Masih dalam suasana International Women’s Day, kita melihat bahwa sekian banyak kalangan dari berbagai belahan dunia beramai-ramai memperingatinya, mulai dari kampanye damai hingga sekadar memperbincangkannya dalam forum-forum tertentu. Ada juga yang menyemarakkan momen ini dalam bentuk tulisan, baik yang bersifat akademis maupun populer.

Betapapun demikian, semua memiliki pesan yang sama, menuntut perempuan untuk dapat memperoleh tempat yang lebih ramah di muka bumi ini, mendapat kesempatan yang setara dalam segala hal dengan kaum laki-laki, sebab fakta sejarah menunjukkan bahwa perempuan lebih banyak mendapatkan penindasan (struktural dan kultural), kekerasan (fisik dan psikis), dan diskriminasi dibanding mitra laki-lakinya.

Menurut mereka, ketimpangan ini bukan hanya sekadar disebabkan oleh konstruksi budaya patriarki yang telah berurat akar, melainkan juga karena sebagian ajaran agama yang dianut yang terkesan melegitimasi dan mengonfirmasi tindakan tersebut, maka wajar jika dekade belakangan mulai muncul feminis agamawan yang hendak melakukan penafsiran ulang atas sumber-sumber suci yang dianggap tidak ramah terhadap perempuan.

Sebut saja Amina Wadud, seorang ulama feminis Afro-Amerika yang berani melakukan terobosan untuk menjadi imam salat di mana terdapat makmum laki-laki di belakangnya. 

Daya dobraknya ini membuat perempuan-perempuan lain mengikuti jalannya, seperti Pamela K. Taylor, seorang cendekiawan muslim(ah) Amerika yang menjadi salah satu pionir imam perempuan dalam salat hari raya yang di dalamnya terdapat makmum pria-wanita yang bercampur baur.

Kajian tentang perempuan (seksualitas dan gender) akhirnya menjadi salah satu perbincangan utama di abad 21 ini, tak terkecuali di Indonesia. Masih di dalam ranah agama, muncul para “pembaharu” seperti KH Husein Muhammad yang secara vokal menyuarakan dan membela hak-hak perempuan Muslim yang telah banyak direnggut oleh kaum laki-laki.

Kemudian disusul “muridnya” yakni Faqihuddin Abdul Kadir yang menyusun sebuah buku Qira’ah Mubadalah yang secara komprehensif mencoba untuk melakukan tafsir ulang atas sumber-sumber yang terkesan merendahkan perempuan.

Di kalangan perempuan sendiri ada Etin Anwar, seorang cendekiawan muslim(ah) Indonesia yang menjadi staf pengajar di Amerika. Di dalam bukunya yang berjudul Gender and Self in Islam (telah diterjemahkan oleh Mizan, 2017), dia mencoba untuk membongkar teks (suci maupun literatur ulama) maupun teori-teori berbau ketidakadilan gender yang telah secara taken for granted diterima oleh umat Muslim sepanjang masa.

Masa Depan Gender

Tetapi, siapa yang menyangka bahwa masa depan, sebagaimana yang diprediksi oleh Ian Pearson, seorang futurolog terkemuka dari Amerika, dalam bukunya You Tomorrow, dunia adalah untuk kaum perempuan dengan ditandai kemerosotan tajam spesies laki-laki?

Bukan lagi sekadar kesetaraan dan ramah perempuan, tetapi lebih jauh bahwa perempuan bisa menjadi “penguasa” yang bisa “menghegemoni” bumi. Dunia akan lebih, dan akan jauh lebih, keperempuanan, yang disebut oleh Pearson sebagai feminisasi lingkungan dan budaya. Prediksi ini bukan suatu omong kosong, sebab menurut teorinya, karakteristik manusia dapat berubah 180 derajat hanya dalam waktu 30 tahun saja. Pearson mengungkapkan:

Pikirkan, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengubah homoseksualitas dari sesuatu yang dikecam (oleh agama) hingga LGBT menjadi suatu tren? Atau berapa lama waktu yang dibutuhkan bagi aborsi untuk berubah dari sesuatu yang terlarang bagi perempuan, lantas menjadi hak mereka untuk memilih? Masing-masing hanya membutuhkan waktu tiga dekade untuk berbalik 180 derajat penuh.

Prediksi ini bukan saja karena dekade belakangan umat manusia terus-menerus mengarah pada pembelaan pada kaum perempuan, tetapi juga disebabkan oleh fakta bahwa spesies laki-laki menuju jurang kepunahan. 

Dan paparan bahan kimia rumah tangga seperti phthalates[1], produk parfum, plastik, produk makanan, yang mengakibatkan gangguan endokrin[2] adalah salah satu faktor utamanya. 

Riset dari Arctic Measurement and Assessment Program, sebagaimana yang dikutip oleh Pearson, menemukan fakta bahwa di tahun 2007 lebih banyak dua kali lipat anak perempuan dilahirkan dibanding laki-laki. 

