Soekarno, dalam Memudakan Pengertian Islam mengatakan “Siapa yang memegang pemuda pada hari sekarang, dia juga memegang hari kemudian”  (Thalib dan Fajar, 1985:18). Kesadaran Soekarno adalah kesadaran futuristis. Ia menyadari bahwa generasi tua adalah generasi yang akan lenyap. Karena itu, mempersiapkan pemuda sedari dini adalah sebuah persiapan untuk membangun masa depan agar lebih cerah.

Cita-cita yang disusun untuk lebih baik dalam berperadaban adalah cita-cita banyak orang. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, perjuangan dilakukan dalam jangka panjang. Berperadaban sesuai dengan cita-cita membutuhkan proses dan lika-liku hambatan. Hambatan demi hambatan harus bisa dilalui dan diselesaikan. Karena itu, pemuda menjadi semacam aset berharga sebagai pelanjut generasi tua. 

Namun, "memegang pemuda" tidak seperti memegang pemukul bedug. "Memegang pemuda" lebih seperti memegang belut. Bagi yang tak biasa menangkap belut, akan kesulitan untuk memegangnya. Nilai jual belut yang lumayan membuat banyak orang berburu belut. Mereka yang tak punya pengalaman memegang belut pun melakukan jalan pintas seperti menyetrum atau meracun.

Jalan pintas untuk "memegang pemuda" itu juga banyak terjadi. Sebagian dilakukan oleh "pencari belut", sebagian lagi dilakukan oleh pemuda sendiri yang belum memiliki kesadaran, sehingga seperti proses bunuh diri. Tak semuanya jalan pintas, seperti "menyetrum" atau "meracun" efektif bisa melumpuhkan belut. Justru terkadang, intensitas racun atau setrum yang kecil tapi dilakukan secara terus menerus dapat membuat belut lumpuh total, dengan tanpa menyadari bahwa ia disetrum atau diracun. Begitu pun dengan generasi muda.

Sayangnya, tukang setrum dan tukang racun dalam proses pembelajaran generasi muda adakalanya dilakukan orang-orang tua sendiri. Banyak orang tua tak menyadari tentang orientasi penanaman pengalaman dan pengajaran kepada anak-anak. Kita bisa melihat cerita anak di Kompas 26 Juli 2015, sebagai misal. Cerita anak dengan judul Rautan Boneka yang Pecah ditulis oleh Angelina Sulistyaningsih masih bernuansa Lebaran 1436 H dengan tema cerita yang diusung adalah 'Idul Fithri.

Sekilas, ketika selesai membaca cerita anak tersebut, kita langsung mendapati bahwa tokoh yang ditampilkan serta pilihan nama karakter mewakili generasi Islam. Di sana tokoh utama yang bermain adalah Zalwa dan Zahra. Mereka berdua adalah saudara sepupu. Ceritanya, Zalwa memiliki rautan pensil baru berwarna pink dengan bentuk boneka mirip Barbie. Ingat, rautan bentuk Barbie.

Zahra meminjam rautan itu karena kebetulan pensil Zahra belum diraut. Tapi rautan baru itu jatuh dan pecah karena ketika sedang meraut pensil, Zahra ditabrak oleh Andre dan teman-temannya yang sedang berlari-lari. Zalwa marah, Zahra bingung. Mereka telibat perang dingin, dan Zalwa melakukan gerakan mogok menegur Zahra. Zahra pun merasa bersalah.

Kisah Zalwa dan Zahra tersebut memuat gagasan yang menembus batas imajinasi anak-anak. Paling tidak bisa dikatakan demikian karena, ada “paksaan” kemandirian untuk seorang anak kecil berwirausaha. Zahra tidak berani bilang kepada orang tuanya kalau sudah merusak rautan Zalwa sehingga Zahra memiliki “inisiatif” pada tiap sore hari, berjualan kolak dan asinan di depan sebuah kampus.

Kolak dan asinan itu buatan Tante Mira, tetangga Zahra. Perasaan tanggung jawab dalam diri Zahra “tiba-tiba” mencuat karena ingin mengganti rautan pensil tersebut. Di hari Lebaran, ketika semua keluarga berkumpul, Zalwa sakit. Zahra menengok dan memberikan rautan baru yang sama persis kepada Zalwa. Lebaran pun penuh tanggung jawab dan penuh maaf disertai keprihatinan dan kekaguman.

Namun, perlu diingat bagaimana rautan berbentuk Barbie itu jadi sebab “perang dingin”. Boneka Barbie, yang dirancang seperti gadis cantik, tinggi, langsing dan seksi sempurna itu banyak mempengaruhi generasi anak-anak. Bahkan banyak dari mereka benar-benar gandrung. Aksessoris yang melibatkan bentuk atau gambar Barbie, baik itu orisinal maupun bajakan telah menginvasi dunia anak-anak. Kita bisa melihat bagaimana buku tulis, binder, tas, kaos, karpet tidur, kasur lantai, pasta gigi dan sebagainya bergambar Barbie.

Barbie telah menjadi semacam orientasi kecantikan ideal bagi banyak orang dan itu pula yang terjadi dalam dunia anak-anak perempuan. Konsep cantik didiktekan oleh boneka Barbie dan banyak orang tua sepertinya juga mendukung hal tersebut. Orang tua tak banyak yang mampu menolak ketika putri-putrinya merengek minta boneka Barbie, kaos bergambar Barbie, tas sekolah bergambar Barbie dan segala pernik yang berkaitan dengan Barbie, Barbie, Barbie.

Idealitas kecantikan menjadi komoditas yang diperjual-belikan dan memberi hunjaman imajinasi untuk meniru idealitas kecantikan tersebut. Cantik pun akhirnya menjadi barang jualan. Ini akan membuat anak-anak mengagungkan “kultus pesona”, dimana dampak yang terjadi selanjutnya adalah iklan lowongan pekerjaan yang diskriminatif. 

Lihat saja iklan-iklan lowongan pekerjaan, khususnya yang ada di koran, banyak yang membuat persyaratan yakni: penampilan menarik. Kultus pesona ini akan menyebabkan semacam pendangkalan, dimana kesempurnaan adalah bentuk lahiriah dan bukan bathiniah. Dan generasi Islam pun akan menjadi generasi Barbie. Mengedepankan lahiriah dari pada bathiniah.