangan ekonomi yang signifikan, tetapi ada satu syarat yang harus ditaati yaitu dengan saliing menghormati dan toleransi terhadap hak bagi setiap individu.

Setiap orang yang tinggal di dunia ini pasti punya tujuan akhir untuk meraih kebahagiaan dan mengatasi penderitaan yang dialami. Berbicara mengenai rasa sakit dan kesenangan, ada dua kategori berkaitan dengan hal tersebut, yakni fisik dan mental. 

Mari kita lebih fokuskan kepada level mental yang mana memiliki hubungan yang dekat dengan agama. Sebagian orang berpendapat bahwa agama mampu membawa kenyamanan dan kedamaian secara mental dalam kehidupan mereka, dan ini mungkin menjadi petunjuk bahwa kemungkinan di masa modern ini orang masih bisa percaya akan sesuatu yang tidak bisa dilihat.

Dari sisi sejarah, saat orang menghadapi situasi keputusasaan, mereka akan menggunakan keyakinan yang dimiliki untuk membawa harapan dan kenyamanan. Sebagai contoh, kita sebagai manusia selalu mencari pasangan hidup dengan tujuan untuk memperoleh kebahagiaan dan memiliki seseorang yang selalu ada disamping kita. Saat kita mengalami situasi yang sangat buruk pun, paling tidak ada seseorang yang menemani kita untuk memberi rasa aman dan nyaman.

Namun, pasangan itu hanyalah seorang manusia yang statusnya sama dengan kita. Kita tidak bisa berkspektasi lebih dari mereka. Tuhan, dalam bentuk agama, ada untuk memberi apa yang manusia butuhkan. Tuhan memiliki kekuatan yang tak terhingga dan tak ada batasnya.

Banyaknya kasus bunuh diri yang menyangkut generasi muda dapat menjadi salah satu bukti melemahnya ajaran agama. Stress bukanlah hal yang menjadi alasan utama dalam kasus ini, melainkan hanya menjadi pemicu. Kesendirianlah yang menjadi alasan banyaknya kasus bunuh diri pada generasi muda.

Mereka tak lagi memiliki seseorang yang selalu ada di sampingnya saat situasi buruk melanda. Tanpa disadari kesendirian akan otomatis datang saat masalah juga datang ke dalam tubuh kita. Dengan memiliki kepercayaan, kita memiliki Supernatural Power atau Tuhan di sisi kita. Agama juga akan membentuk suatu komunitas yang memiliki kesamaan perspektif sehingga bisa saling support satu sama lain.

Itulah mengapa agama memberi kenyamanan mental bagi kehidupan manusia, dan ini juga alasan mengapa di era modern ini orang tetap membutuhkan agama.

Dunia kita berubah seiring berjalannya waktu, juga dengan pikiran kita. Kita, sebagai manusia, tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Kita tidak bisa menyimpulkan apabila agama akan menghilang dari kehidupan sebagai dampak dari perkembangan teknologi dan sains.

Mungkin saja agama tak akan pernah mati. Mungkin saja agama akan menjadi lbih kuat atau lemah. Mungkin saja kepercayaan besar selanjutnya baru saja dimulai. Tidak ada yang tahu tentang hal itu. Yang bisa kita lakukan sebagai manusia hanyalah saling menghormati dan memberi toleransi terhadap sesama manusia sehingga kebahagiaan bisa didapat dan dirasakan bersama-sama.