Bahkan kalaupun seorang ibu melahirkan anak laki-laki, yang jika selama kelahirannya secara rutin terpapar zat kimia tersebut, anak yang dilahirkannya akan mengalami feminisasi kimia yang dapat membatasi perkembangan maskulinitas mereka serta memiliki kesuburan yang berkurang (jumlah sperma telah menurun drastis selama beberapa dekade).

Konsekuensi dari hal ini ialah meningkatnya lelaki metroseksual, akan lebih banyak homoseksual dan biseksual daripada sebelumnya, semakin banyak permintaan perubahan jenis kelamin, dan kombinasi-kombinasi kompleks lainnya. 

Pun, “kita akan melihat arah perubahan kemajuan menuju area yang secara tradisional disukai oleh ilmuwan dan insinyur perempuan, serta menjauh dari area yang disukai oleh laki-laki.” 

Uniknya, seperti yang disampaikan oleh Sue Palmer dalam bukunya yang berjudul 21st Century Boys, masyarakat dunia khususnya Barat, termasuk yang dibawa oleh media dan industri, merestui tren ini.

Alternatif

Apakah kondisi yang demikian adalah sehat? Dan apakah kita menginginkan dunia masa depan yang dipenuhi dengan perempuan dan lelaki yang feminin? Pearson memilih untuk berkata tidak, sebab baginya laki-laki atau kemaskulinan juga perlu eksis di muka bumi sehingga menciptakan keseimbangan.

Tetapi bagaimana caranya? Apakah pemerintah akan membayangkan untuk meregulasi kewajiban berpoligami? Oh seperti manusia modern sangat menolak hal tersebut.

Pearson kemudian mengatakan bahwa, meskipun masih jauh dari perealisasian, teknologi dan ilmu biologi masa depan memungkinkan sepasang manusia, termasuk lesbian (dikarenakan populasi perempuan yang meningkat tajam), untuk memiliki keturunan.

Hari ini pasangan sesama jenis diperbolehkan untuk memiliki bayi dengan cara menggunakan donor dari pihak ketiga. Pasangan lesbian bisa melalui donor sperma sedangkan pasangan homoseksual bisa memanfaatkan ibu pengganti. Cara ini telah dilakukan oleh Barrie dan Tony Drewitt-Barlow, pasangan gay pertama di Inggris yang akhirnya memiliki anak setelah menyewa rahim dari seorang wanita bernama Tracie McCune.

Begitu pun dengan Christo dan Theo Menelaou, sepasang gay yang memiliki tiga anak kembar. Dikatakan bahwa dua embrio, satu dibuahi oleh sperma Christo dan satunya lagi dari milik Theo, ditanam di dalam rahim wanita pendonor yang ternyata dalam masa sepuluh minggu kehamilannya, hasil scan menunjukkan embrio membelah dan menunjukkan kembar tiga, dua di antaranya kembar identik.

Walaupun demikian, bayi tersebut (dari dua pasangan yang disebut di atas) belum bisa dikatakan sepenuhnya adalah bayi mereka secara genetika karena masih meminjam “sesuatu” dari pihak lain.

Tetapi kabar baiknya, seorang peneliti Stem Cell Biology dari Universitas Newcastle, Prof. Karim Nayernia, telah membuat kemajuan yang berarti dalam bidang ini. Ia berhasil menciptakan sel sperma primitif dari embrio perempuan.

Caranya ialah dengan membagi kedua gen menjadi sperma yang diciptakan dari sumsum tulang salah satu perempuan yang kemudian dapat digunakan untuk membuahi sel telur dari pasangannya sehingga pasangan lesbian bisa memiliki anak biologisnya sendiri. 

Hanya saja karena perempuan tidak memiliki kromosom Y, artinya mereka hanya bisa menghasilkan anak perempuan, kecuali jika teknologi mendatang dapat mendesain atau merekayasa sesuatu menjadi kromosom Y. Dan kemungkinan tersebut akan senantiasa terbuka lebar.

Tentu saja praktik dan uji coba ini akan menimbulkan kehebohan dan perdebatan etika, apalagi jika dinilai dari sudut pandang agama, tetapi bagi Pearson, cepat atau lambat manusia akan tetap melakukannya.

Dengan demikian soal kepunahan umat manusia yang dikhawatirkan oleh kalangan agamawan pada akhirnya tidak terlalu ditakutkan lagi, setidaknya bagi kalangan sekuler. Bahkan dengan tatapan yang sangat optimistik, melangkah lebih berani daripada Yuval Noah Harari yang mengatakan bahwa manusia mungkin akan memiliki umur yang begitu panjang.

Pearson memprediksikan bahwa manusia masa depan akan sangat mungkin untuk hidup abadi dengan cara memindahkan otak/kesadarannya ke komputer atau tubuh android, meskipun tubuh aslinya (organik) memang mengalami kematian.

Catatan

[1] Adalah sekelompok zat yang banyak digunakan dalam produk sehari-hari, seperti mainan anak-anak, mobil, peralatan medis, formulasi parfum, dan perawatan kecantikan. 

[2] Adalah penyakit yang terkait dengan kelenjar endokrin, yaitu jaringan kelenjar penghasil hormon. Gangguan ini merupakan sinyal kimia yang dikeluarkan melalui aliran darah.