Seiring dengan berjalannya waktu, kehidupan manusia terus mengalami perkembangan baik dari segi ilmu pengetahuan maupun teknologi. Berangkat dari ketidaktauhan manusia serta rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga membuat manusia terus dan terus melakukan berbagai penelitian.

Pada zaman lalu manusia mengalami 3 masalah yg sangat fundamental yaitu kelaparan, penyakit, dan perang, namun Saat ini manusia menyakini bahwa ketiga masalah tersebut dapat dikendalikan atau menjadi tantangan-tantangan yang bisa dicarikan solusinya (Harari, 2015).

Memang kita tidak bisa menghindari terjadinya bencana alam, pandemi dan hal lain yang sejenis. Namun setidaknya kita dapat mengendalikan atau mengantisipasi terjadinya peningkatan jumlah kematian saat hal tersebut terjadi.

Eksistensi Manusia

Eksistensi manusia atas makhluk hidup lainnya sebenarnya telah terjadi sejak dulu. Pada zaman dahulu manusia sering melakukan perburuan pada hewan-hewan besar. 

Hewan besar membutuhkan jangka waktu yang lama untuk dapat menghasilkan keturunan, sedangkan disisi lain jumlah hewan yang mati akibat perburuan semakin tinggi.

Hal ini menyebabkan angka kematian tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah kelahiran, yang pada akhirnya berujung pada terjadinya kepunahan.

Jika pada zaman dahulu penghuni bumi atau penguasa bumi adalah hewan- hewan besar, maka tidak dengan saat ini. Bahwa dengan laju reproduksi manusia yang begitu cepat menyebabkan populasi meningkat drastis.

Hewan besar maupun hewan yang tinggal di alam liar pada masa kini banyak yang terdomestifikasi, baik di kebun binatang, perternakan maupun di masing- masing rumah manusia.

Dengan kemampuan berfikirnya manusia telah mampu mengalahkan eksistensi hewan-hewan besar dan liar yang menjadi penguasa bumi sebelumnya.  Pada hakikatnya saat ini manusia telah meraih kemenangan atas itu.

 

Menuju masyarakat utopis atau distopis 

Istilah utopia berasal dari kata Yunani ou (οὐ), yang artinya tiada dan topos (τόπος) yang berrati tempat. Pada abad ke-17, istilah tersebut mulai diterapkan untuk menyebut tempat ataupun masyarakat yang dianggap sempurna atau ideal.

Sedangkan Distopia merupakan antomin dari utopia. Distopia sering kali dicirikan dengan dehumanisasi, pemerintahan totaliter, bencana lingungan, atau karakteristik lainnya sehubungan dengan kemerosotan nilai secara dahsyat dalam masyarakat.

Manusia terus menggali potensi diri sehingga mampu menciptakan segala hal yang dapat menunjang dan mempermudah kehidupannya. 

Kita seolah sedang menuju masa depan utopis, atau menjadi masyarakat yang ideal dengan segala akses kemudahan, jauh dari kemiskinan, kelaparan, serta hal lainnya. Namun benarkah demikian?

Kenyataannya terjadi pergeseran pemikiran dan kepentingan, dimana rasa kemanusiaan atau humanisasi mulai hilang sebagai jati diri manusia. Saat ini manusia bukan lagi mengindahkan kepentingan bersama, karena kepentingan individual berada di atas segalanya.

Jika dengan kemajuan dibidang kesehatan telah membuat kita terhindar dari berbagai macam penyakit yang dulu menyebabkan dampak kematian yang begitu besar, seperti cacar air, flu singapura, dan seterusnya.

Dengan kemajuan riset dibidang kesehatan, manusia juga dapat melakukan mutasi pada berbagai macam virus dan bakteri patogen, yang mungkin dapat menyebabkan gejala penyakit lebih vatal dari sebelumnya.

Jika tidak dimanfaatkan dengan benar tentu hal tersebut dapat dijadiakan sebagai senjata biologis. Jika dulu perang dilakukan dengan baku hantam, namun saat ini perang dapat terjadi secara senyap tanpa kita sadari.

Dengan kamajuan pola pikir manusia juga telah mampu menghasilkan sesuatu yang dapat mempermudah kehidupan. Kita tentu sangat berterima kasih pada ilmuwan yang berhasil menemukan freon, yang dapat dimanfaatkan untuk pendingin ruangan maupun makanan.

Kita tentu berterima kasih pada ilmuwan yang berhasil menemukan plastik, sehingga membuat makanan dapat di kemas dan didistribusikan ke penjuru dunia.

Kita juga tentu berterima kasih pada ilmuwan yang berhasil menciptakan kendaraan bermotor, yang membuat kita dengan mudah dan cepat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dan seterusnya.

Namun dibalik besarnya manfaat yang didapatkan, ada dampak tragis yang dihasilkan. Freon yang dapat membuat lapisan ozon semakin cepat menipis, plastik yang sangat sulit terurai di alam, asap kendaraan bermotor yang mengakibatkan pencemaran dan juga mengancam kesehatan, dan seterusnya.

Dampak-dampak tersebut terus dihasilkan secara berkelanjutan hingga pada akhirnya bumi yang kita tinggali saat ini mengalami masalah yang begitu kompleks. Terjadinya pencemaran hingga pemanasan global telah membuat keberadaan tumbuhan, hewan bahkan kehidupan manusia menjadi terancam.

Sepanjang sejarah peradaban tidak ada satu makhluk pun yg dapat mengubah tatanan di bumi. Namun dengan akal yang dimiliki manusia telah mampu menembus batas ruang dan waktu.

Bagaimana kekuatan global mengalami pergeseran dari kekuatan utama evolusi atau seleksi alam dan kemudian digantikan oleh kekuatan teknologi baru tingkat dewa, seperti kecerdasan buatan dan rekayasa genetika.

Lalu benarkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menggiring manusia menuju utopis atau malah sebaliknya menuju distopis? 

kita sendiri yang dapat menentukannya. Karena sejatinya manusia merupakan agen tunggal yang paling berperan penting dalam terjadinya perubahan ekologi global.